- Selasa, 27 Januari 2026
Anti Feodal Tapi Taat Aturan: Membedah Filosofi Bajanjang Naiak Batanggo Turun Dan Kesetaraan Hakiki Di Minangkabau
Anti Feodal Tapi Taat Aturan: Membedah Filosofi Bajanjang Naiak Batanggo Turun dan Kesetaraan Hakiki di Minangkabau
Oleh: Andika Putra Wardana
Pernahkah kamu memperhatikan bagaimana pola kepemimpinan di Sumatera Barat yang sangat unik? Di sana, kamu jarang melihat rakyat yang menyembah-nyembah pemimpinnya secara berlebihan seperti dalam budaya kerajaan feodal kuno.
Hal ini terjadi karena masyarakat Minangkabau memegang teguh prinsip egalitarian atau kesetaraan derajat yang terangkum dalam pepatah sakti, duduak samo randah, tagak samo tinggi.
Filosofi ini menegaskan bahwa pada dasarnya, setiap manusia itu setara hak dan martabatnya. Tidak ada kasta yang membedakan antara rakyat jelata dan kaum bangsawan secara kaku.
Dalam praktiknya, prinsip kesetaraan ini terlihat jelas dalam musyawarah adat. Saat duduk di Balai Adat, semua orang duduk bersila di lantai yang sama datar, tidak ada singgasana yang lebih tinggi.
Seorang pemimpin atau Penghulu di Minang hanyalah didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang (didahulukan selangkah, ditinggikan seranting). Artinya, posisinya hanya sedikit saja berbeda karena fungsi dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin, bukan karena dia dewa yang tak tersentuh.
Inilah yang membuat orang Minang punya mental percaya diri yang kuat dan berani berdebat dengan siapa saja, karena mereka merasa duduak samo randah, tagak samo tinggi dengan lawan bicaranya.
Namun, jangan salah sangka. Mentang-mentang setara, bukan berarti orang Minang bisa hidup semaunya tanpa aturan. Di sinilah peran pepatah pasangannya, bajanjang naiak, batanggo turun (berjenjang naik, bertangga turun).
Ini adalah prinsip birokrasi dan tata tertib yang sangat ketat. Segala urusan di Minangkabau harus melalui prosedur yang runut, tidak boleh potong kompas (bypass). Misalnya, jika seorang kemenakan punya masalah, dia tidak boleh langsung melapor ke Penghulu Pucuk.
Dia harus melapor dulu ke Mamak Tungganai (mamak rumah), lalu naik ke Penghulu Suku, baru ke tingkat yang lebih tinggi.
Begitu juga sebaliknya, perintah dari atas harus turun secara berjenjang ke bawah. Filosofi bajanjang naiak, batanggo turun mengajarkan kedisiplinan dan penghormatan terhadap hierarki organisasi.
Jadi, kombinasi kedua pepatah ini menciptakan sistem demokrasi yang sempurna. Di satu sisi manusianya merasa setara dan merdeka, namun di sisi lain mereka sangat patuh pada prosedur hukum yang berlaku.
Tidak heran jika banyak tokoh pendiri bangsa ini lahir dari rahim kebudayaan Minang, karena sejak kecil mereka sudah dididik dalam iklim demokrasi yang sehat, tertib, dan menghargai sesama manusia.
Editor : melatisan
Tag :Filosofi, Bajanjang Naiak, Batanggo Turun, Kesetaraan Hakiki , Minangkabau, anti feodal, taat aturan
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
PANTUN MINANG LUCU: CARA ORANG MINANG MENERTAWAKAN HIDUP DENGAN SANTUN
-
PANTUN ADAIK MINANG: BAHASA HALUS DALAM MENJAGA MARTABAT DAN ADAT
-
BERBALAS PANTUN MINANG: SENI BERTUTUR YANG MENJAGA ADAT DAN RASA BAHASA
-
BIAYA PERNIKAHAN MINANG: ANTARA ADAT, MARTABAT, DAN REALITAS ZAMAN
-
TAMBO MINANGKABAU: JEJAK ASAL-USUL, ADAT, DAN INGATAN KOLEKTIF ORANG MINANG
-
ROSITA MEDINA, BUNDO KANDUANG DI RANTAU PUNYA TANGGUNGJAWAB MORAL
-
MAKNA KETIDAKHADIRAN PRESIDEN DI HPN 2026 BANTEN
-
TABUAH: INGATAN SILUNGKANG
-
PELANTIKAN PWI & IKWI SUMBAR: LANGKAH MAJU, HARAPAN BARU, SEJARAH BARU
-
MAHASISWA KKN UNAND 2026 GELAR PENYULUHAN DAN PRAKTIK PEMBUATAN UMMB SEBAGAI SUPLEMENT TERNAK RUMINANSIA DI NAGARI LABUH, KECAMATAN LIMA KAUM, TANAH DATAR