HOME LANGKAN TINGKOK

  • Rabu, 31 Desember 2025

Menilik Funfsi Sosial Dan Keagamaan Surau Disekitar Makam Syekh Burhanuddin

Menilik Funfsi Sosial dan Keagamaan Surau Disekitar Makam Syekh Burhanuddin
Menilik Funfsi Sosial dan Keagamaan Surau Disekitar Makam Syekh Burhanuddin

Menilik Funfsi Sosial dan Keagamaan Surau Disekitar Makam Syekh Burhanuddin

Oleh: Arizkia Putri
 
Surau adalah salah satu bangunan yang berpengaruh dan cukup penting dalam kebudayaan Minangkabau. Sejak dahulunya banyak surau yang bisa dijumpai di daerah Minangkabau. 

Salah satu daerah yang saat ini masih memiliki banyak surau adalah daerah Ulakan, Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat di Kawasan sekitar makan Syekh Burhanuddin. Di kawasan ini terdapat dari 20 jenis surau yang diberi nama sesuai nama daerah yang ada di Pariaman.

Di daerah ini, surau-surau memiliki peran yang sangat hidup karena aktivitas keagamaan dan budaya selalu berlangsung sepanjang tahun, terutama pada momen-momen tertentu seperti pelaksanaan tradisi Basapa.

Surau menjadi pusat tempat berkumpulnya jamaah yang datang dari berbagai daerah, sehingga bangunan ini bukan sekadar tempat istirahat, tetapi juga ruang yang menghubungkan masyarakat dengan sejarah dan nilai-nilai keagamaan yang diwariskan oleh Syekh Burhanuddin.

Sejak dulunya, surau telah menjadi tempat belajar agama bagi masyarakat dan juga menjadi tempat tidur dan berkumpul bagi anak laki-laki yang belum bekeluarga. Aktivitas belajar mengaji, belajar tajwid, belajar bahasa Arab, dan terkadang belajar tentang fiqih dilakukan secara rutin yang dilakukan setelah shalat isya. 

Biasanya cara belajar di surau adalah cara belajar yang sederhana namun tetap mementingkan pengetahuan. Kehadiran surau sangat memberi pengaruh yang cukup besar di daerah Minangkabau, hal ini dikarenakan ketika belajar di surau tidak perlu mengeluarkan biaya apapun, sehingga siapapun bisa mendapatkan pembelajaran dan ilmu yang sama.

Tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah dan pendidikan, surau juga menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk kegiatan sosial. Di sekitar Makam Syekh Burhanuddin salah satunya, surau-surau digunakan sebagai ruang musyawarah, tempat singgah bagi orang yang beribadah shalat 40, bahkan lokasi istirahat bagi para peziarah. 

Ketika tradisi Basapa berlangsung dan banyaknya peziarah yang datang, fungsi sosial ini menjadi semakin terasa, apalagi surau disekitar makam syekh Burhanuddin yang dikelompokkan sesuai nama daerah yang ada di Padang Pariaman. 

Banyak surau dijadikan tempat untuk menginap, memasak, dan menyediakan fasilitas sederhana bagi tamu yang datang. Masyarakat secara gotong royong mengatur keperluan jamaah, dari menyediakan air, dapur umum, sampai menjaga kebersihan lingkungan

Surau di sini bukan hanya bangunan keagamaan, tetapi juga simbol keramahtamahan masyarakat Ulakan dalam menyambut tamu dengan penuh hormat.

Surau-surau di sekitar makam juga berperan dalam pelestarian tradisi keagamaan yang sudah turun-temurun. Tradisi zikir, doa bersama, serta ritual-ritual tertentu dalam tarekat Syattariyah sering dilakukan di surau sebelum dan sesudah pelaksanaan Basapa. 

Kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi praktik spiritual, tetapi juga sarana memperkuat hubungan antara masyarakat dengan sejarah ajaran Syekh Burhanuddin. Banyak jamaah dari luar daerah datang ke surau untuk mengikuti pengajian tentang kisah hidup beliau, pemahaman terhadap ajarannya, serta bagaimana Islam berkembang di wilayah Ulakan. 

Dengan demikian, surau berfungsi sebagai tempat pewarisan nilai, tempat di mana generasi sekarang dapat memahami dan menghargai perjuangan ulama terdahulu.

