HOME OPINI OPINI

  • Rabu, 17 Agustus 2022
Belajar Mengarang
Gamawan Fauzi

Belajar Mengarang 

Masa lalu, di tingkat Sekolah Dasar ada pelajaran Mengarang, sebagai bagian dari kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia. Mengarang adalah aktivitas menuangkan ide atau gagasan ke dalam sùatu tulisan untuk tujuan tertentu. 

Dalam Kamus Besar Bahasa disebutkan bahwa mengarang berasal dari kata dasar 'arang' . Mengarang  adalah sebuah homonium, karena artinya memiliki ejaan dan pelafasan yang sama tapi maknanya berbeda. Karena mengarang adalah kata kerja, sehingga mengarang dapat menyatakan suatu tindakan, keberadaan , pengalaman  atau pengertian dinamis lainnya. 

Dalam kehidupan nyata,  secara tegas dipisahkan mana yang cerita dan mana yang fakta. Orang bisa berasyik ria  membaca cerita, apakah itu cerita pendek atau cerita panjang ( novel ), apakah cerita anak-anak seperti  Sincan, Dora Emon, Batman, iron man.  Atau yang lebih serius seperti  Harry Poter, atau  cerita Silat Ko Ping Ho yang berseri seri, atau 'Tikam Samurai' yang bersambung-sambung, 'Giring-Giring Perak' karya penulis terkenal Makmur Hendrik yang sangat digemari masyarakat Minang dan Riau di tahun 70-an dan 80-an, terbit bertahun-tahun di harian Singgalang. 

Ada juga cerita remaja , karya yang seangkatan itu di harian Haluan, karya Alm Rivai Marlaut,  seperti Nining Salmi dan beberapa judul lainnya. Di tingkat nasional, ada cerita yang di tulis NH. Dini seperti 'Kabut Sutera Ungu' yang sangat berkesan di masyarakat perempuan pada masa lalu dan sejumlah karya beliau lainnya. Ashadi Siregar juga menulis cerita ( novel ) yang berkesan, dengan judul 'Sirkuit Kemelut', yang kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul 'Roda-Roda Gila'. 

Beberapa tahun terakhir bermunculan penulis-penulis muda seperti  Andrea Hirata dengan novelnya yang populer yaitu Laskar Pelangi dan  seorang  pemuda asal Minang yang sejak beberapa tahun terakhir ini menjadi perbincangan publik karena  novelnya yang  menarik dan sangat populer hingga diangkat ke layar lebar,  adalah Ahmad Fuadi. Lima  Novelnya adalah Negeri  Lima Menara, Rantau Satu Muara, Ranah Tiga Warna, Anak Rantau dan yang terakhir adalah Buya Hamka. 

Beberapa tahun lalu, ada novel yang sangat mendunia, berjudul 'Da Vinci Code'. Untuk membacanya agar bisa memahami isi karangan itu,  perlu waktu khusus,  perlu keseriusan,  dan bahkan beberapa orang yang pernah ditanya mengataka, "saya 3 kali membacanya baru bisa memahaminya". Tulisan ini memang memerlukan nalar dan kemampuan pikiran, karena kaya dengan masalah-masalah intelijen, rumit dan susah ditebak jalan ceritanya. 

Buya Hamka adalah juga seorang pengarang yang sangat terkenal dengan novel novel beliau, antara lain  seperti Tenggelamnya Kapal Van Der wijk, Di Bawah Lindungan Ka'bah, dan Merantau ke Deli.

Manusia memang kaya dengan imajinasi dan ide,  bahkan lebih kaya dari ribuan penulis cerita itu sendiri. Lalu apakah penulis-penulis cerita hebat itu lahir dari pelajaran mengarang ? 

Entahlah. 

Tapi, cerita adalah cèrita, tidaklah sama dengan fakta. Fakta adalah kejadian yang sebenarnya ( sahih ) atau 'true story', benar-benar terjadi, kejadian yang sebenarnya, bukan dikarang-karang. 

Bila cerita dikatakan fakta, maka itu adalah kebohongan.dalam dunia maya dewasa ini, kebohongan yang ditulis di media sosial disebut dengan Hoax. Orang bisa dipidana karena melanggar UU ITE. 

Dalam prakteknya, apakah ada yang dihukum pidana dan ada juga yang  tidak. Itu soal lain. Tapi berbohong atau kebohongan selalu  berkonotasi buruk dalam masyarakat, bahkan dalam ajaran Islam,  berbohong masuk dalam  kategori dosa besar. 

Rasulullah adalah sosok yang tak pernah berbohong, karena itu beliau bergelar Al Amin. Semua masyarakat Mekah tau itu, baik muslim maupun non muslim. Itulah salah satu kemuliaan beliau. 

Akhir-akhir ini  banyak muncul cerita-cerita bohong yang bukan dalam bentuk cerpen, novel  atau  semacamnya. Bahkan  aparat kadang juga berbohong kepada publik terhadap sebuah peristiwa. Dengan mengarang cerita seolah kejadian itu benar terjadi . Lalu pernyataan itu dikutip media secara luas. Masyarakat mengangguk angguk tanda paham.  Eh... belakang diketahui bahwa bukan seperti itu. Lalu cerita awal itu termasuk kategori  apa ? 

