- Minggu, 25 Januari 2026
Cuma Ganti 'O'? Salah Besar! Seni Tingkat Tinggi Dalam Bahasa Minangkabau Yang Penuh Kiasan Dan Rasa
Cuma Ganti 'O'? Salah Besar! Seni Tingkat Tinggi dalam Bahasa Minangkabau yang Penuh Kiasan dan Rasa
?
Oleh: Andika Putra Wardana
?Seringkali kita mendengar anggapan santai dari teman-teman di luar Sumatera Barat yang bilang, "Ah, belajar bahasa Minangkabau itu gampang, tinggal ganti saja semua huruf 'a' di belakang kata menjadi 'o'."
Memang benar bahwa secara fonetik, bahasa ini memiliki kekerabatan yang sangat dekat dengan Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia, sehingga banyak kosa kata yang terdengar mirip.
Kata "apa" menjadi "apo", "mana" menjadi "mano". Namun, jika kamu hanya bermodal rumus "ganti O" tersebut, kamu baru menyentuh permukaan kulitnya saja.
Menyelami bahasa ini sesungguhnya adalah mempelajari seni diplomasi dan sastra lisan yang sangat kompleks, di mana satu kata bisa memiliki seribu makna tergantung pada intonasi dan kepada siapa kita bicara.
?Keunikan utama dari bahasa Minangkabau terletak pada kekayaan kieh atau kiasannya. Orang Minang asli jarang sekali berbicara to the point atau blak-blakan, terutama untuk hal-hal yang sensitif.
Mereka lebih suka menggunakan perumpamaan, pantun, atau sindiran halus (cimeeh) untuk menyampaikan maksud hati. Tujuannya mulia, yaitu menjaga perasaan lawan bicara (jago raso) agar tidak tersinggung.
Inilah yang disebut dengan kato balereang (kata berlereng/miring). Jadi, jika kamu mendengar orang Minang berkata, "Lamak juo gulai ko mah, tapi agak asin saketek" (Enak juga gulai ini, tapi agak asin sedikit), itu sebenarnya cara sopan untuk bilang masakannya keasinan tanpa membuat si tukang masak malu.
?Selain itu, struktur sosial masyarakatnya melahirkan aturan tata bahasa yang disebut Kato Nan Ampek (Kata Yang Empat). Kamu tidak bisa menggunakan gaya bicara yang sama kepada semua orang.
Ada Kato Mandaki (bahasa sopan untuk orang tua), Kato Manurun (bahasa sayang untuk yang lebih muda), Kato Mendata (bahasa akrab sesama teman), dan Kato Malereng (bahasa kiasan untuk orang yang disegani/mertua).
Kesalahan menempatkan kata ganti misalnya memakai kata "Ang" (kamu kasar) kepada paman, bisa dianggap pelanggaran etika berat. Ini membuktikan bahwa bahasa Minangkabau bukan sekadar alat komunikasi, melainkan alat ukur budi pekerti seseorang.
?Terakhir, variasi dialeknya juga luar biasa. Jangan kaget jika kamu pergi ke Payakumbuh, Pariaman, atau Pesisir Selatan, kamu akan menemukan bunyi bahasa yang berbeda drastis dengan logat Padang standar.
Ada yang berakhiran "a", "e", atau cengkok yang mendayu-dayu. Keragaman dialek ini menunjukkan betapa kayanya identitas setiap nagari.
Jadi, banggalah menggunakan bahasa ini. Ia adalah warisan leluhur yang mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang cerdas dalam berkata-kata, tajam dalam berpikir, namun tetap lembut dalam penyampaian.
Editor : melatisan
Tag :Seni, Tingkat Tinggi, Bahasa Minangkabau , Penuh Kiasan, Rasa
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
DUNIA DIBUAT HERAN! MENYELAMI UNIKNYA TRADISI MINANGKABAU YANG MEMADUKAN SYARIAT ISLAM DAN KUASA BUNDO KANDUANG
-
LEBIH DARI SEKADAR DONGENG PENGANTAR TIDUR! MENELUSURI KEDALAMAN CERITA RAKYAT MINANGKABAU YANG PENUH KRITIK SOSIAL ?
-
?JUDES TAPI NGANGENIN! MENGUNGKAP PESONA CEWE MINANG YANG BIKIN COWOK-COWOK RELA BERJUANG
-
TERNYATA INI BEDANYA! MENJAWAB PERTANYAAN ABADI MINANG DAN PADANG APAKAH SAMA?
-
BIKIN MERINDING! MENGUAK MAGISNYA ALAT MUSIK TRADISIONAL MINANGKABAU YANG BISA BERBUNYI TANPA PUTUS NAPAS
-
PENDIDIKAN DI PELOSOK: ANTARA SEMANGAT DAN KETERBATASAN AKSES
-
PASAN BURUANG DAN ALAM YANG LUKA: RENUNGAN EKOKRITIK DI TENGAH BENCANA SUMATERA
-
MAHASISWA KKN KEBENCANAAN UNIVERSITAS ANDALAS LAKUKAN PENDATAAN DAMPAK BANJIR DI KAPALO KOTO, PADANG
-
SEDIKIT KEGEMBIRAAN DI TENGAH KECEMASAN, CATATAN HENDRY CH BANGUN
-
MAHASISWA KKN UNIVERSITAS ANDALAS TOBOH GADANG DORONG PERTANIAN BERKELANJUTAN MELALUI PROGRAM RAMAH LINGKUNGAN