Surau di sekitar Makam Syekh Burhanuddin juga memiliki fungsi simbolis yang sangat kuat. Bagi masyarakat Minangkabau, surau adalah bagian dari identitas adat dan agama. 

Disinilah nilai-nilai kebersamaan, kesederhanaan, dan kedisiplinan diajarkan. Banyak generasi muda yang tumbuh dengan melihat bagaimana surau menjadi tempat bagi orang tua berkumpul, berdiskusi, dan saling membantu. 

Ada kebanggaan tersendiri bagi masyarakat ketika melihat surau mereka ramai oleh jamaah yang datang dari berbagai daerah. Surau juga menjadi tanda keterikatan dan kerukunan  antarwarga. Ketika ada kegiatan besar seperti Basapa, masyarakat dari surau-surau lain datang membawa panji-panji masing-masing, menandakan identitas kelompok mereka. 

Tradisi seperti ini memperlihatkan bahwa surau bukan sekadar bangunan, tetapi simbol persatuan dan sejarah panjang masyarakat Ulakan. Selain fungsi keagamaan dan sosial, keberadaan surau juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. 

Ketika banyak peziarah datang, aktivitas ekonomi warga meningkat. Di sekitar surau, biasanya ada pedagang makanan, penjual minuman, dan pedagang perlengkapan ibadah. Aktivitas jual beli ini sangat membantu masyarakat dalam meningkatkan pendapatan, terutama pada masa-masa ramai kunjungan.

Banyaknya surau yang terdapat disekiatr makan Syekh Burhanuddin ini juga tidak terlepas dari tantangan dan hambatan. Pada zaman sekarang, kemajuan teknologi dan perkembangan digital membuat generasi muda lebih banyak menghabiskan waktu di dunia digital daripada datang ke surau.

Banyak anak yang lebih memilih belajar agama melalui internet dibandingkan menghadiri pengajian langsung. Selain itu, kondisi bangunan surau yang sudah tua sering membutuhkan biaya besar untuk perawatan, sementara sumber dana terbatas.

Selain tantangan dan rintangan yang di hadapi, ada pula perjuangan yang dilakukan untuk menjaga agar surau tetap relevan. Hal ini dibuktikan dengan ada nya beberapa surau yang mengadakan kegiatan yang melibatkan anak muda, ada pula beberapa surau yang yang mulai memperkenalkan bagaimana fungsi dan peran surau pada masa dulunya. Selain menjadi tempat ibadah saja, tetapi juga ruang bagi anak muda untuk mengekspresikan diri secara positif. 

Masyarakat juga semakin sadar bahwa menjaga surau berarti menjaga warisan budaya. Beberapa surau sudah memperbaiki bangunan dan memberikan fasilitas yang lebih nyaman agar jamaah betah beraktivitas di sana. Adaptasi seperti ini menjadi bukti bahwa surau masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat masa kini.

Dari semua uraian tersebut, dapat dilihat bahwa surau-surau di sekitar Makam Syekh Burhanuddin memegang peranan yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat. Ia menjadi tempat ibadah, pendidikan, pelestarian tradisi, pusat sosial, bahkan ruang ekonomi. Surau juga menjadi penghubung antara masyarakat dengan sejarah panjang ajaran Syekh Burhanuddin yang telah membentuk identitas keagamaan lokal. 

Meskipun menghadapi tantangan zaman, surau tetap hidup karena nilai-nilai yang ditanamkan di dalamnya relevan bagi masyarakat: kebersamaan, gotong royong, kedisiplinan, dan penghormatan pada tradisi. Surau bukan hanya bangunan untuk salat, tetapi ruang yang menjaga keberlanjutan nilai-nilai Islam dan budaya Minangkabau dari generasi ke generasi.

Biodata Penulis: Arizkia Putri yang biasa dipanggil kia merupakan seorang mahasiswa prodi Sastra Indonesia Fakuktas Ilmu Budaya Universitas Andalas yang berada di kota Padang, Sumatera Barat


Wartawan : Arizkia Putri
Editor : melatisan

Tag :Funfsi Sosial, Keagamaan, Surau, Makam, Syekh Burhanuddin

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com