- Jumat, 2 Januari 2026
Hidup Di Batu Bajanjang: Adat Yang Bertahap, Alam Yang Subur, Dan Masyarakat Yang Bersatu
Hidup di Batu Bajanjang: Adat yang Bertahap, Alam yang Subur, dan Masyarakat yang Bersatu
Oleh: Andika Putra Wardana
Kehidupan masyarakat Nagari Batu Bajanjang berjalan dalam irama pedesaan Minangkabau yang masih kental dengan nilai adat dan kebersamaan. Mayoritas penduduknya menggantungkan hidup pada sektor pertanian, memanfaatkan luas wilayah nagari yang mencapai lebih dari 12 ribu hektare. Sawah dan perkebunan menjadi ruang hidup utama, dengan tanaman padi dan karet sebagai penopang ekonomi masyarakat.
Gotong royong merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial di Batu Bajanjang. Masyarakat saling membantu dalam membersihkan jalan, mengerjakan sawah, serta menyelenggarakan berbagai acara adat seperti perkawinan, sunatan, dan kegiatan keagamaan. Hubungan sosial yang erat ini memperkuat rasa kekeluargaan dan solidaritas antarwarga.
Dalam kehidupan keagamaan, hampir seluruh penduduk Nagari Batu Bajanjang beragama Islam. Aktivitas ibadah berjalan aktif dengan dukungan lima masjid dan sepuluh mushola yang tersebar di berbagai jorong. Selain shalat berjamaah, masyarakat juga rutin mengadakan wirid yasin, pengajian, serta peringatan hari besar Islam. Anak-anak masih dibiasakan mengaji di surau pada malam hari, menandakan kuatnya pendidikan agama di tingkat keluarga dan nagari.
Sistem sosial budaya masyarakat Batu Bajanjang berlandaskan adat Minangkabau yang menganut sistem kekerabatan matrilineal. Garis keturunan ditarik dari pihak ibu, sementara mamak memegang peran penting dalam membimbing dan melindungi kemenakan. Harta pusaka dikelola oleh perempuan, namun tidak dapat dipindahtangankan tanpa musyawarah adat.
Kepemimpinan adat di nagari ini dijalankan oleh struktur urang nan ampek jinih, yaitu pangulu, manti, malin, dan dubalang. Keempat unsur ini bekerja secara kolektif dalam mengatur kehidupan adat, agama, dan keamanan nagari. Dalam praktiknya, adat dijalankan seiring dengan ajaran Islam, sesuai prinsip adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.
Tradisi perkawinan adat masih dijalankan secara lengkap, mulai dari mamanggia mamak, maanta siriah, malatak tando, hingga baralek gadang. Setiap tahapan memiliki makna dan aturan yang jelas, mencerminkan filosofi hidup masyarakat Batu Bajanjang yang menjunjung keteraturan dan musyawarah.
Nagari Batu Bajanjang memperlihatkan bagaimana adat, agama, dan kehidupan sosial saling bertaut erat. Di tengah perubahan zaman, masyarakatnya tetap menjaga nilai lama sebagai pegangan hidup. Batu Bajanjang bukan sekadar nagari di pedalaman, tetapi ruang hidup yang dibangun dengan kesadaran adat, ketekunan bekerja, dan kebersamaan yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Editor : melatisan
Tag :Nagari Batu Bajanjang, Taratak Pakih, Pusat Adat, Pedalaman Solok, Alam, Subur, Masyarakat, Bersatu
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
MITOS PALASIK DI MINANGKABAU DAN CARA MENGHINDARINYA DALAM KEPERCAYAAN TRADISIONAL
-
CARA BELAJAR BAHASA MINANG DASAR UNTUK PEMULA, PANDUAN MEMAHAMI SAPAAN HINGGA PERCAKAPAN SEHARI-HARI
-
SEJARAH JEMBATAN SITI NURBAYA DAN PEMANDANGAN MALAMNYA YANG IKONIK DI KOTA PADANG
-
RESEP GULAI PAKU (PAKIS) KHAS PARIAMAN UNTUK SARAPAN, KUAH GURIH BUMBU MINANG
-
MAKNA PULANG BASAMO BAGI PERANTAU MINANG SAAT LEBARAN, LEBIH DARI SEKADAR MUDIK
-
RUMAH GADANG MAU DIPUGAR, BANYAK YANG AMBRUK
-
SURAT KEPADA NAHKODA SUMBAR, YANG BAHTERANYA KOYAK DI HANTAM GALODO
-
DUA JALAN KEBIJAKAN KOPI: INDONESIA DAN ETHIOPIA DI PERSIMPANGAN STRATEGI
-
ROSITA MEDINA, BUNDO KANDUANG DI RANTAU PUNYA TANGGUNGJAWAB MORAL
-
MAKNA KETIDAKHADIRAN PRESIDEN DI HPN 2026 BANTEN