HOME OPINI OPINI

  • Sabtu, 26 November 2022
Kado Terbaik Untuk Guru Di Hari Guru
Hendri Gustian, Dosen Politeknik Negeri Lampung

Beberapa elemen republik tampak sedang melukis senyum di wajahnya atas peringatan Hari Guru Nasional yang jatuh setiap tanggal 25 November. Bermula sebagai penghormatan kepada Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang ditetapkan pada 24 November 1994, hari berikutnya Republik Indonesia membingkai sejarah sebagai Hari Guru Nasional. 

Mereka yang berperan sebagai guru -meski tidak semua guru mengikuti- di bangsa sebesar Indonesia pun dikerahkan untuk menggelar upacara di hari itu. Lengkap dengan seragam yang sama, di pagi nan teduh, guru-guru hikmat mengikuti upacara peringatan hari guru. 

Layaknya budaya, peringatan hari guru tentu berjalan dengan segala kearifannya. Tapi mayoritas adalah murid yang memberi hadiah cuma-cuma kepada gurunya, semisal kue, kemudian ditutup dengan potret bersama sang guru lengkap bersama 'caption' selamat hari gurunya. Atau ada juga yang sedikit lebih menyentuh dengan mengirim secarik surat dan puisi kepada gurunya. 

Namun, apakah sesingkat itu saja peringatan hari guru? Apakah guru hanya mereka yang mengajar di bangku pendidikan formal? Sedikit lebih jauh, apakah guru menerima hadiah hanya di hari guru yang hanya satu kali dalam satu tahun? Silakan pembaca melanjutkan pertanyaan-pertanyaan yang rasanya masih mengganjal perihal hari guru. Dan yang lebih tak seharusnya, guru hanya di ukur dari upah yang mereka terima. 

Dengan begitu, hari guru tidaklah cukup kalau hanya diperingati sebagai 'euforia' semata. Terlalu sempit kalau hari guru dilewati hanya dengan sebungkus kado. Begitu pelit kalau hari guru hanya diwarnai seremonial, yang besoknya dihapus memori begitu saja. 

Sebab guru, digugu dan ditiru. Guru, adalah poros pendidikan yang mengantarkan kepada kemuliaan. Tidak melihat kitabnya, tidak melihat agamanya, tidak melihat sosial dan budayanya, tidak melihat sistem apa yang dianutnya. Semua mengajarkan bagaimana bila menghormati guru, maka jalan akan terbuka selebar-lebarnya. 

Lebih-lebih Islam yang 'Rahmatan lil alamain'. Dengan 'role model' kita yang sekelas Nabi Muhammad Saw pun menggambarkan bagaimana mulianya seorang guru. Beliau bersabda, "Barang siapa memuliakan orang alim (guru) maka ia memuliakan aku. Dan barang siapa memuliakan aku maka ia memuliakan Allah. Dan barang siapa memuliakan Allah maka tempat kembalinya adalah surga". (Kitab Lubabul Hadits) 

Dari kutipan itu kita sadar, betapa mulianya seorang guru. Kalau bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, maka jiwa yang besar adalah jiwa yang mengingat jasa gurunya. 

Berikutnya jika kita melihat kepada suksesnya suatu bangsa sebab guru, maka Jepang adalah jawabannya. Lihat saja saat sekutu mencoba melumpuhkan Jepang dengan menghancurkan dua kota besarnya yaitu Hiroshima dan Nagasaki. Terlepas dari segala kepentingan negara-negara yang mengaku kuat kala itu, jika dilihat dari sisi lain maka Jepang juga hendak dimatikan masa depannya. 

Tak hanya bangunan dan infrastruktur Jepang yang rusak, tapi juga manusia-manusia dengan indeks pikiran yang hebat pun mati dibuatnya. 

Namun meski begitu, Jepang tak patah arang. Langkah brilian dipilih Jepang untuk pulih lebih cepat. Apa yang dilakukan Jepang saat kondisi porak poranda? 

Kaisar Jepang menghitung jumlah guru yang tersisa. Mereka yakin dengan guru, bangsa yang sedang kacau dapat membaik. Buktinya, lihat saja Jepang sekarang. Cek saja, kualitas pendidikan Jepang bagaimana. Semua adalah sebab menghormati peran gurunya. 

Maka itulah, hari guru harus dimaknai lebih jauh dan lebih dalam. Guru bukan sekedar pengajar/pendidik atas ketidaktahuan kita akan sesuatu hal. Guru merupakn suluh dalam kegelapan atas kejahilan dan ketidak beraturan sikap, karakter, dan etiket kita sebagai insan yang tidak terlepas dari khilaf. 

Guru mampu mnyulap ketidakpastian masa depan menjadi lebih terarah dan teratur dengan skema yang ia berikan lewat pemikiran briliannya. Guru bukanlah tangan besi yang bisa mengabulkan dan menjanjikan apa yang diinginkn didikannya. Namun sentuhan tangan guru mampu mencapai top kejaan yang tentu tak terbalas. Maka selayaknya, setiap murid menjadikan guru sebagai pahlawan dalam hari-harinya. 

Terimakasih untuk seluruh guru di seluruh penjuru bumi Allah, Insya Allah dedikasi para guru akan menjadi amal ibadah di dunia dan akhirat. 

Tulisan sederhana ini tentu tak dapat mendeskripsikan bagaimana jasa-jasa guru. Tak dapat melukiskan indahnya sentuhan kasih sayang guru. 

Salam hormat dan sungkem dari Ananda, kepada guru yang mulia.

 

Hendri Gustian, 

Dosen Politeknik Negeri Lampung


Tag :#minangsatu #opini #guru #hgn #hendrigustian

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News