HOME OPINI OPINI

  • Rabu, 27 Maret 2019
Cempedak Berbuah Nangka
Muhammad Nazri Janra

Cempedak Berbuah Nangka

oleh Muhammad Nazri Janra

Bak orang Minang berdiri sama tegaknya dengan orang Jawa atau orang dari suku bangsa lainnya, begitu pula antara cubadak (cempedak) yang bernama latin Artocarpus integer (Thunb.) Merr ini dengan nangka (nangko) atau Artocarpus heterophyllum Lam. ini. Tidak begitu terlihat perbedaan keduanya, karena sama mempunyai bau khas, sama bergetah, sama tinggi batang dan bentuk daunnya.

Tapi, semirip-miripnya orang Minang dengan orang Jawa, tetap ada yang bisa dibedakan dari keduanya. Begitu juga dengan kedua buah yang beda tapi tak sama ini. 

Cempedak, adalah tumbuhan khas di Asia Tenggara dengan penyebaran utamanya adalah di Indonesia dan Malaysia, sedangkan nangka selain juga ada di kawasan yang sama, juga meluas sampai ke India. Keduanya juga berkerabat dengan dua tumbuhan asli Indonesia (termasuk di Sumatera Barat), tarok (Artocarpus elasticus Reinw. Ex Blume) dan sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg).

Tapi, walaupun sama bergetah putih lengket jika batang atau dahannya terluka, keempatnya berbeda marga dengan karet (Hevea brasiliensis) yang merupakan pendatang di Indonesia. 

Selanjutnya, baik cempedak atau nangka sama-sama mempunyai batang yang berketinggian antara 20-50 meter. Warna dan bentuk kullit batang sama, tetapi jika didekati dan diamati lebih teliti, cempedak mempunyai daun yang berambut dan terasa kasar jika diraba dengan telapan tangan. Daun nangka, di lain pihak, mempunyai permukaan yang halus dengan sedikit atau tidak ada rambut di permukaannya. 

Cempedak dan nangka, sebagaimana semua jenis tumbuhan dari keluarga Moraceae, mempunyai bunga tertutup dengan artian tidak akan ada putik, benang sari ataupun bagian bunganya yang akan dapat dilihat dari luar. Semua bunganya berada dalam struktur yang diistilahkan dengan kendaga, membentuk susunan yang mengarah ke tengah di dalam kendaga tadi.

Penyerbukan pada keduanya terjadi secara mandiri, dimana bunga jantan dan bunga betina dari pohon yang sama saling membuahi tanpa bantuan serangga atau penyerbuk lainnya. Makanya, jika penyerbukan berhasil dan buah nangka tadi masak, kita bisa lihat buah-buah dan bijinya terusun secara teratur seperti karangan di dalam kendaganya tadi.

Sedikit perbedaan pada buah yang dapat diamati adalah kulit buah cempedak cukup menonjol dan membentuk duri-duri kasar walaupun tidak sekeras dan setajam duri durian. Ini yang membedakannya dengan nangka, yang kulit luar buahnya lebih halus dan cenderung tidak berduri. 

Nah, masuk ke bagian yang paling menarik dari kedua tumbuhan ini: buahnya. Yang dimaksud buah di sini adalah struktur berdaging lunak, berair dan mengandung gula serta melingkupi biji.

Buah nangka berbentuk lebih lonjong dibandingkan dengan cempedak yang lebih bulat; ini juga seiring dengan bentuk bijinya masing-masing yang mengikuti bentuk daging buah.

Selain itu, nangka punya banyak bakal buah tak jadi yang berbentuk serat-serat kasar berwarna pucat dan sama-sama ada di dalam kendaga buah. Dahulunya, bagian ini sering disebut sebagai “kutu” nangka, karena ukurannya yang kecil, tidak mempunyai biji dan sering terbuang begitu saja setelah semua buah yang ranum diambil dari bagian dalam kendaga. Walaupun pada beberapa varietas nangka, “kutu” ini kadang bisa berukuran cukup besar, ikut berwarna kekuningan dan rasanya cukup manis, sehingga sering juga ikut dimakan, tetapi sekali lagi, “kutu” nangka ini lebih banyak terbuang daripada dimanfaatkan. Berbeda dengan cempedak, kendaganya diisi kebanyakan oleh buah yang ranum nyaris tanpa “kutu” yang diceritakan tadi. Sehingga hal ini sering menjadi salah satu pertimbangan bagi orang untuk memilih satu di antara dua, daripada menyisakan “kutu” yang tak termakan, lebih baik menanam cempedak yang isinya jauh lebih “padat” dan menggiurkan. 

Kekurangan dari segi kuantitas isi buah pada nangka ini sepertinya diimbangi dengan kualitas buah yang sedikit lebih dibandingkan dengan cempedak. Nangka mempunyai tekstur buah yang lebih kenyal dengan rasa manis serta aroma yang tidak terlalu menyengat, sehingga “ramah” untuk orang-orang yang mempunyai sensitifitas terhadap bau-bauan yang terlalu kuat. Cempedak justru berbau lebih menyengat dibandingkan dengan nangka, dengan tekstur daging yang lebih lunak dan lembut, sehingga mungkin lebih cocok untuk diberikan kepada anak-anak. 

Setelah ditimbang-timbang dan dihitung-hitung dengan sesama kelebihan dan kekurangan dari keduanya, mungkin kita bisa sama-sama sepakat kalau nangka secara kualitas lebih unggul dibandingkan dengan cempedak. Jika memang demikian, maka kita bisa pula sama-sama mengerti maksud dari pantun yang dijadikan judul tulisan ini.

Cempedak berbuah nangka diartikan mendapakan keuntungan yang lebih dibandingkan dengan usaha atau biaya yang diberikan. Atau bisa juga mendapatkan hasil yang lebih baik dari yang diharapkan. 

Tapi, dari segi ilmu pertanian modern sekarang, pepatah ini juga tidak bisa dipandang sebagai pepatah semata. Pepatah ini seperti mengisyaratkan bahwa orang-orang tua kita terdahulu telah melakukan proses pemuliaan tanaman budidaya, yang dimulai dengan mengenal sifat-sifat unggul yang dipunyai. Buktinya, pantun ini meletakkan nangka sebagai tumbuhan yang lebih baik daripada cempedak dalam hal segi mutu buahnya. Di lain pihak, pepatah ini juga bisa merujuk kepada fenomena grafting, sambung tunas, sambung pucuk dan semacamnya, dimana dua tumbuhan yang berkerabat dekat dengan sifat-sifat unggul saling disatukan untuk menggabungkan sifat-sifat unggulnya dan meminimalkan kekurangannya.

Bisa jadi batang bawah berikut akarnya berasal dari cempedak yang dipilih karena mempunyai perakaran yang kuat dan tahan disambung dengan batang atas dari nangka yang mempunyai kualitas buah yang unggul.

“Cempedak berbuah nangka” sepertinya merupakan sepenggal isyarat sejarah budidaya pertanian di jaman nenek moyang kita dulu yang dimaktubkan ke dalam pepatah; pun mungkin menjadi sebentuk ramalan terhadap masa depan pertanian modern kita sekarang ini. Wallahu’alam. 
Wallahu’alam.

(Muhammad Nazri Janra, Dosen Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Andalas) 


Tag :opiniMNazriJanra