HOME VIRAL UNIK

  • Senin, 23 Februari 2026

Biografi Buya Hamka Dan Pemikirannya, Ulama Minangkabau Yang Meninggalkan Jejak Di Dunia Islam Dan Sastra

Biografi Buya Hamka
Biografi Buya Hamka

Biografi Buya Hamka dan Pemikirannya, Ulama Minangkabau yang Meninggalkan Jejak di Dunia Islam dan Sastra

Oleh: Muhmmad Fawzan


Nama Biografi Buya Hamka dan pemikirannya selalu muncul dalam pembahasan tentang tokoh besar Minangkabau abad ke-20. Di Maninjau, Kabupaten Agam, rumah kelahiran Haji Abdul Malik Karim Amrullah itu kini menjadi museum yang kerap dikunjungi pelajar dan peneliti. Dari kampung di tepian Danau Maninjau itulah Hamka tumbuh menjadi ulama, sastrawan, sekaligus pemikir Islam yang berpengaruh di Indonesia.

Hamka lahir pada 17 Februari 1908 di Maninjau. Ia merupakan putra dari Haji Abdul Karim Amrullah, ulama pembaru yang dikenal sebagai Haji Rasul. Lingkungan keluarga dan suasana pembaruan Islam di Minangkabau awal abad ke-20 membentuk fondasi awal perjalanan intelektualnya.

Tumbuh dalam Tradisi Surau dan Pembaruan

Sejak kecil, Hamka mengenal pendidikan agama melalui surau dan madrasah. Ia sempat belajar di Sumatera Thawalib di Padang Panjang, lembaga pendidikan Islam modern yang saat itu menjadi pusat gerakan pembaruan di Minangkabau. Meski tidak menyelesaikan pendidikan formal secara panjang, Hamka dikenal sebagai pembelajar otodidak yang tekun membaca dan menulis.

Pada usia muda, ia merantau ke Jawa dan kemudian ke Makassar. Di perantauan itulah Hamka mulai aktif menulis dan berdakwah. Pengalamannya berinteraksi dengan berbagai kalangan memperkaya wawasan keislaman dan kebangsaan yang kelak mewarnai pemikirannya.

Kiprah sebagai Ulama dan Sastrawan

Biografi Buya Hamka dan pemikirannya tidak bisa dilepaskan dari karya-karyanya yang luas. Di bidang sastra, ia menulis sejumlah novel yang hingga kini masih dibaca, seperti “Di Bawah Lindungan Ka’bah” dan “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”. Melalui karya sastra, Hamka menyampaikan nilai moral, agama, dan kritik sosial dengan bahasa yang mudah dipahami.

Di bidang keagamaan, Hamka aktif berdakwah dan memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai ketua umum pertama pada 1975. Salah satu karya monumentalnya adalah Tafsir Al-Azhar, yang ia tulis sebagian ketika menjalani masa penahanan pada era 1960-an. Tafsir ini menjadi rujukan penting dalam kajian Islam di Indonesia.

Hamka juga dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah dan terlibat dalam berbagai aktivitas organisasi Islam. Ceramah dan tulisannya tersebar luas melalui majalah, surat kabar, hingga buku-buku keagamaan.

Pemikiran tentang Islam dan Kebangsaan

Dalam biografi Buya Hamka dan pemikirannya, terlihat benang merah antara ajaran Islam dan semangat kebangsaan. Ia menekankan pentingnya akhlak, pendidikan, dan kemajuan umat tanpa melepaskan identitas keislaman.

Hamka memandang Islam sebagai ajaran yang mendorong kemajuan dan pembaruan, bukan penghambat perubahan. Dalam berbagai tulisannya, ia kerap mengingatkan pentingnya keseimbangan antara iman, ilmu, dan tanggung jawab sosial.

Buya Hamka wafat pada 24 Juli 1981 di Jakarta. Namanya kemudian diabadikan sebagai pahlawan nasional pada 2011. Hingga kini, karya dan pemikirannya masih dibaca lintas generasi, tidak hanya di Sumatera Barat, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia. Dari Maninjau, ia meninggalkan warisan intelektual yang terus diperbincangkan dalam ruang-ruang diskusi keislaman dan kebudayaan.


Wartawan : Muhmmad Fawzan
Editor : melatisan

Tag :Biografi, Buya Hamka, Pemikiran, Ulama Minangkabau, Meninggalkan Jejak, Dunia Islam, Sastra

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com