- Minggu, 18 Januari 2026
Ketek Banamo, Gadang Bagala: Pentingnya Memahami "Gelar Minang Setelah Menikah" Agar Tidak Dianggap Kurang Ajar
Ketek Banamo, Gadang Bagala: Pentingnya Memahami "Gelar Minang Setelah Menikah" Agar Tidak Dianggap Kurang Ajar
Oleh: Andika Putra Wardana
Pernahkah kamu merasa canggung ketika menghadiri pesta pernikahan teman di Sumatera Barat, lalu tiba-tiba mendengar orang tua atau ninik mamak memanggil temanmu itu dengan sebutan asing seperti "Sutan", "Bagindo", atau "Sidi"? Padahal setahumu, namanya sejak SD adalah Budi atau Anto. Jangan bingung, karena saat itulah kamu sedang menyaksikan salah satu tradisi paling sakral dalam siklus hidup laki-laki Minangkabau. Pemberian gelar Minang setelah menikah bukan sekadar pergantian panggilan semata, melainkan sebuah penanda besar bahwa seorang laki-laki telah melepaskan masa mudanya dan melangkah masuk ke gerbang kedewasaan yang penuh tanggung jawab.
Dalam filosofi adat Minangkabau, berlaku pepatah "Ketek banamo, gadang bagala" (Kecil bernama, besar bergelar). Artinya, nama panggilan masa kecil (namo ketek) hanya berlaku saat seseorang belum berumah tangga. Begitu akad nikah diucapkan, nama kecil itu seolah dikubur secara adat dan digantikan oleh gelar kehormatan. Pemberian gelar Minang setelah menikah ini adalah simbol pengakuan masyarakat bahwa sang laki-laki kini bukan lagi sekadar anak mamaknya, melainkan sudah menjadi Sumando (menantu) yang dihormati di keluarga istri dan calon pemimpin bagi anak-anaknya kelak. Gelar ini biasanya diambil dari suku pihak laki-laki atau warisan turun-temurun dari kaumnya.
Oleh karena itu, memahami etika pemanggilan gelar ini sangatlah penting dalam pergaulan sosial. Memanggil laki-laki Minang yang sudah menikah dengan nama kecilnya, apalagi di depan umum atau di hadapan mertuanya, dianggap sebagai tindakan yang kurang sopan atau kurang ajar. Itu sama saja dengan menganggapnya masih anak kecil yang belum matang.
Sebaliknya, menyapanya dengan gelar Minang setelah menikah seperti memanggil "Sutan Budi" atau "Bagindo Anto" adalah bentuk penghormatan tertinggi yang menunjukkan bahwa kamu menghargai status barunya. Jadi, tradisi ini mengajarkan kita bahwa kedewasaan seorang pria Minang tidak hanya dilihat dari umurnya, tapi dari seberapa pantas dia menyandang gelar kebesaran yang disematkan di pundaknya.
Editor : melatisan
Tag :Ketek Banamo, Gadang Bagala: Gelar Minang
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
TERNYATA INI BEDANYA! MENJAWAB PERTANYAAN ABADI MINANG DAN PADANG APAKAH SAMA?
-
BIKIN MERINDING! MENGUAK MAGISNYA ALAT MUSIK TRADISIONAL MINANGKABAU YANG BISA BERBUNYI TANPA PUTUS NAPAS
-
BUKAN SEKADAR DONGENG! TERNYATA NEGERI TERTUA DI MINANGKABAU ADALAH DESA CANTIK DI KAKI GUNUNG MARAPI
-
HATI-HATI KENA PRANK! KENALI ISTILAH BAHASA MINANG BOHONG DARI YANG SEKADAR BUAL LAPAU SAMPAI TIPU MUSLIHAT
-
SIAP-SIAP TEPAR! DERETAN MAKANAN KHAS MINANGKABAU" INI DIJAMIN BIKIN DIETMU GAGAL TOTAL
-
PASAN BURUANG DAN ALAM YANG LUKA: RENUNGAN EKOKRITIK DI TENGAH BENCANA SUMATERA
-
MAHASISWA KKN KEBENCANAAN UNIVERSITAS ANDALAS LAKUKAN PENDATAAN DAMPAK BANJIR DI KAPALO KOTO, PADANG
-
SEDIKIT KEGEMBIRAAN DI TENGAH KECEMASAN, CATATAN HENDRY CH BANGUN
-
MAHASISWA KKN UNIVERSITAS ANDALAS TOBOH GADANG DORONG PERTANIAN BERKELANJUTAN MELALUI PROGRAM RAMAH LINGKUNGAN
-
MAHASISWA KKN UNAND MENGAJAR DI DUA TK TOBOH GADANG, KENALKAN RAGAM HIAS MINANGKABAU DAN JEPANG