HOME OPINI OPINI

  • Selasa, 26 Maret 2019
Minangkabau Sudah Kehilangan Ruh
Emeraldy Chatra

MINANGKABAU SUDAH KEHILANGAN RUH
oleh Emeraldy Chatra

Ruh dari kebudayaan Minangkabau itu sebenarnya pada tiga titik yang saling berhubungan, yang membentuk segi tiga terbalik. Dua titik di atas adalah mamak dan ibu, dan titik di bawah melambangkan kemenakan yang sekaligus anak.

Hubungan mamak dan kemenakan merupakan sumber kekuatan politik, hubungan ibu dengan anak menjadi sumber kekuatan ekonomi. Sementara hubungan mamak dengan ibu seperti hubungan antara filsuf dengan raja pada konsep Plato dalam The Republic yang kemudian dikembangkan oleh John Stuart Mill (menjadi konsep Mill’s King). Ibu menjadi filsuf yang memberi nasehat kepada mamak untuk dunia politik, dan sebaliknya mamak menjadi filsuf bagi ibu dalam mendidik anak dan mengembangkan kapasitasnya mencari hidup di lahan pertanian milik komunal.

Kemenakan atau anak akan menjadi kuat apabila ia berada dalam ikatan erat segi tiga itu. Dari mamak ia belajar menjadi manusia arif, aturan hidup, adat dan nilai-nilai luhur dalam hubungan dengan manusia dan sebagainya. Ia menjadi zoon politicon yang mumpuni. Kelak ia akan jadi mamak juga bagi kemenakannya. Menjadi mamak adalah menjadi pemimpin bagi sebuah komunitas.

Sebagai anak ia akan mendapatkan ilmu melangsungkan kehidupan dari ibunya. Ibunya yang diberi amanah menguasai sawah dan ladang untuk keperluan hidup komunal. Kaum perempuan berkuasa atas kekayaan bersama itu. Mereka mengajarkan kepada anaknya bagaimana memelihara amanah dan mengambil manfaat dari amanah yang diterima.

Namun hubungan segi tiga itu kemudian retak dan pecah. Setelah Tanam Paksa (Cultuurstelsel )  yang ditetapkan oleh Belanda berakhir dengan kegagalan, tahun 1908 Belanda merubah kebijakannya menjadi pajak uang, sehingga perhatian mamak kepada kemenakan berangsur memudar (Amran, 1985). Mamak sibuk mencari uang untuk membayar pajak kepada pemerintah.

Saya kira kesibukan mencari uang itu tidak serta merta mengundurkan hubungan mamak dengan kemenakan. Tapi itu adalah awalnya. Kekenduran berjalan secara gradual, sedikit demi sedikit. Akhirnya benar-benar kehilangan wujud aslinya. Mamak tak lagi peduli kepada kemenakan.

Mungkin benar masuknya ayah ke dalam institusi rumah tangga membuat peran mamak makin memudar. Tapi itu baru sebatas asumsi saja.

Sistem ekonomi uang yang diperkenalkan Belanda secara perlahan juga menghancurkan struktur sosial orang Minangkabau. Uang menjadi tolok ukur baru kesuksesan. Uang membuat orang tergoda untuk menjual-juali tanah dan sawah milik komunal.  Kelak mamak tidak lagi punya sumber keuangan untuk menyantuni kemenakan. Dalam tradisi, uang pribadi tidak untuk kemenakan, tapi untuk anak. Begitu sawah dan ladang tidak lagi menghasilkan, mamak tak lagi memberi apa-apa kepada kemenakan kendati uang penghasilan pribadinya banyak.

Keringnya kantong mamak berakibat kepada hubungan mamak dengan kemanakan. Sebagian mamak takut didatangi kemenakan karena mengira uang pribadinya akan dikuras. Tak heran bila kemudian ada mamak yang merasa aman tidak berjumpa dan berhubungan lagi dengan kemenakannya. Mereka telah menemukan sorga baru pada anaknya sendiri.

Itulah awal mula sekaratnya Minangkabau. Ia pelan-pelan menghadapi sakratul maut. Badannya masih tampak sehat, tapi ruhnya pelan-pelan terbang entah kemana.

Sekarang? Hubungan mamak-kemanakan itu tinggal kenangan manis.. Sebagian kecil mungkin masih memelihara tradisi, tapi hubungan mamak-kemenakan tidak lagi jadi isu penting bagi orang Minangkabau. Kalah dibandingkan isu politik dan isu moral.

Kerenggangan itu tidak semata-mata karena ‘kelalaian’ mamak yang membuat jarak dengan kemenakan. Kemenakan sekarang cenderung tidak lagi membutuhkan mamak, menganggap figur mamak sebagai ‘orang lain’, dan enggan merajut hubungan yang lebih erat dengan mamaknya. Saya mencurigai adanya andil konsep Generasi Baby Boomers, X, Y, dan Z yang digembar-gemborkan Barat dalam kerenggangan hubungan mamak-kemenakan. Namun tidak akan dibahas dalam tulisan ini.

Hubungan ibu dan anak pun tidak lagi seperti dulu kala, tidak lagi mempunyai dimensi ekonomi. Banyak ibu-ibu yang tidak mewariskan kekayaan komunal apa pun kepada anaknya karena mereka pun sudah tidak kebagian. Kekayaan komunal itu sudah tandeh dijual-jual oleh generasi sebelumnya.

Apa artinya ketika ruh Minangkabau sudah hilang? Tegas saja, Minangkabau sekarang ini sudah mati sebagian tubuhnya. Seperti  ditampa malapari. Bagian lain yang kini masih sehat pun pelan-pelan mungkin mati sejalan dengan banyaknya tanah di Ranah Minang yang berpindah kepemilikan pada suku bangsa lain.

(Emeraldy Chatra, Dosen FISIP Unand)

 


Tag :opiniEmeraldyChatra