HOME VIRAL UNIK

  • Sabtu, 23 Mei 2026

Makna Dibalik Bararak Tunduak

Makna Dibalik Bararak Tunduak

Oleh: Muhammad Rijalul Ihsan
Mahasiswa Sastra Daerah Universitas Andalas


Minangkabau terkenal dengan adat budaya dan tradisinya. Adat budaya Minangkabau tidak terlepas dari nilai adat basandi syarak syarak basandi kitabullah atau biasa dikenal dengan ABS SBK artinya kehidupan masyarakat Minangkabau sejalan dengan agama dan adat. Dari mulai lahirnya sampai meninggalnya manusia, kehidupan masyarakat tidak lepas dari agama dan adat. Setiap nagari di Minangkabau memiliki tradisi unik yang memiliki daya tarik tersendiri, sesuai dengan mamanggan adatnya, lain lubuak lain ikannyo lain padang lain ilalangnyo, artinya adat yang berlaku di suatu nagari tersebut ditentukan oleh Kerapatan adat nagari itu sendiri, dinamakan juga dengan adat salingka nagari.

Wilayah Minangkabau terbagi dua bentuk daerah yaitu Luhak dan Rantau, Solok disebut dengan daerah Kapalo rantau ikuanyo darek. Kabupaten Solok memiliki 74 nagari dan 14 kecamatan. Nagari koto baru dulu pernah menjadi pusat pemerintahan kabupaten Solok pada tahun 1979 hingga 2001. nagari koto baru memiliki beragam tradisi mulai dari acara mambubua atau biasa di kenal dengan tujuh bulanan, cilok aia, akikah, tamek kaji, manaiak an rumah, rarak sikunik bako, maanta juadah, malapeh buntia manyaratuh hari kamatian, manjalang, dan rarak batunduak.

Bagi masyarakat koto baru puncak dalam sebuah perhelatan adalah Bararak batunduak, walaupun di zaman sekarang riuhnya pernikahan modern, masyarakat koto baru tetap mempertahankan tradisi yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya. Rarak Tunduak biasa disebut juga dengan Pai maanta nasi ka rumah marapulai dengan arak arakan, tradisi yang dilakukan oleh mempelai wanita setelah sehari berlangsungnya pesta perhelatan. Tunduak berasal dari bahasa Minang yang artinya patuh dan hormat, mempelai wanita mengantarkan makanan ke rumah pihak laki laki sebagai tanda untuk menghormati mertua dan keluarganya dan simbol bahwa telah dimulai kehidupan baru sebuah keluarga, tujuannya menjalin silahturahmi antara keluarga wanita dan keluarga laki laki.

Dalam prosesi rarak tunduak ini melibatkan kaum wanita seperti kerabat, induak bako, sumandan,sanak saudara dan tetangga sekitar untuk membawa makanan yang dibawa ke rumah pihak laki laki.
Rarak Tunduak di nagari koto baru terbagi menjadi tiga macam tingkatan sesuai dengan jenis alek yang dilakukan :


1. Alek Kaciek
Alek Kaciek adalah perhelatan yang di lakukan secara sederhana yang hanya mengundang sanak saudara dan tetangga sekitar. Jumlah orang rarak tunduak pada alek kaciak ini sebanyak 12 orang saja, terdiri dari urang gaek tunduak, ande anak daro gadang, kakak rarak, pembawa cawan, pembawa jamba dan pembawa katidiang. Untuk anak daro pada alek kaciak tidak dibolehkan memakai sunting bungo sanggua dalam prosesi bararak tunduak.

2. Alek manangah
Alek manangah juga di kenal dengan alek menyembelih kambing. Jumlah orang rarak tunduak pada alek manangah ini sebanyak 17-18 orang, terdiri dari urang gaek tunduak, pembawa dadiah, anak daro kecil, ande anak daro kecil, ande anak daro gadang, Kakak rarak, pembawa cawan, pembawa jamba, dan pembawa katidiang.

3. Alek Gadang
Alek Gadang juga di kenal dengan alek menyembelih sapi atau kerbau. jumlah orang rarak tunduak pada alek gadang ini sebanyak 22 atau 32 orang terdiri dari urang gaek tunduak, pembawa dadiah, anak daro kecil, ande anak daro kecil, ande anak daro gadang, kakak rarak, pembawa sangku, pembawa pinyaram gadang, pembawa jamba, dan pembawa katidiang nasi.

