- Sabtu, 27 Desember 2025
Aie Dingin: Dari Mata Air Dingin Ke Nagari
Aie Dingin: Dari Mata Air Dingin ke Nagari
Oleh: Andika Putra Wardana
Di dataran tinggi Kabupaten Solok, tepatnya di Kecamatan Lembah Gumanti, terdapat sebuah nagari yang sejak namanya disebut, sudah menghadirkan kesan sejuk, yakni Nagari Aie Dingin. Terletak di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut, nagari ini tumbuh dalam lanskap pegunungan yang dingin, subur, dan dekat dengan kawasan hutan lindung Taman Nasional Kerinci Seblat.
Nama Aie Dingin bukanlah sekadar penamaan geografis, melainkan lahir dari pengalaman langsung manusia dengan alam. Menurut cerita lisan yang diwariskan turun-temurun, nama ini berasal dari kisah seorang leluhur yang mencuci tangan di sebuah aliran air kecil. Air itu terasa begitu dingin hingga membuatnya spontan berujar bahwa air tersebut sangat “dingin”. Ungkapan sederhana itu kemudian melekat dan menjadi identitas nagari hingga kini.
Sejak awal, kehidupan masyarakat Aie Dingin sangat bergantung pada alam. Tanah yang subur dan iklim yang sejuk menjadikan pertanian sebagai nadi utama kehidupan. Sawah-sawah terbentang luas, menghasilkan padi berkualitas, sementara ladang dan kebun ditanami sayuran dataran tinggi. Hingga hari ini, sebagian besar penduduk Aie Dingin berprofesi sebagai petani, menjadikan nagari ini salah satu penyangga pangan di Kabupaten Solok.
Di tengah kehidupan agraris tersebut, adat Minangkabau tetap menjadi penopang utama tatanan sosial. Struktur suku seperti Caniago, Melayu, Tanjung, dan lainnya membentuk jaringan kekerabatan yang kuat. Ninik mamak berperan penting dalam menjaga nilai adat, menyelesaikan persoalan sosial, dan menjadi penyeimbang antara hukum adat dan pemerintahan nagari.
Aie Dingin tidak hanya tumbuh sebagai ruang ekonomi, tetapi juga sebagai ruang nilai. Islam dan adat berjalan berdampingan, membentuk kehidupan masyarakat yang religius, kolektif, dan saling menjaga. Dari sinilah Aie Dingin berdiri, sebagai nagari yang lahir dari alam, tumbuh oleh kerja manusia, dan bertahan melalui adat.
Editor : melatisan
Tag :Aie Dingin, Mata Air, Nagari
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
MITOS PALASIK DI MINANGKABAU DAN CARA MENGHINDARINYA DALAM KEPERCAYAAN TRADISIONAL
-
CARA BELAJAR BAHASA MINANG DASAR UNTUK PEMULA, PANDUAN MEMAHAMI SAPAAN HINGGA PERCAKAPAN SEHARI-HARI
-
SEJARAH JEMBATAN SITI NURBAYA DAN PEMANDANGAN MALAMNYA YANG IKONIK DI KOTA PADANG
-
RESEP GULAI PAKU (PAKIS) KHAS PARIAMAN UNTUK SARAPAN, KUAH GURIH BUMBU MINANG
-
MAKNA PULANG BASAMO BAGI PERANTAU MINANG SAAT LEBARAN, LEBIH DARI SEKADAR MUDIK
-
RUMAH GADANG MAU DIPUGAR, BANYAK YANG AMBRUK
-
SURAT KEPADA NAHKODA SUMBAR, YANG BAHTERANYA KOYAK DI HANTAM GALODO
-
DUA JALAN KEBIJAKAN KOPI: INDONESIA DAN ETHIOPIA DI PERSIMPANGAN STRATEGI
-
ROSITA MEDINA, BUNDO KANDUANG DI RANTAU PUNYA TANGGUNGJAWAB MORAL
-
MAKNA KETIDAKHADIRAN PRESIDEN DI HPN 2026 BANTEN