- Rabu, 15 Oktober 2025
Keseimbangan Gender Dalam Sistem Matrilineal Minangkabau
Keseimbangan Gender dalam Sistem Matrilineal Minangkabau
Oleh: Mutia Fadillah
Banyak yang salah paham bahwa sistem matrilineal Minangkabau menempatkan perempuan di atas laki-laki. Padahal, sistem ini menekankan keseimbangan, bukan dominasi. Di Minangkabau, perempuan dan laki-laki memegang peran berbeda yang saling melengkapi untuk menciptakan harmoni sosial.
Perempuan berperan sebagai pewaris garis keturunan, pengelola rumah gadang, dan penjaga pusaka. Sementara laki-laki, terutama mamak (paman dari pihak ibu), bertugas membimbing, melindungi, dan menjadi pemimpin moral bagi keluarga besar. Hubungan antara keduanya bukan hierarkis, melainkan simbiosis, saling membutuhkan dan saling memperkuat.
Dalam filosofi adat, laki-laki adalah “pelindung dari luar,” sementara perempuan adalah “penjaga dari dalam.” Artinya, laki-laki berperan aktif di ranah publik dan adat, seperti musyawarah nagari atau perundingan suku, sedangkan perempuan menjaga kestabilan rumah tangga dan harta pusaka. Dua peran ini ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.
Nilai kesetaraan ini mengakar dalam pepatah Minang, “Saciok bak ayam, sadanciang bak basi.” Hubungan perempuan dan laki-laki diibaratkan seperti dua alat yang harus bekerja selaras agar kehidupan berjalan seimbang. Perempuan yang bijaksana tanpa bimbingan mamak akan kehilangan arah, sementara mamak yang kuat tanpa nasihat perempuan akan kehilangan kelembutan.
Modernisasi telah membawa perubahan dalam struktur sosial, tetapi semangat keseimbangan gender ini tetap dijaga. Banyak perempuan Minang yang sukses di dunia pendidikan, politik, dan ekonomi, tanpa kehilangan jati diri adatnya. Mereka mempraktikkan semangat Bundo Kanduang di dunia modern, kuat dalam prinsip, lembut dalam sikap, dan cerdas dalam mengambil keputusan.
Sistem matrilineal Minangkabau bukan hanya warisan, tetapi juga pelajaran hidup tentang bagaimana masyarakat bisa membangun struktur sosial yang setara dan harmonis tanpa perlu menegasikan perbedaan. Di sinilah letak keindahan adat Minangkabau, harmoni antara dua kekuatan yang berbeda, namun saling menopang untuk menjaga keseimbangan hidup dan budaya.
Editor : melatisan
Tag :#Gender
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
PALASIK DAN PSIKOLOGI KETAKUTAN KOLEKTIF MASYARAKAT MINANGKABAU
-
PALASIK: BAYANG-BAYANG GELAP DI BALIK TERANG ADAT MINANGKABAU
-
FILSAFAT DAN NILAI SOSIAL DI BALIK IRAMA GANDANG SILEK MINANGKABAU
-
PANTUN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI ORANG MINANG
-
MAKNA FILOSOFIS DAN TRANSFORMASI TARI PIRING DI ERA MODERN
-
PENERAPAN AKUNTANSI MANAJEMEN PADA FURNITURE BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
-
DIMANA MUSEUM KOTA BUKITTINGGI?
-
"ANAK DARO" DIKLAIM KOPI KERINCI JAMBI OLEH ROEMAH KOFFIE, POTENSI PENCAPLOKAN BUDAYA MINANG PICU KONTROVERSI
-
MEMBUMIKAN KOPI MINANG: DARI SEJARAH 1840 HINGGA GERAKAN MENANAM KAUM
-
FWK MEMBISIKKAN KEBANGSAAN DARI DISKUSI-DISKUSI KECIL