HOME OPINI OPINI

  • Senin, 29 April 2019
Mewaspadai Kerja Globalisasi
Sartana

Mewaspadai Kerja Globalisasi

oleh Sartana
(Dosen Psikologi Sosial Universitas Andalas)

Saat ini, isu tentang nasionalisme menjadi isu penting bagi banyak negara. Utamanya ketika ia dikaitkan dengan fenomena globalisasi. Karena, perkembangan teknologi media menjadikan orang-orang terpapar oleh informasi dari berbagai belahan dunia. Aneka macam informasi tersebut menghujani warga masyarakat secara bertubi-tubi.

Masyarakat disuguhi aneka tontonan yang diimpor dari Malaysia, India, atau Jepang. Juga tontonan dari Korea, Amerika, Timur Tengah dan negara lainnya. Mereka juga bermain game, melihat video klip atau menyanyikan lagu-lagu yang entah dari mana akar budayanya. Sungguh, mereka benar-benar hidup dalam sebuah kampung yang global.

Interaksi masyarakat dengan budaya dari berbagai belahan dunia itu tentu akan membuka pengetahuan dan wawasan mereka. Masyarakat dapat keluar dari tempurung budaya tradisional atau nasional yang selama ini melingkupinya. Dan mereka akan memahami dunia dan isinya yang begitu luas. 

Sekilas, tidak ada masalah dari interaksi mereka dengan berbagai budaya itu. Interaksi itu tampak tidak jauh beda interaksi yang mereka lakukan dengan aneka budaya lain di Indonesia. Lewat proses itu, mereka dapat mengerti, memahami, juga belajar budaya yang berbeda, yang dapat memperkaya budaya sendiri.

Namun, nampaknya ada hal yang perlu kita kritisi dan direnungkan lebih dalam dari fenomena itu. Utamanya tentang dampak interaksi tersebut bagi bangunan nasionalisme masyarakat Indonesia. Ada kemungkinan fenomena itu menjadi kekuatan yang dapat mengikis atau menggangsir semangat nasionalisme. 

Mengapa hal itu bisa terjadi? Nasioanalisme, sebagaimana dikemukakan oleh Benedict Anderson (2005), ada sebagai kumpulan imajinasi yang dimiliki oleh warga sebuah negara, yang menjadikan mereka merasa sebagai satu kesatuan dalam batas teritori tertentu. Sebagai sebuah imaji, tentu ia bersifat dinamis, berubah dari satu waktu ke waktu. Dan keberadaaannya sangat dipengaruhi oleh pengetahuan atau informasi yang didapat seseorang.

Pada era ketika teknologi komunikasi belum semaju sekarang, internet dan media sosial belum ada, aparat pemerintah sebuah negara masih mungkin untuk melakukan kerja-kerja indoktrinasi ideologi terhadap warganya. Mereka mampu menyaring dan memilihkan informasi yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi. Sehingga, masyarakat dapat memiliki imaji yang hampir serupa tentang bangsa dan negaranya.   

Lebih jauh, kerja-kerja indoktrinasi itu memungkinkan masyarakat sebuah negara merasakan senasib sepenanggungan juga sebagai satu kesatuan. Meskipun sekelompok warga tidak pernah berjumpa dengan kelompok yang lain, namun perasaan bahwa warga yang lain adalah bagian darinya tetap ada. Hal itu tampak misalnya, ketika ada kejadian kemalangan menimpa warga di daerah tertentu, warga di daerah yang lain juga turut merasakan dampaknya. Mereka merasa warga bersangkutan adalah bagian dari dirinya.

Dan, globalisasi telah mengikis batasan-batasan mengenai kesatuan teritorial tersebut. Imajinasi masyarakat meluas, menembus batas-batas wilayah, negara dan kebudayaan. Yang perlu dipahami bahwa proses interaksi antar budaya di ranah global tidak selalu berlangsung secara alami dan netral. Dalam banyak hal, proses tersebut perlu dipahami sebagai sebuah “pertarungan” kebudayaan.

