HOME VIRAL UNIK

  • Senin, 23 Februari 2026

Konflik Adat Dan Agama Dalam Sejarah Minangkabau, Dari Perang Padri Hingga Lahirnya Konsensus

Konflik Adat dan Agama dalam Sejarah Minangkabau
Konflik Adat dan Agama dalam Sejarah Minangkabau

Konflik Adat dan Agama dalam Sejarah Minangkabau, Dari Perang Padri hingga Lahirnya Konsensus

Oleh: Dzaky Herry Marino


Di sejumlah nagari di Sumatera Barat, ungkapan “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” masih sering terdengar dalam acara resmi maupun musyawarah adat. Kalimat itu lahir dari perjalanan panjang yang tidak selalu berjalan mulus. Konflik adat dan agama dalam sejarah Minangkabau pernah menjadi fase penting yang mengubah wajah sosial masyarakat pada awal abad ke-19.

Konflik tersebut mencapai puncaknya dalam peristiwa yang dikenal sebagai Perang Padri. Perang ini bukan sekadar perlawanan terhadap kolonial, tetapi juga bermula dari perbedaan pandangan antara kelompok adat dan kelompok agama mengenai praktik kehidupan masyarakat Minangkabau saat itu.

Awal Ketegangan antara Kaum Adat dan Kaum Padri

Pada awal abad ke-19, sekelompok ulama yang kemudian dikenal sebagai Kaum Padri kembali dari Mekkah dan membawa semangat pembaruan Islam. Mereka mendorong penerapan ajaran agama secara lebih ketat dan menentang sejumlah praktik yang dianggap tidak sejalan dengan syariat.

Di sisi lain, kaum adat mempertahankan tatanan sosial yang telah lama berlaku dalam sistem matrilineal Minangkabau. Praktik adat, struktur penghulu, serta kebiasaan sosial menjadi bagian dari identitas yang sudah mengakar.

Perbedaan pandangan itu berkembang menjadi ketegangan terbuka. Konflik adat dan agama dalam sejarah Minangkabau kemudian berubah menjadi benturan fisik yang melibatkan berbagai nagari.

Perang Padri dan Campur Tangan Belanda

Ketegangan tersebut memuncak dalam Perang Padri yang berlangsung sejak awal 1800-an hingga 1837. Pada fase awal, perang terjadi antara Kaum Padri dan Kaum Adat. Namun situasi berubah ketika sebagian pemuka adat meminta bantuan kepada pemerintah kolonial Belanda untuk menghadapi kelompok Padri.

Masuknya Belanda memperluas konflik menjadi perang melawan kekuatan kolonial. Tokoh seperti Tuanku Imam Bonjol dikenal dalam fase perlawanan terhadap Belanda hingga akhirnya ditangkap dan diasingkan.

Perang Padri menjadi titik balik dalam hubungan antara adat dan agama di Minangkabau. Konflik yang semula bersifat internal kemudian berkembang menjadi bagian dari sejarah kolonial di Sumatera Barat.

Lahirnya Konsensus Adat dan Syarak

Setelah perang berakhir, muncul kebutuhan untuk meredakan ketegangan sosial yang berkepanjangan. Dari sinilah lahir kesepahaman yang kemudian dirumuskan dalam prinsip “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”.

Prinsip ini menegaskan bahwa adat dan agama tidak lagi diposisikan sebagai dua kekuatan yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Adat dijalankan berdasarkan syariat, sementara syariat diterapkan dalam kerangka adat Minangkabau.

Konflik adat dan agama dalam sejarah Minangkabau pada akhirnya membentuk keseimbangan baru dalam kehidupan masyarakat. Pengalaman pahit masa lalu justru melahirkan konsensus yang hingga kini menjadi dasar filosofi sosial Minangkabau. Di nagari-nagari, kesepahaman itu terus diwariskan sebagai pelajaran bahwa perbedaan pandangan dapat diselesaikan melalui musyawarah dan penyesuaian bersama.


Wartawan : Dzaky Herry Marino
Editor : melatisan

Tag :Konflik Adat, Agama, Sejarah Minangkabau, Perang Padri, Konsensus

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com