HOME OPINI OPINI


  • Selasa, 19 Mei 2020
Memaknai Ramadhan di Tengah Pandemi Covid-19
Ferry Lismanto

Memaknai Ramadhan di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh Dr. Ferry Lismanto Syaiful (Dosen Universitas Andalas)

 

Ramadhan merupakan bulan penting bagi umat Islam, pada bulan ini diwajibkan bagi orang beriman untuk berpuasa, menahan lapar dan haus mulai dari terbit sang fajar hingga terbenamnya matahari (QS Al-Baqarah ayat 187). Arti Ramadhan sendiri diambil dari bahasa Arab yaitu ramada atau ar-ramad, artinya panas yang menghanguskan atau kekeringan. Makna ini kerap disangkutpautkan dengan jatuhnya Ramadhan saat musim panas menyengat. Dari hal ini umat Islam mengibaratkan panas menyengat dapat menghapus dosa-dosa selama ini. Di bulan ini umat Islam berlomba-lomba melakukan amal kebaikan. Ramadhan juga dapat dimaknai sebagai bulan untuk mengasah jiwa, mengasah ketajaman pikiran dan kejernihan hati, sehingga dapat membakar sifat-sifat tercela dan dosa yang ada dalam diri kita.

Dilansir dari laman Kemenag, Ramadhan disebut juga dengan bulan suci yang penuh keberkahan. Di dalamnya terdapat berbagai keutamaan. Adapun keistimewaan dan keutamaan Ramadhan adalah sebagai berikut: 1. Ramadhan adalah satu-satunya nama bulan yang ada di Alquran. Salah satunya berada pada QS Al-Baqarah, 2. Pada bulan ini, terdapat sebuah malam lebih baik daripada 1000 bulan. Artinya: Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (QS Al-Qard ayat 3), 3. Di bulan Ramadhan, umat Islam yang beriman diwajibkan ibadah puasa. Telah dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 183, yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, 4. Pada bulan Ramadhan, terdapat pengampunan dosa. Di Bulan Suci ini pula pintu surga telah dibuka, dan pintu neraka ditutup, 5. Ladang atau media penebusan dosa atau kafarat hingga bulan Ramadhan berikutnya. Sepanjang sholat fardhu dari satu Jumat ke Jumat berikutnya, dan 6. Saat bulan Ramadhan, amal ibadah akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT.

Bulan Ramadhan sering disebut sebagai momentum introspeksi dan muhasabah diri. Sebagai ibadah yang disyariatkan oleh Allah SWT dengan kaifiyah/tata cara tertentu. Bulan Ramadhan memiliki tiga dimensi penting yakni: Pertama, dimensi ritual formal (fisik). Di sini puasa dimaknai sebagai ritual mencegah dari segala sesuatu yang membatalkan (makan, minum, bersetubuh). Kedua, dimensi ritual spiritual (rohaniah). Artinya, puasa sebagai ritual menjauhkan diri dari segala sifat buruk dan sesuatu yang diikuti nafsu. Ketiga, dimensi ritual intelektual. Artinya, dengan berpuasa, kita akan semakin tahu siapa sebenarnya diri kita.

Ramadhan dianggap sebagai salah satu pilar ajaran Islam. Orang Muslim percaya ini menanamkan rasa terima kasih dan introspeksi dan membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan. Pada kali ini, Ramadhan kita berbarengan dengan mewabahnya virus corona yang dapat menyebabkan suatu penyakit menular disebut Covid-19. Covid-19 bermula ditemukan di Wuhan, Tiongkok, bulan Desember 2019 yang lalu. Virus yang berasal dari China ini telah menyebar luas ke seluruh penjuru dunia bahkan ke tanah air.

Dikutip dari Kompas.com (13/5/2020) Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa virus corona jenis baru penyebab Covid-19 ini kemungkinan tak akan pernah hilang, meski ada vaksin. Vaksin hanya berfungsi sebagai pengendali virus, namun bukan menghilangkan virus. Bahkan WHO juga mengatakan sulit memprediksi kapan virus ini akan berakhir.

Pandemi Covid-19 telah melanda dunia. Hasil Penelitian Johns Hopkins University memperkirakan ada 185 negara yang dilanda Covid-19 ini termasuk Indonesia. Berdasarkan catatan Kompas.com, saat ini Indonesia mencatat rekor penambahan kasus positif Covid-19 tertinggi dalam kurun waktu 24 jam. Penambahan tertinggi tercatat pada Sabtu (9/5/2020) yakni sebanyak 533 kasus dalam 24 jam. Pada Rabu (13/5/2020) ini, tercatat penambahan 689 pasien positif Covid-19 dalam 24 jam terakhir dari semua rumah sakit di Indonesia. Dengan penambahan tersebut, maka total ada 15.438 kasus Covid-19 di Tanah Air.