Globalisasi dalam banyak segi sebenarnya adalah proses perebutan pengaruh dan kekuasaan. Kebudayaan yang satu berusaha untuk mendominasi kebudayaan yang lain. Dan dominasi budaya ini seringkali juga linear dengan dominasi dalam bidang hidup yang lain, seperti bidang sosial, ekonomi dan politik. 

Berangkat dari asumsi demikian, maka semestinya mengalirnya budaya asing ke tengah-tengah ruang sosial kita, tidak hanya kita pahami semata sebagai peristiwa budaya. Namun, ia juga perlu kita maknai sebagai peristiwa sosial, ekonomi, politik dan lainnya. Bisa jadi, ia merupakan bentuk imperialisme gaya baru. Ia adalah alat yang digunakan oleh sekelompok masyarakat untuk menguasai kelompok lainnya.

Tontonan-tontonan di media massa bisa jadi merupakan medium untuk melakukan ideologisasi dan propaganda. Mereka bekerja sebagai mesin-mesin untuk mengubah isi dan cara berfikir warga suatu negara, sehingga perilaku masyarakatnya dapat tunduk dan mengikuti kepentingan kelompok yang ingin menguasai. Penggunaan strategi kebudayaan untuk menguasai suatu bangsa memang sebuah “perang” jangka panjang, dan ketika sukses, hasilnya juga akan dipanen dalam jangka yang lama. 

Contoh yang paling ekplisit bagaimana aneka macam tontonan bekerja sebagai mesin “pencuci otak” adalah K-POP yang sempat berkibar beberapa waktu yang lalu. Yang pengaruhnya masih terus melekat dan bekerja hingga sekarang. Orang melihat K-POP sekedar sebagai sebuah tontonan yang enak untuk dinikmati. Bahkan, sebagian orang sampai mengalami sindrom celebrity worship, semacam gangguan perilaku berupa pemujaan berlebihan pada tokoh selebriti tertentu.

Banyaknya orang-orang yang tergila-gila dengan aneka produk kesenian dari Korea itu, jika dilihat semata dari sisi kebudayaan dan kesenian, tentu ia adalah realitas kebudayaan yang biasa. Ia adalah sebuah interaksi dan dialog antar budaya yang umum. Namun, bila kita cermati dari kondisi psikokolektif masyarakat, sebenarnya yang terjadi lebih dari itu. 

Fenomena Korean wave bisa kita lihat sebagai gerakan penundukan masyarakat dengan kebudayaan. Banyaknya warga dari berbagai negara yang gandrung dengan K-POP dapat meningkatkan harga diri juga superioritas masyakarakat Korea Selatan atas bangsa yang lain.  Di sisi berbeda, masyarakat yang menggandrunginya, mereka secara tidak sadar tunduk dan patuh terhadap bangsa Korea. 

Ketertundukan itu menjadikan masyarakat merasa perasaan inferior, yang umumnya tidak disadari, yang dampaknya mereka lebih mudah dipengaruhi. Orang secara kolektif dapat dengan gampang tanpa perintah mengganti bajunya dengan baju ala Korea. Demikian juga dengan makanan, tontonan, kebiasaan, dan gaya hidupnya. Pada tataran tertentu, seseorang merasa bangga dan berimajinasi ingin menjadi bagian dari warga Korea. Pada titik inilah nasionalisme warga tergerus.

Terkait itu, dalam kenyataannya, saat ini budaya-budaya luar itu telah menjadi bagian dari hidup keseharian kita. Bahkan, ia ada seperti udara. Dekat dan sangat dekat dengan kita. Ia menjadi bagian utama hidup kita, namun sebagian besar kita tidak menyadarinya. 
Dan,  bila relasi antar budaya itu terjadi sebagai relasi kuasa menguasai, maka perlu kita timbang ulang kedudukan budaya kita di tengah percaturan kebudayaan dunia. Supaya kita memiliki posisi tawar dan mampu melakukan negosiasi dengan masyarakat lain. Juga agar kita dapat berinteraksi dengan budaya lain dalam kondisi penuh kesadaran dan kewaspadaan. Dan pada akhirnya, kita dapat memastikan bahwa kita tidak sedang “dijajah” oleh kelompok masyarakat lain lewat kebudayaan.


Tag :opiniSartana