HOME OPINI OPINI

  • Kamis, 4 April 2019
Sisi Lain Mentimun Bungkuk
Muhammad Nazri Janra

Sisi Lain Mentimun Bungkuk

Oleh Muhammad Nazri Janra

 

“Bagai mentimun bungkuk, keluar tak ganjil, masuk tak genap.” 


Peribahasa ini adalah versi pertama dari peribahasa yang lebih kontemporer “bagaikan mentimun bungkuk, masuk iya tapi tidak dihitung.”

Peribahasa ini kurang lebih menceritakan tentang gambaran kondisi seseorang di tengah komunitasnya, yang antara ada dan tiada. Maksudnya, seseorang yang diibaratkan dengan mentimun bungkuk tersebut hanya hadir sebagai pencukup dari jumlah komunitasnya saja, tetapi tidak bisa memberikan kontribusi apapun atau lebih buruknya lagi tidak dianggap ada sama sekali oleh komunitasnya tersebut. 

Bisa jadi orang tersebut memang bukan orang yang berada, tidak berilmu, tidak pandai membawakan diri di dalam masyarakat atau terkadang ada pula yang mengartikannya sebagai sampah masyarakat. Hal-hal inilah yang kemudian menyebabkan komunitas masyarakat tersebut tidak menginginkan keberadaan orang tersebut di antara mereka. Hanya karena disebabkan masih adanya hubungan muasal tempat kelahiran, sentiment tanah asal atau hal lainnya, sehingga keberadaan sang mentimun bungkuk ini tidak benar-benar diusir, diasingkan atau dihilangkan sama sekali dari masyarakatnya. 

Sebelum bercerita lebih lanjut lagi, kita perlu sedikit mengulas kenapa mentimun bungkuk ini dijadikan sebagai perlambang di dalam peribahasa ini.

Mentimun atau Cucumis sativus Linnaeus 1758 adalah kelompok tumbuhan merambat yang sekeluarga dengan kelompok labu-labuan. Tumbuhan ini mempunyai batang yang terus tumbuh memanjang, dengan sulur-sulur yang membantunya untuk memanjat suatu struktur atau tumbuhan lain, sehingga dapat berada dekat dengan sumber cahaya.

Tumbuhan ini berasal dari kawasan Asia Selatan (India dan sekitarnya), tetapi sekarang dapat ditemukan hampir di semua bagian dunia. 

Di negara-negara barat, mentimun bukan hanya dikonsumsi tetapi juga diawetkan dalam bentuk asinan (dikenal dengan istilah pickle) yang tujuannya untuk menampung kelebihan hasil panen selama musim semi dan panas. Karena mentimun sangat mudah sekali ditanam tanpa membutuhkan banyak perawatan, hasilnya memang sering sangat melimpah dan tidak bisa langsung habis dimakan dan kelebihannya harus diawetkan untuk dapat dikonsumsi kemudian saat musim dingin berlangsung.

Sementara, di negara kita dan negara tropis lainnya, mentimun biasanya dikonsumsi langsung berupa lalapan dari buahnya yang masih mentah atau dicampurkan menjadi bagian dari masakan lain. 

Kenapa mentimun bungkuk sangat berbeda? 
Tentu saja karena bentuk morfologi luarnya yang berbeda dari mentimun pada umumnya yang lurus, walaupun dari segi jenis mereka sama. Jika diibaratkan kepada manusia, ada yang sebagiannya bertubuh tinggi lurus langsing, ada yang pendek bulat pun ada yang bungkuk.

Diakibatkan oleh proses pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat terhadap mentimun selama inilah yang kemudian menghasilkan suatu stigma, bahwa bentuk buah mentimun yang paling disukai oleh konsumen adalah yang berbuah lurus dengan kulit yang bersih dan berwarna segar (hijau atau putih kehijauan). 

Jika pilihan manusia terhadap trend mode, selera berpakaian ataupun hobby selalu mengalami pergantian dari masa ke masa, ternyata preferensi manusia terhadap mentimun tidak berubah sama sekali bahkan di semua tempat mentimun dimakan oleh manusia. Mentimun dengan tampilan yang digambarkan di atas adalah idolanya di antara para mentimun di pasar: berbuah lurus, kulit bersih, daging buah renyah dan berair. 

Mentimun bungkuk?
Selain perbedaan bentuk, mentimun bungkuk sebenarnya mempunyai sifat yang sama dengan yang lurus. Sayangnya, si bungkuk baru akan diperhitungkan untuk masuk ke dalam kantong kresek untuk dijual bersama dengan mentimun lainnya hanya ketika jarum timbangan masih kurang dari angka yang diminta pembeli.

Mentimun idola biasanya selalu berukuran besar dan berat, sehingga agak merugikan bagi si penjual untuk menjadi pencukup timbangan. Di sinilah baru si bungkuk berperan besar menjadi penyelamat jualan, sekaligus memuaskan permintaan si pembeli. Pun juga, ketika sampai di rumah, biasanya mentimun idola lah yang akan duluan disajikan di atas piring di meja makan. 

Sampai di sini, sepertinya antara fakta mentimun bungkuk di lapangan dengan penempatannya di dalam peribahasa menjadi “nyambung” satu sama lain. Hal ini pun juga memenuhi kaidah “alam takambang jadi guru” yang merupakan asas utama kehidupan orang Minang dengan lingkungannya. 

Tapi, selain membahas tampilan mentimun bungkuk, kita juga harus melihat dari segi dalamnya yang selama ini tidak pernah dibahas orang. Kebungkukan mentimun merupakan serangkaian proses yang dikendalikan dari dalam, terutama oleh gen atau faktor yang mengendalikan pewarisan sifat-sifat kehidupan pada suatu makhluk hidup. Disinyalir, melalui penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli tumbuhan, terdapat beberapa jenis gen yang mengendalikan bentuk buah mentimun ini.

Selain dari masalah gen tadi, terdapat pula faktor luar seperti hormon atau zat kimia yang biasa digunakan di dalam bidang pertanian yang ikut berperan menyebabkan mentimun menjadi bungkuk. Gas etilene merupakan salah satu bentuk hormon yang ikut menyebabkan pembengkokan buah mentimun tadi. 

Penemuan ilmiah terkait dengan buah mentimun yang berbentuk ini sepertinya membenarkan peribahasa tentang ‘marjinalisasi’ mentimun bungkuk tadi, pun syah menjadi dasar penganaktiriannya dalam proses jual beli. Bahwa individu buah dengan bentuk bungkuk tadi membawa faktor keturunan yang kurang baik jika dibiarkan tersebar begitu saja dengan leluasa. 

Maka, proses penyaringan buah mentimun bungkuk dilakukan secara berlapis: ketika panen, saat penjualan kepada pembeli bahkan sampai saat mentimun tersebut disiapkan sebagai bagian dari hidangan makanan. Selama ini sepertinya metoda-metoda tersebut berhasil meredam adanya kemungkinan lahirnya jenis mentimun baru yang berbuah bungkuk semua. 

Dan yang lebih jauh lagi bisa dibahas di sini adalah melalui peribahasa mentimun bungkuk ini, orang Minang seakan mempertegas kemajuan budidaya pertaniannya sejak zaman dahulu yang ditunjang oleh aspek pemulian tanaman dengan dasar yang kuat. Dimana seleksi jenis tumbuhan pangan yang dikonsumsi harus didasarkan pada ciri-ciri dan mutu yang baik untuk selanjutnya dipertahankan dan dikembangkan untuk pemenuhan kebutuhan orang banyak. 


Tag :opiniMNazriJanra