- Kamis, 1 Januari 2026
Hidup Di Nagari Aripan: Tradisi Malamang, Kuliner, Dan Kehangatan Sosial
Hidup di Nagari Aripan: Tradisi Malamang, Kuliner, dan Kehangatan Sosial
Oleh: Andika Putra Wardana
Kehidupan masyarakat Nagari Aripan tumbuh dari keseimbangan antara adat, alam, dan kebersamaan sosial. Nagari ini terletak sekitar 7 kilometer dari Danau Singkarak, dengan kondisi geografis berupa dataran dan perbukitan. Lingkungan alam tersebut membentuk pola hidup masyarakat yang sederhana, bekerja keras, dan saling bergantung satu sama lain.
Salah satu tradisi yang masih hidup kuat di Nagari Aripan adalah Malamang, yaitu kegiatan memasak lemang secara bersama-sama menggunakan bambu. Tradisi ini tidak sekadar kegiatan memasak, tetapi menjadi ruang silaturahmi dan penguat hubungan sosial antarwarga. Malamang biasanya dilakukan menjelang acara adat, perayaan keagamaan, atau momen penting dalam kehidupan nagari.
Dalam tradisi Malamang, masyarakat bekerja bersama sejak persiapan bahan hingga proses memasak. Aktivitas ini mencerminkan nilai gotong royong dan kebersamaan yang masih dijaga hingga kini. Lemang yang dihasilkan kemudian dibagikan dan dinikmati bersama, memperkuat rasa persaudaraan antarwarga.
Selain lemang, Nagari Aripan juga memiliki kekayaan kuliner khas Minangkabau. Lamang Tapai menjadi salah satu hidangan yang sering dijumpai, memadukan lemang dengan tapai ketan yang manis dan asam. Hidangan lain seperti rendang, gulai ikan, dan gulai ayam juga menjadi bagian dari menu keseharian masyarakat, terutama pada acara adat dan keluarga.
Nagari Aripan juga dikenal sebagai wilayah yang dekat dengan sentra pertanian Solok. Bareh Solok, beras berkualitas tinggi yang terkenal di Sumatera Barat, menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Beras ini tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi simbol kesuburan tanah dan ketekunan petani.
Di tengah perkembangan zaman, masyarakat Aripan tetap menjaga nilai adat dan tradisi. Kehidupan sosial masih diikat oleh musyawarah, peran ninik mamak, serta aktivitas keagamaan yang aktif di surau dan masjid. Tradisi, kuliner, dan struktur sosial saling terhubung membentuk karakter nagari yang hangat dan bersahaja.
Nagari Aripan menunjukkan bahwa kekuatan sebuah nagari tidak hanya terletak pada sejarahnya, tetapi juga pada kemampuan masyarakatnya menjaga nilai lama sambil menjalani kehidupan hari ini. Di sinilah adat tetap hidup, bukan sebagai simbol, tetapi sebagai laku dalam keseharian.
Editor : melatisan
Tag :Nagari Aripan, pesona, Lilitan Kayu, Marunduak, Nagari yang Arif, Tradisi, Malamang, Kuliner, Kehangatan, Sosial
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
MITOS PALASIK DI MINANGKABAU DAN CARA MENGHINDARINYA DALAM KEPERCAYAAN TRADISIONAL
-
CARA BELAJAR BAHASA MINANG DASAR UNTUK PEMULA, PANDUAN MEMAHAMI SAPAAN HINGGA PERCAKAPAN SEHARI-HARI
-
SEJARAH JEMBATAN SITI NURBAYA DAN PEMANDANGAN MALAMNYA YANG IKONIK DI KOTA PADANG
-
RESEP GULAI PAKU (PAKIS) KHAS PARIAMAN UNTUK SARAPAN, KUAH GURIH BUMBU MINANG
-
MAKNA PULANG BASAMO BAGI PERANTAU MINANG SAAT LEBARAN, LEBIH DARI SEKADAR MUDIK
-
RUMAH GADANG MAU DIPUGAR, BANYAK YANG AMBRUK
-
SURAT KEPADA NAHKODA SUMBAR, YANG BAHTERANYA KOYAK DI HANTAM GALODO
-
DUA JALAN KEBIJAKAN KOPI: INDONESIA DAN ETHIOPIA DI PERSIMPANGAN STRATEGI
-
ROSITA MEDINA, BUNDO KANDUANG DI RANTAU PUNYA TANGGUNGJAWAB MORAL
-
MAKNA KETIDAKHADIRAN PRESIDEN DI HPN 2026 BANTEN