HOME OPINI OPINI

  • Rabu, 17 April 2019
Bingung di Bilik Suara
YY Dt Radjo Bagindo

Bingung di Bilik Suara

oleh Yulizal Yunus

 

Dilansir pers pagi 17 Apri 2019 para pemilih di TPS 009, Desa Keserangan, Serang, Banten kebingungan.  Mereka bingung karena jumlah kertas suara banyak. Lima surat suara.  Partai banyak.  Lebih banyak lagi caleg yang mesti dipilih. Sementara warga tani nelayan kampung tidak kenal juga siapa yang harus mereka pilih,  meski telah melewati masa kampanye. 

Fenomena serupa Serang,  banyak ditemukan. Pernah beberapa waktu lalu pulang kampung. Secara acak ditanya beberapa perempuan tani,  justru mereka bertanya,  siapa yang boleh dipilihnya. Mereka tahu bebas umum rahasia,  justru mereka sulit mengenal calegnya. Tidak mau hafal siapa calegnya. Ada datang caleg saat kampanye. Diberi namanya. Tingkat kabupaten/ kota. Tingkat provinsi dan pusat. Tak lama, lupa.  Kami sulit bacanya,  namanya banyak.  Entah yang mana dulu datang, tak ingat lagi. Wajah caleg yang dibisiki lupa namanya. Untuk kabupaten/ kota,  provinsi atau pusat,  tak ingat lagi. "Maklumlah,  kami sehari-hari ke sawah ladang. Tak bisa baca koran.  Tak juga internet. TV pun tak sempat nonton. Begitulah masalah kami di kampung". "Tapi calon presiden, tahulah  kami pak, bukankah dua saja". 

Ternyata gemuruh kampanye pemilihan calon presiden lebih seru,  menghimpit kampanye caleg meskipun berdaram-daram dan timnya zigzag, keluar kampung masuk kampung. Karenanya masyarakat akar rumput, di tps-tps di kampung dan kawasan pinggiran kota (hinterland) sampai pagi jelang memilih,  masih bertanya dab bingung, "siapo nan kadipilih ko". 

Keluar dari bilik suara ngoceh juga,  "asal coblos sajalah". Gimana nek kata cucuk.  "Sumbarang se lah piak". Tapi bukankah sudah dibisikkan dan pakai jimat. "Ya, tapi di bilik suara itu, nama caleg banyak dan kecil-kecil tulisan,  kabur gambar,  paniang saya". Begitulah. Disebut nama oleh cucunya.  Dihafalnya. pengalaman pemilu sebelumnya juga masih terulang 17 April pagi ini,  nama yang tadi hafal,  saat menusuk di bilik suara,  dicari tak bersua. Entah di partai apa,  nomor berapa, payah mencarinya.  Caleg banyak.  Tulisannya kecil- kecil.  Akhirnya mencoblos juga,  tapi tak keruan,  sembarang pilih saja.

Ada yang tua cerdas berkata berani. Enak juga pemilu zaman dulu lagi, katanya.  Yang dipilih partai saja. Yang menentukan caleg duduk,  partainya, sesuai nomor urut caleg. Prioritas nomor sesuai kapasitas dan tingkat kualitas kader partai. Partai mengader kader untuk caleg berkualitas. Beda pilih satu orang satu suara seperti sekarang (one man one vote) masa mengambang,  kualitas kader caleg tak jelas. Sebaiknya,  kembali seperti dulu,  sistem perwakilan,  penentuan caleg diwakili partai. Memilih presiden diwakilkan kepada anggota legislatif terpilih duduk di DPR RI secara musyawarah perwakilan. Ya seperti amanat Pancasila dan UUD 1945", sarannya. Menyiratkan ia berfikir,  saatnya kembali ke Pancasila dan UUD 1945 serta penting perbaikan sistem pemilu yang kembali seperti dulu sistem perwakilan. Dulu, politik uang ada juga,  tapi tak separah kini.  Dulu main pitih, partai saja.  Kini partai dan caleg mengeluarkan uang besar merayu pemilih. Yang pemilih tak bisa juga mengenalnya seketika. Negara pun mengeluarkan dana besar pula biayai pemilu serentak. Ironisnya,  rakyat seolah jadi masyarakat uang. Harga diri jatuh,  nilainya sebesar uang dibagi-bagi. Tak ada uang tak dipilih. Watak pragmatis muncul, memilih bukan untuk negeri. Tapi untuk diri. Tali tali, ijuk ijuk, kini kini esok esok. Ambik pitinya kini yang jelas, besok belum tentu. Wajar pula caleg yang duduk,  lewat di kampung kaca mobil ditutup, bukankah dulu sudah dibayar. "Kiranya situasinal pemilu begini,  jadi pemikiran perbaikan bagi politisi,  negarawan dan pemerintah," katanya berharap. 


Tag :opiniYulizalYunus