HOME OPINI OPINI

  • Rabu, 30 November 2022

Bahaya Racun Aflatoksin Menghantui Komoditas Pangan Indonesia

Andalusia Trisna Salsabila
Andalusia Trisna Salsabila

Maraknya kasus keracunan makanan hingga kejadian luar biasa yang terjadi, menjadikan keamanan pangan sebagai perhatian utama di Indonesia. Pada tahun 2005, penelitian pada komoditas jangung dan kacang tanah yang berasal dari sentra produksi di Jawa dan Sumatera, telah terkontaminasi racun aflatoksin. 

Lebih lanjut, telah dilaporkan juga bahwa beberapa komoditas jagung yang dipasok dari Pasuruan, Jawa Timur pada periode Maret 2005 – Juni 2006, juga terkontaminasi racun aflatoksin yang melebihi ambang batas. Adanya cemaran pada bahan pangan tersebut menyebabkan hewan yang mengonsumsinya, seperti ayam, akan terkena penyakit. 

Konsumsi bahan pangan yang mengandung racun tersebut dapat menyebabkan penyakit kronis hingga kematian. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui tentang bahaya cemaran racun aflatoksin pada komoditas. 

Afaltoksin merupakan racun yang menyerang komoditas kacang-kacangan, jagung, rempah-repah, hinga padi-padiam. Racun ini dapat timbul apabila dalam proses pasca panen berupa proses penyimpanan yang tidak sesuai. Penyimpanan pada kondisi lembab dan tidak optimum yang tidak sesuai akan menyebabkan tumbuhnya jamur jenis Aspergillus flavus yang dapat menghasilkan racun aflatoksin. 

Terdapat beberapa jenis aflatoksin yang umum, namun jenis aflatoksin B1 merupakan racun yang paling berbahaya karena memiliki efek toksik yang paling tinggi. Sayangnya, kesadaran msyarakat terhadap racun ini cenderung rendah karena sifatnya yang tidak langsung terdeteksi. Paparan aflatoksin dalam jumlah rendah secara berulang kali selama hidup, akan mengakibatkan penyakit degenaratif seperti kanker hati. 

Tidak seperti cemaran mikroba yang dapat dihilangkan dengan proses pemanasan, racun ini tidak akan hilang meskipun diberikan pemanasan suhu tinggi. Jika makanan yang telah tercemar aflatoksin masuk ke dalam tubuh, maka racun tersebut akan larut oleh lemak, sehingga tidak mudah bagi tubuh manusia untuk dapat mengeluarkannya lewat urin. 

Aflatoksin juga dapat terakumulasi di otak dan mempunyai efek buruk terhadap paru-paru, miokarbium dan ginjal. Selain itu beberapa penyakit yang ditimbulkan oleh racun ini diantaranya berupa penyakit hati seperti kanker hati, hepatitis kronik, penyakit kuning, dan sirosis hati. 

Kondisi Indonesia yang memiliki iklim tropis dengan kelembapan udara tinggi, menjadikan jamur Aspergillus flavus dapat tumbuh dengan pesat pada saat penyimpanan. Jamur tersebut akan tumbuh pada kondisi yang lembab, dengan tingkat kelembapan sebesar 82-85% dan suhu 30-32oC. Namun, apabila kondisi penyimpanan sangat lembab pada suhu 25oC, jamur tersebut sudah dapat menghasilkan racun yang dapat mengontaminasi bahan pangan. 

Ciri-ciri bahan pangan yang telah terkontaminasi racun afaltoksin akan memiliki warna biji kecoklatan hingga kehitaman dan memiliki rasa yang cenderung pahit. 

Komoditi yang telah terpapar aflatoksin tidak bisa dikonsumsi lagi. Bahkan industri pakan tidak menerima jagung pipil yang telah terkontaminasi aflatoksin, karena sifatnya yang tidak bisa hilang meskipun telah melewati pemanasan pada suhu 250oC. Hal ini juga yang dapat mengancam perekonomian karena komoditas yang terkontaminasi aflatoksin tidak bisa dimanfaatkan lagi. 

Para petani yang masih menggunakan proses pertanian manual berupa  penyimpanan dengan jaring plastik dan karung, serta proses pengankukan dengan truk bak yang terbuka akan menyebabkan tumbuhnya cendawan aspergillus flavus. Penjualan yang dilakukan di pasar tradisional dengan menjajakan dipinggir jalan dan terpapar dengan berbagai kontaminasi akan meningkatkan kemungkinan terpapar oleh aflatoksin. 

Sehingga untuk dapat menanggulangi kontaminasi racun ini, maka hal utama yang perlu diperhatikan adalah proses penyimpanan yang baik. Dengan memperhatikan suhu, kelembapan serta sirkulasi udara, diharapkan Aspergillus flavus tidak akan tumbuh dan menghasilkan aflatoksin. 

Berbagai metode telah dikembangkan oleh para ilmuan Indonesia untuk dapat mengendalikan kondisi penyimpanan yang baik. Salah satu cara yang digunakan yaitu dengan menggunakan ozon. Sayangnya, di Indonesia hanya menggunakan metode ozon terbatas utnuk komoditas buah dan sayur. Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ozon  dapat mengurangi 100% cemaran Aspergillus flavus dan dapat menutunkan aflatoksin B1 pada jagung pipil sebesar 88%. 

Selain itu, memberikan penyuluhan kepada para petani dan para pemasok bahan baku komoditas serelia, kacang-kacangan, dan rempah-rempah terkait proses penanganan pasca panen yang tepat, sangatlah diperlukan. Lembaga yang dibentuk oleh guru besar Universitas Gadjah Mada, Forum Komunikasi Aflatoksin, yang beranggotakan para peneliti, pemerintah, serta praktisi memiliki tujuan yang sama untuk membahas dan menysusun program dalam meningkatkan kepedulian dan pengetahuan tentang cemaran aflatoksin serta penyuluhan terkait pengendalian cemaran toksin ini.

Dengan demikian, diharapkan kontaminasi aflatoksin terhadap komoditas pangan Indonesia akan semakin sedikit, dan dapat menjamin keamanan pangan serta meningkat nilai ekonomis dari komoditas serelia, kacang-kacangan, serta rempah-rempah Indonesia. 

 

 


Tag :#opini #pertanian #racun #ipb andalusia

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Bergabung ke Komunitas Whatsapp Dunsanak MinangSatu