Bagi masyarakat yang bukan orang lantak (asli) nagari koto baru dan yang belum duduk niniak mamak (malakok) tidak diizinkan memakai adat sepenuh nya, ketika melakukan prosesi tunduak cuma diizinkan jumlah orang rarak nya sebanyak 9 orang saja.

Pakaian yang di pakai oleh orang pada saat melangsungkan prosesi tunduak baju kuruang basiba beludru hitam, sesamping songket silungkang atau pandai sikek, selendang merah sulaman benang emas, tingkuluak merah sulaman benang emas,

Kalung paling banyak 2 macam ( kalung pinyaram, kalung rago, kalung talam, kalung rumah gadang), gelang 2 pasang dan untuk urang gaek tunduak di khususkan memakai selendang dari kain sarung bugis.

Makanan yang di bawa dalam rarak tunduak adalah Rendang, gulai sup, pinyaram pisang, pinyaram gadang, rakik pisang, kukuh (wajik), pangek ikan, nasi lamak, dan nasi putih. Jamba dibawa dengan cawan, dulang batuduang sulaman emas dan katidiang nasi.

Waktu pelaksanaan rarak tunduak ini pada sore hari sampai malam hari, dengan rangkain prosesi yang panjang mulai dari bararak, makan bersama, berbalas pidato adat antara niniak mamak serta cadiak pandai mempelai wanita dengan pihak mempelai laki laki.

Uniknya pada tradisi tunduak ini adalah jamba atau Baban yang di bawa oleh pihak mempelai wanita, ketika pihak laki laki menyalin jamba tersebut tidak boleh di salin sepenuhnya harus ditinggalkan seperempat, artinya bahwa kita hidup tidak boleh rakus akan sesuatu hal, seperti pepatah adat nya “ ingek nan kudian, caliak nan di balakang” dan pihak laki laki mengisi bawaan dari pihak mempelai wanita tadi dengan bahan mentah seperti dasar kain, beras sipulut dan lain lain.

Hal unik lainya, urang gaek tunduak yang dibawa pergi bararak bukanlah orang sembarangan, urang gaek tunduak harus berpengetahuan lebih tentang adat budaya, karena ketika sampai di rumah mempelai laki laki urang gaek tunduak lah yang akan menjadi penanggung jawab rombongan mempelai wanita, urang gaek tunduak menjadi tempat bertanya dan berunding oleh keluarga mempelai laki laki serta urang gaek tunduak inilah yang memimpin barisan dalam arak arakan.

Di era sekarang pengaruh dari budaya luar mudah masuk sehingga mempengaruhi perubahan nilai nilai budaya dalam masyarakat, oleh karena itu sangat dibutuhkan semua peran lembaga yang terkait dalam mempertahankan adat budaya. Adat menjadi identitas suatu daerah yang memiliki ciri khas tersendiri, kita sebagai generasi penerus harus sadar akan makna dan nilai moral yang terkandung dalam setiap tradisi.

Selain peran masyarakat adat, peran lembaga pemerintahan nagari, lembaga pendidikan dan dinas pariwisata budaya juga bisa menjadi sarana untuk tetap melestarikan adat budaya. Masyarakat nagari koto baru sampai saat ini masih tetap mempertahankan tradisi rarak tunduak ini, karena tradisi tunduak merupakan pertanda bahwa prosesi perhelatan sudah berakhir dan kedua mempelai siap menjalankan kehidupan berumah tangga.

Dalam rangka mempertahankan adat dan budaya di nagari koto baru, setiap tahun kerapatan adat nagari, Bundo kanduang, dan parik paga nagari bersama pemerintahan nagari koto baru membuat event koto baru gebyar, yang di laksanakan setelah hari lebaran idul Fitri dengan tujuan supaya para perantau tetap mengetahui tentang adat tradisi yang ada di dalam nagari. Dengan event koto baru gebyar ini sebagai langkah yang tepat dalam melestarikan budaya.


Wartawan : Muhammad Rijalul Ihsan
Editor : melatisan

Tag :Makna, Dibalik, Bararak Tunduak

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com