Inilah yang disebut karangan,  dikarang-karang, direkayasa,   tapi  bukan dalam sebuah novel atau cerpen penghibur  yang mestinya tak ada karangan atau dikarang karang atau dalam  bahasa populer disebut 'Ngarang'. 

Tapi apakah orang yang mengarang cerita ini waktu di sekolah dasar memang pintar membuat karangan ? Mungkin juga iya, dan  bakatnya berkembang sampai sekarang sehingga yang tak ada dibilang  ada juga , atau mungkin juga dia auto didak, belajar sendiri cara mengarang karena bakat alami nya memang pengarang. Atau juga diperoleh  setelah dewasa karena pintar benar gurunya mengajarkan  cara mengarang sehingga dapat meyakinkan orang yang membaca. 

Cerita dan peristiwa adalah dua hal yang berbeda. Paristiwa adalah kejadian sebenarnya. Benar-benar terjadi, dan tak boleh di karang-karang. Dia harus dikatakan dan ditulis apa adanya, tak ditambah dan tak dikurangi. Bila peristiwa  atau  kejadian  dikarang-karang, dia menjadi sebuah kebohongan. Kebohongan adalah sesuatu yang buruk, dosa, dan termasuk salah satu  bentuk ketidak jujuran,  serta pelanggaran moral yang serius bahkan bisa berujung pelanggaran hukum . Kata orang 'sajak saisuak', 'sekali lancung keujian, seumur hidup orang tak percaya'. 

Tapi soal hukum biar sajalah, itu adalah sisi lain yang  berbeda. Mau dihukum mau tidak terserah sajalah. 

Bung Hatta sebagai salah seorang proklamator dan pemikir besar bangsa ini/ 'great dangker over staat und recht'  nya Indonesia, sejak jauh jauh hari mengatakan, "Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman, namun tidak jujur sulit diperbaiki". 

Salah satu persoalan bangsa Indonesia dalam usia 77 tahun ini adalah soal 'Mengarang'. Banyak sekarang yang makin pintar mengarang. Sayangnya karangan yang dibuat tidak dtempatkan pada proporsinya. Sesuatu yang tak ada dibilang juga ada, sesuatu ada kadang dibilang tak ada, padahal sudah bersuluh matahari,  atau kejadian yang diceritakan beda dengan yang sebenarnya, padahal bukan dalam novel, cerita pendek, prosa atau syair lagu. 

Masyarakat kini mulai tak percaya membaca atau mendengar sebuah pernyataan, karena mereka ragu, apakah peristiwa sebenarnya atau di karang-karang. Seorang teman mengatakan, tentang hal ini. Katanya, saya sering mematikan televisi, itu lebih baik bagi saya daripada mendengar karangan bebas yang tak jelas jenis kelaminnya apakah peristiwa itu sebenarnya dan  ataukah ada karangan di dalamnya. "Hanya soal pertandingan olahraga saja yang pasti jujur. Kalau PSSI menang lawan Malaysia 2-0, past tak dibuat score nya 3-1", katanya sambil terbahak bahak. 

Sepertinya bangsa ini makin terbiasa menerima informasi bersifat " karangan " , bukan sebenarnya, dan masyarakat makin bersahabat  dengan berita karang mengarang, terserah pasar saja, mau percaya atau tidak silahkan . Yang ketahuan 'ngarang' pun kini semakin jauh dari rasa malu. Sudah disebut pembohong pun tak masalah. Sudah makin kebal " rasa ",  yang kritik pun kadang ngarang juga, dia tau kalau sebuah berita itu bohong/ hoax, tapi diposting juga kemana-mana, sehingga masyarakat semakin biasa hidup dengan" hujan "ngarang. 

Waktu dulu guru mengajar cara membuat karangan atau adanya pelajaran mengarang, pasti bukan dimaksudkan untuk membuat kebohongan melalui karangan , tapi untuk membangun ide, gagasan, imajinasi muridnya agar menjadi insan yang punya inovasi dan mimpi tentang sesuatu yang baik dan berguna. 

Dari perenungan terhadap burung yang terbang, orang berimajinasi membuat pesawat terbang, atau dari  melihat kilat, lahirlah listrik. Semua itu awalnya di tulis dalam sebuah cerita, dengan banyak menggunakan kata andaikan. cerita itu kemudian memberikan stimulus otak manusia untuk berfikir menciptakan sesuatu dari apa yang ada di bumi ini. 

Jadi, bila kini banyak yang 'ngarang' tidak dalam cerita karangan, maka itu bukan salah guru dalam mengajar membuat karangan, tapi penyalahgunaan pelajaran guru untuk sesuatu yang tidak pada tempatnya. Maafkan kami ibuk  dan bapak guru yang pernah mengajarkan  kami mengarang. Bangsa ini memang terlalu cerdik untuk urusan yang begini-begini. Diajar satu dapat dua bahkan sampai sepuluh. 

Padang 17 Agustus 2022. 

Merdeka.

Gamawan fauzi


Tag :#gamawanfauzi #opini #minangkabau #minangsatu #sumaterabarat #nofreelunch