HOME OPINI OPINI


  • Selasa, 16 Juni 2020
Interaksi Simbolik Dalam Pengobatan Tawa Sirih
Adam Ladito

Interaksi Simbolik Dalam Pengobatan Tawa Sirih

Oleh Adam Ludito

 

Pengobatan tawa sirih pada dasarnya memiliki makna, sebab peralatan yang digunakan dalam pengobatan seperti, daun sirih, pinang muda atau pinang sinawa, gambir, kapur sirih, tembakau sugi, kemenyan, bunga rampai, dan daun daun lainnya atau peralatan lainnya semua memiliki makna simbolik. Makna simbolik tersebut muncul dari hasil interaksi yang terjadi pada manusia.

Interaksi simbolik tergambar pada pengobatan tawa sirih. Secara simbolik dalam pengobatan tawa sirih diwakili oleh peralatan yang digunakan maupun pada mantra yang dilantunkan.

Pemaknaan simbol-simbol yang ada dalam pengobatan bisa dipahami sebagai pandangan subjek dari dalam diri sendiri bukan dari orang luar seperti dukun kampuang memaknai peralatan yang digunakannya.

Penggunan daun sirih, gambir ataukah pinang tidak semata untuk digunakan sebagai alat saja akan tetapi adalah bentuk atau cara yang ditempuh dukun kampung agar maksud dan tujuan yang telah direncanakan dapat terlaksana dan terwujud. Daun sirih sebagai tumbuhan tidak saja dipandang sebagai tumbuhan semata tapi siriah dapat digunakan sebagai salah satu alat penghormatan sesama manusia tapi juga alat untuk membangun hubungan manusia dengan mahluk gaib lainnya. Baik dari sisi keyakinanan agama maupun secara relegius alam ini tidak hanya terdiri dari alam nyata saja akan tetapi juga ada alam gaib. Agar terbangun relasi atau hubungan yang baik dengan mahkluk lainnya sirih dijadikan sebagai alat atau media komunikator. Walaupun secara medis atau secara kimia  sirih bisa menjadi bahan obat obatan atau yang dikenal sebagai obat herbal.

Di dalam hubungan sosial pada komunitas tertentu sirih masih digunakan sebagai alat pembangun komunikasi sebagi pengganti rokok, demikian juga penggunaan pinang dan lainya, penggunaan bunga rampai juga demikian. Bunga rampai yang terdiri dari berbagai campuran bunga bunga yang mengandung aroma wangi wangian yang diracik kemudian dicampur menjadi satu bentuk yang dinamakan bunga rampai. Haruman-haruman itu memaknai ketulusan dan kebersihan hati ketika kita menyatakan dan meminta sesuatu pada yang diluar penalaran kita, artinya ada sesuatu kekuatan yang diyakinani berada di luar kemampuan kita.

Demikian juga jika dikaitkan dengan penggunaan kemenyaan atau setanggi yang jika dibakar akan menghasilkan asap yang wangi  seakan akan asap yang wangi itu menghantarkan doa dan matra yang dilatunkan oleh dukun agar sampai pada yang mengabulkan permintaan atau yang kuasa . Bau harum dari asap kemenyan ataukah setanggi secara tidak langsung akan berpengaruh pada suasana kekhusukan si pemohon sehingga memunculkan bahwa apa yang dilakukan itu tidak main-main, secara spiritual membawa sipemohon maupun orang yang jadi klien dari pengobatan tawa sirih dihantar kedepan yang mengabulkan permohonan.

Demikianlah bahwa yang terjadi dalam pengobatan tawa sirih sarat dengan makna makna simbolik. Dari tindakan-tindakan makna simbolik yang ada akan melahirkan sikap dan tingkah laku yang diyakini secara tradisional dapat membantu masyarakat dalam memecahkan problem yang mereka hadapi terutama dalam pengobatan non medis denagan cara pengobatan tawa sirih.

Sirih, gambir, kapur sadah, pinang sinawa atau pinang muda, tembakau sugi (jika tidak ada bisa diganti dengan rokok). Air liur yang memerah karena gambir dan sadah menyerupai darah ketika dikunyah secara bersamaan maknanya adalah sebuah persaudaraan simbolnya darah sama-sama merah antara dukun dan pasien atau bisa juga sebuah penghormatan kepada saudara sedarah. Kapur sadah berfungsi untuk menetralisir atau meningkatkan basa pada tubuh manusia sehingga membuat kondisi badan menjadi tenang karena antara asam dan basa sama banyak atau stabil.

Makna simbolik atau interaksi yang terjadi ketika sadah itu dikunyah dengan sirih menyuruh agar pasien tenang dan terkendali secara psikologis. Interaksi simbolik yang terjadi ketika tembakau sugi digunakan sebagai perbersih mulut adalah sebuah permintaan maaf dari sang dukun, jika ada pertikaian yang terjadi selama interaksi terjadi. Jadi bersugi menyimbolkan sebuah perbersihan atas kata-kata yang salah atau tidak pada tempat.


Tag :#maknaSimbolik #pengobatanTawaSirih