Pandemi Covid-19 ini telah menghantui masyarakat di tanah air bahkan penyakit ini berujung dengan kematian. Kematian yang disebabkan Covid-19 ini tidak padang bulu, siapa saja dapat bisa tertular baik orang kaya, miskin, muda, tua, orang bertitel, maupun pejabat, dan sebagainya. Untuk itu, pada Ramadhan ditengah Covid-19 ini marilah kita jadikan sebagai momentum introspeksi dan muhasabah diri agar kita dapat merenung dan mengingat kembali kekuasaan Allah SWT. Sehebat apapun manusia berencana, Tuhanlah yang menentukan.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, pemerintah menghimbau agar tempat ibadah umat Islam akan tetap ditutup selama bulan Ramadhan hingga situasi pandemi Covid-19 berakhir. Selama epidemi keinginan untuk menyelamatkan nyawa harus didahulukan dibanding keinginan untuk melakukan shalat berjemaah. Untuk mengikapi hal ini, Pemangku kebijakan telah mengambil langkah antisipatif penyebaran virus ini yakni: pembatasan interaksi sosial yang diwujudkan dengan beraktivitas dari rumah, menggunakan masker, karantina mandiri bagi individu dengan kondisi dan status kesehatan tertentu, hingga karantina wilayah. 

Menghadapi pandemi Covid-19 dibutuhkan kepatuhan dan kedisiplinan. Disiplin terhadap aturan, patuh terhadap pimpinan. Islam menyuruh umatnya untuk taat dan patuh kepada ulil amri (QS. An-Nisa’/4: 59). Menurut Ibn Abbas, ulil amri adalah ulama. Menurut Abu Hurairah, ulil amri adalah umara’. Menurut Ibn Katsîr dan Al-Jashâsh, ulil amri adalah dua-duanya. Sekarang umara’ dan ulama satu suara. Kedua-duanya mengimbau terawih di rumah. Untuk itu Kita dituntut agar patuh dan taat.

Untuk mengatasi hal tersebut, diharapkan agar umat Islam menggunakan teknologi untuk menghadapi tantangan beribadah di saat pandemi Covid-19 ini. Diharapkan ibadah selama Ramadhan dan pembacaan Al-Qur'an malam hari diadakan secara online. Sedangkan penggalangan dana untuk zakat diharapkan dapat dilakukan lewat platform digital. Platform seperti Zoom, dll diharapkan bisa menjadi sarana untuk mengadakan buka puasa bersama. Melansir The Guardian (18/4/2020), Selama Ramadhan, di masjid Finsbury Park London akan menyiarkan ceramah dan doa, menawarkan konseling online dan mengorganisir anggotanya untuk turut membantu membagikan makanan buka puasa.

Puasa Ramadhan aman dilakukan di tengah pandemi Covid-19 dan individu yang menjalankannya bisa tetap sehat apabila mematuhi aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan tetap beraktivitas di rumah (stay at home). Agar ibadah Ramadhan ini penuh makna, maka doa dan niat adalah dua langkah pertama yang perlu dilakukan. Dikutip dari About Islam, Nabi Muhammad mengingatkan bahwa kedua hal tersebut hanya akan bermakna ketika seseorang berusaha dekat dengan Tuhan. Pada momentum Ramadhan ini, diharapkan kita mengoptimalkan untuk bermunajat dan berdoa agar wabah Covid-19 segera diangkat oleh Allah SWT.

Menurut Majelis Ulama Indonesia, puasa Ramadhan dapat membentuk benteng dari paparan Covid-19. Hal itu selaras dengan makna dan anjuran Syariat Islam, puasa akan melahirkan kesehatan. Dengan kita berpuasa yang benar akan melahirkan imunitas tubuh dalam pencegahan Covid-19. Dengan mengkonsumsi makanan bergizi seimbang dapat meningkatkan imun dan antibodi yang berguna untuk menangkal suatu penyakit atau virus. Selanjutnya alim ulama juga menyarankan agar kita tetap berwudu dan bersuci dengan benar dan sempurna serta mencuci kedua tangan secara lebih ekstra menggunakan sabun agar selalu terjaga kebersihan. Cara ini diyakini dapat menangkal penularan virus corona/Covid-19. 

Di tengah ketidakpastian situasi pandemi Covid-19 ini, marilah kita memanfaatkan momentum Ramadhan ini sebagai momentum introspeksi dan muhasabah diri, mempelajari kebajikan dan menjadikan waktu untuk memperkuat hubungan dengan Tuhan. Disamping itu, jadikan Ramadhan ini sebagai momentum kesadaran untuk saling berbagi/sedekah, bahu membahu dan saling membantu antar sesama. 


Tag :#memaknaiRamadhan #covid19