HOME PEMBANGUNAN KABUPATEN PASAMAN BARAT

  • Kamis, 7 Maret 2019

Masarakat Sejahtera, Pasaman Barat Keluar Dari Zona Daerah Tertinggal

Wagub Nasrul Abit mengadakan Rapat Minum Pagi besama Bupati Pasbar, Sahiran dan utusan Kementrian ESDM dan PDT, Kamis (73/2019) di Simpang Empat.
Wagub Nasrul Abit mengadakan Rapat Minum Pagi besama Bupati Pasbar, Sahiran dan utusan Kementrian ESDM dan PDT, Kamis (73/2019) di Simpang Empat.

Simpang Empat (Minangsatu) - Pembangunan yang telah dilakukan Pasaman Barat dan Solok Selatan, dua dari tiga daerah tertinggal di Sumatera Barat, segera mengantarkannya keluar dari kategori daerah tertinggal.

Berbeda dengan Kabupaten Kepulauan Mentawai yang masih dalam tahapan menyiapkan infrastruktur pada 4 pulau besar yang ada.

Hal ini diungkap Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit dalam rapat minum pagi di Rumah Dinas Bupati Pasaman Barat, Kamis (7/3/2019). Hadir dalam kesempatan itu, Staf Ahli Kementerian ESDM, Direktur Perendes Kementerian PDT, Bupati Pasbar, Syahiran, pimpinan perusahaan PT. Kendai Argo Atsiri, PT. Darussalam Agritama Indonesia, PT. Komoditi Nasional Indonesia, Bappeda Sumbar, dan OPD tekait dilingkungan Pemkab Pasbar.

"Kita berharap tahapan perencanaan pembangunan ini dapat dituntaskan pada tahun 2019 ini," kata Wagub, "sehingga Pasaman Barat dan Solok Selatan memasuki tahapan pengembangan ekonomi berbasis potensi produk lokal."

Nasrul Abit juga menyampaikan adanya program dari Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) yang juga membawa mitra perusahaan untuk mengembangkan potensi yang ada di Pasaman Barat, seperti kebun Alpukat, Pisang, Serai Wangi, Nilam. Tanaman ini seharusnya dapat memberikan kesejahteraan masyarakat. Jika masyarakat hidupnya sudah sejahtera, maka persoalan pendidikan, kesehatan, pemanfaatan teknologi informasi akan memberikan dampak kemajuan suatu daerah.

Begitu juga dengan Solok Selatan juga memiliki perencanaan yang matang dalam tahap proses pengembangan ekonomi masyarakat berdasarkan komoditi unggulan. Sementara di Mentawai ada tiga komoditi unggulan, keladi, pisang dan sagu. 

"Kepada Kementrian PDT tentunya program terhadap pengembangan usaha perekonomian masyarakat, bagi daerah tertinggal menjadi sesuatu yang patut untuk diperhatikan," harap Nasrul Abit.

Direktur Perencanaan dan Indentifikais Daerah Tertinggal Kementerian PDT, Rafdinal, S.Sos, MT menyampaikan, mereka datang bukan membawa terori akan tetapi duduk bersama masyarakat dan pelaku usaha, mencoba memotong jaringan yang menghambat dan menyusahkan masyarakat. Disebutkan, Alpukat yang pada petani harga hanya Rp.2000/kilo, sementara di Jakarta menjadi Rp50.000/kilogram.

"Maka kita berusaha naikan pendapatan petani menjadi Rp3 ribu/kilo bahkan jika memungkinkan harga Alpukat kita bisa menaikan ditingkat petani menjadi Rp13.5000/kilo," ujar Rafdinal. Kemudian juga mencoba melakukan kerjasama dengan pihak pengusaha dimana potensi Alpukat dan Pisang dapat dijadikan Tepung Alpukat dan Tepung Pisang.

Rafdinal menilai positif terhadap semangat kerja Wagub Nasrul Abit dan Bupati Pasbar memberi spirit baru bagi tim dari Kementrian untuk bisa bekerja lebih baik lagi. "Jarang-jarang Kepala Daerah yang serius menongkrongi usaha masyarakat daerah tertinggal untuk mampu bangkit bersaing dengan daerah maju lainnya," ungkap Rafdinal. 

Kolaborasi semangat memajukan daerah tertinggal dan produksi unggulan daerah akan memudahkan masyarakat di daerah tersebut berlomba berkreatifitas meningkatkan produk, baik jumlah maupun kualitas, yang bernilai ekspor, hingga menjadi kebanggaan masyarakat.


Wartawan : Rel
Editor : ranof

Tag :Pengembangan Ekonomi#Pasaman Barat#

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com