HOME OPINI OPINI


  • Senin, 22 Juni 2020
Lewat 'Jejak Sepeda Abak' Novadiar Sentil Bulir Air Mata
Jejak Sepeda Abak

Lewat 'Jejak Sepeda Abak' Novadiar Sentil Bulir Air Mata

Oleh Irwan Setiawan

Sederet nama besar di belantara dunia sastra Indonesia telah muncul dan mempengaruhi dunia tulis menulis dewasa ini. Mulai dari era Buya Hamka hingga Andrea Hirata telah menyentuh sentimentil emosional para pembaca. Berbagai plot dan alur cerita telah di lahirkan oleh penulis-penulis terkemuka.

Selain tulisan panjang dan cerita berliku, seharusnya juga ada tulisan sederhana penuh makna tentang perjalanan hidup.
Untuk mengisi ruang ini, telah hadir buku "Jejak Sepeda Abak", karya Novadiar yang juga mencoba mengisi sisi tulisan sastra karya guru.

Tak harus menapak jauh ke zaman dahulu atau melayang ke negeri orang untuk mencoba menyentil bulir air mata, Jejak Sepeda Abak adalah semacam otobiografi pribadi Novadiar dengan kisah hidup yang di tulis dengan ringan. 
Buku cetakan Februari 2020 ini diterbitkan oleh Ahsyara Media Indonesia. Kabupaten Kendal. Jawa Timur.

Berawal dari ide untuk menceritakan kisah hidup pada anak dan keluarga, Novadiar yang sekarang bertugas sebagai kepala sekolah SD Negeri 2 Magek, Kecamatan Kamang Magek Kabupaten Agam, mulai menulis kisah hidupnya. Tak hanya secara verbal namun dilahirkan dalam bentuk tulisan.

Lahir dari keluarga sangat sederhana telah memberi banyak kisah dalam hidup penulis. Rumah dengan atap jerami, hidup pas-pas an, tak punya sawah dan ladang dan tak punya banyak pilihan untuk bermain dengan teman sebaya karena biasa disibukan dengan keseharian membantu orang tua untuk kesawah orang lain yang di kerjakan keluarga. 

Abak adalah panggilan pada ayah yang cukup jarang terdengar sekarang. Namun penulis dan keluarga menyebut panggilan abak kepada sang ayah. 

Abak dimasa kecil penulis adalah seorang penjual jagung dan ubi kering yang biasanya dibeli para peternak itik dan ayam. Setiap hari abak mendayung ontel nya untuk membeli dan mengantar jagung dan ubi. Sekembali dari membeli jagung atau ubi biasanya penuh sesaklah batang sepeda dan tempat duduk penumpang dengan jagung dan ubi yang diikat.

Kisah sepeda ontel ternyata berlanjut setelah abak mencari peruntungan baru bekerja menjadi tukang, beliau bekerja menjadi tukang batu yang membangun rumah dan bangunan tembok. Dari keringat bersawah,berjualan jagung serta bertukang abak dan amak membesarkan empat orang anaknya dengan segala kegigihan, doa dan usaha.

Meski hidup pas-pasan namun cita-cita abak tak pernah surut untuk kesuksesan anak anaknya. Memang dulu abak tamatan SGA yang sebenarnya berpeluang jadi guru agama. Namun beliau memilih untuk merantau dan bekerja di Riau pada masa mudanya.

Seiring pejalanan waktu anak abak yang pertama telah tamat dari SPG dan lulus pula di IKIP Padang. Rasanya itu adalah hal yang mustahil bila dilihat dari keadaan keluarga untuk bisa berkuliah, namun tetnyata tak ada yang sulit dimata Allah. Ada jalan-jalan rezeki yang dimudahkan untuk keluarga ini. Bahkan keempat anak abak telah menamatkan kuliahnya masing-masing. Empat orang anak abak sekarang telah menjalani tugasnya masing-masing. Dua orang menjadi kepala sekolah di Sekolah Dasar dan dua orang lainnya menjadi guru di sekolah setingkat SLTA. Salah satu yang memberi andil adalah adanya sepeda ontel yang selalu beliau kayuh setiap harinya.

Kisah hidup ini disajikan dengan sederhana layaknya ibu menyampaikan kisah pada sang anak. Unsur-unsur dramatisir tak lahir dari pengkondisian penulisan. Namun ia muncul sebagai sebuah ke wajaran dari alur yang di sajikan.

Kesibukan menjadi kepala sekolah ternyata tak menghalangi niat penulis untuk melahirkan buku kedua ini. Kisah ini akan manjadi kenangan bagi anak, keluarga dan pembaca.


Tag :#JejakSepedaAbak #novadiar