- Sabtu, 17 Januari 2026
Macam Macam Suntiang Minang Yang Beratnya Menguji Kesabaran Pengantin
Macam Macam Suntiang Minang yang Beratnya Menguji Kesabaran Pengantin
Oleh: Andika Putra Wardana
Jika mendengar kata pernikahan adat Minang, pasti imajinasi kita langsung tertuju pada mahkota emas raksasa yang bertengger di kepala pengantin wanita.
Benar sekali, itu adalah Suntiang, ikon kecantikan yang sudah melegenda di seluruh Nusantara. Namun, tahukah kamu bahwa sebenarnya hiasan kepala ini tidak hanya terdiri dari satu model saja? Keberagaman budaya dari berbagai nagari (desa) di Sumatera Barat melahirkan macam macam suntiang Minang yang memiliki bentuk, ukuran, dan filosofi yang berbeda-beda, tergantung dari mana asal pengantin tersebut.
Secara umum, masyarakat membedakannya berdasarkan ukuran, yaitu Suntiang Gadang (Besar) dan Suntiang Ketek (Kecil). Suntiang Gadang inilah yang paling sering kita lihat di televisi atau pesta-pesta besar, khususnya yang berasal dari daerah pesisir seperti Pariaman dan Padang. Suntiang ini bisa terdiri dari 7 hingga 11 tingkatan bunga emas dengan berat mencapai 3 sampai 5 kilogram.
Bayangkan betapa kuatnya leher sang pengantin wanita menahan beban itu seharian demi tampil bak ratu. Sementara itu, Suntiang Ketek biasanya memiliki tingkatan yang lebih sedikit, sering digunakan di daerah darat (darek) atau oleh pendamping pengantin (pasumandan), namun tetap memancarkan aura keanggunan yang tidak kalah memukau.
Lebih detail lagi, jika kita telusuri hingga ke pelosok, kita akan menemukan variasi tata letak bunga yang unik. Misalnya, ada model Suntiang Pinang Baririk yang populer di daerah Solok dan sekitarnya, di mana susunan kembang goyangnya dirangkai menyerupai pohon pinang yang berbaris rapi.
Ada juga gaya Suntiang Kurai dari Bukittinggi, Suntiang Sungayang dari Tanah Datar, hingga variasi Suntiang Kambang yang melebar. Setiap lekukan dan susunan emas dalam macam macam suntiang Minang ini bukan sekadar estetika, melainkan penanda identitas kampung halaman dan status sosial keluarga yang mengadakan helat.
Pada akhirnya, apa pun jenisnya, Suntiang membawa satu pesan filosofis yang sama, "Babean barek singguluang batu" (Beban berat bantalannya batu).
Beratnya sunting di kepala melambangkan beratnya tanggung jawab yang akan dipikul oleh seorang wanita setelah menjadi istri dan ibu.
Jadi, keindahan macam macam suntiang Minang bukan hanya terletak pada kilauan emasnya, tapi pada ketangguhan mental perempuan Minang yang mampu tersenyum manis meski sedang memikul beban berat di kepalanya.
Editor : melatisan
Tag :Macam Macam , Suntiang, Minang , Kesabaran, Pengantin
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
KAMPUNG-KAMPUNG TUA MINANGKABAU YANG MASIH MENJAGA JEJAK LELUHUR
-
TRADISI PENGELOLAAN MATA AIR DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT MINANGKABAU
-
PERAN LAPAU SEBAGAI RUANG DISKUSI DAN INTERAKSI SOSIAL DALAM MASYARAKAT MINANGKABAU
-
TRADISI MENGAJI DI SURAU DAN PEMBENTUKAN KARAKTER GENERASI MUDA MINANGKABAU
-
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PANDAI BESI TRADISIONAL MINANGKABAU
-
JALAN PANJANG KEMANDIRIAN PERS KITA, CATATAN HENDRY CH BANGUN
-
TOLERANSI DAN KETEGUHAN NILAI: MENYIKAPI ISU LGBT DI TENGAH MASYARAKAT KITA
-
PERKUAT LAYANAN DASAR BERBASIS DIGITAL, PEMPROV SUMBAR LUNCURKAN SAPA SPM DAN RUNDIANG SPM
-
MELAMPAUI NASIONALISME SIMBOLIK
-
KETIKA KAMPUS BELAJAR DARI MASYARAKAT: MAKNA FOME DALAM MEMBENTUK TENAGA KESEHATAN MASA DEPAN