HOME OPINI OPINI

  • Rabu, 10 Juni 2020
Adat, Islami Life Style Orang Minang
Yulizal Yunus

Adar, Islami Life Style Orang Minang

Oleh Yulizal Yunus


ABS-SBK sebaiknya pulangkan ke bahasanya, ia sumpah, kita sebut janji atau konsesus,  kemudian menjadi filosofi masyarakat hukum adat (MHA) Minang. Artinya jangan disebut sebagai adagium. Ia rumusan fundamental sumpah sati. Sebagai sumpah moyang dahulu,   berat sekali sumpah itu,   hutang kita sekarang mengisi janji,  menjadikan prilaku dan mensosialisasi kannya menjadi prilaku dan budaya hukum adat. 

Apa sumpahnya? Siapa yang tidak melaksanakan dan sampai mewariskan ka anak cucu, Sdat Basandi Syara' - Syara' Basandi Kitabullah itu, kateh indak bapucuk kabawah indak baurek di tangah digiriak kumbang,  dimakan biso qawi (kutuak yang maha kuat - Allah) dikutuk Qur'an 30 juz. Ya Allah bareknyo sumah. Jan kito kanai sumpah nenek moyang ko lah sajak 1403 ko. 
Wisran Hadi katiko kami (unsur adat, akademisi, organisasi adat) akan mambuek rumusan matrik nilai ABS-SBK 2006 kalau tak salah,  ia mengedepankan tanya,  kenapa kitabullah kenapa tidak al-Qur'an?. Dirumus jawaban, (1) sumpah pertama itu menyebut al-Qur'an 30 juz. Penggalan sumpah tadi bersumpah melaksanakan ABS Syara' Basandi Kitabullah. Rumusan sumpah ini dirumus sebagai Undang Adat Minangkabau, dijadikan sebagai dasar Kesultan (Kerajaan berciri Islam,mulai sultan Bakilap Alam), terdiri dari 15 pasal dan 90 ayat. Siapa yang tak melaksanakan ABS SBK yang dirumus sebagai Undang Adat Minangkabau inilah  disumpah sampai ke anak cucu dimakan Qur'an 30 juz.

  (2) Kitabullah,   ada kaidah penuntun ulama yang sudah dipahami sejak itu,  ?? ?? ???? ?????????  ???? ???????? ?? ???? ????  !  ?? ?? ???? ?????. ???? ???? ?? ?????? ??????  (ma huwa shirat al-mustaqim? huwa Kitabullah. Ma huwa Kitabullah? Huwa al-Qur'an al-Karim/ apa yang dimaksud shiratalmustaqim/ jalan lurus yang mesti dipatuhi ditempuh, ia adalah Kitabullah. Apa yang dimaksud Kitabullah?  Kitabullah adalah al-Qur'an al-Karim. Jadi Kitabullah dalam filosofi dari konsesus/ sumpah sati itu maksudnya Qur'an. 

(3) Kenapa adat tak langsung basandi Kitabullah/ Qur'an,  karena sandi/ dasar utama Islam Qur'an. Tak mungkin pula adat menyamai sumbernya Islam. Sedangkan adat sandinya adalah Islam yang basandi Qur'an/ Kitabullah itu. Dari sini lahirlah berikutnya filosofi pelaksanaannya,  yakni SM-AM (Syara' Mangato Adat Mamakai). Artinya adat makai kato/ nilai/indpirasi Islam. Kerenn itu dalam tambo hukum adat disebut adat itu pakaian/ nan dipakai, sedangkan Islam/ syari'at adalah nan kadi tumpang. Lalu adat itu oengamal makna dan nilai Islam itu. Diajar makna konteks untuk dipakai dalam berbagai konteks kehidupan,  bukan hanya teks. 

Dalam bahasa lain,  tak adat mengajar tak berhenti pada teks lagi, sudah harus paham nilai konteks. Itu yang minta dipakai adat. Itu petunjuk adat. Tapi kenapa kita hanya berhenti pada teks,  itu adalah parangai kita,bukan adat. Bedakan parangai dengan adat. Justru petunjuk adat, yang dipakai itu konteks kato Islam yang bersumber Qur'an/Kitabullah itu. Karena itu tak ada yang salah pada adat yang mamakai Islam, yang salah itu parangai (laku,  budaya) awak.  

Kita sering tak membedakan mana yang adat dan mana yang parangai. Salah paham itu,  terkesam pada sementara orang memahami HAMKA dan perinsip pesannya pada beberapa novelnya: Merantau ke Deli,   Di bawah Lindungangan Ka'bah,Tenggelamnya Kapal van Derwijk dll. Disebut HAMKA benci adat,  pada hal tidak.  Yang ia benci adalah parangai tokoh/ pemangku adat atau yang mengklaim paham adat dan mengaku beradat,  tetapi parangainya tak beradat. 

Jadi adat Minang yang disandi (jangan sebut sendi, tapi sandi)  Islam berdasarkan Qur'an, melaksanakan Islam itu sendiri. Teologi adat itu Islam itu sendiri. Kalau tidak ada ditemukan nilai praktis yang dikatakan oleh Islam berdasarkan Kitabullah/ Qur'an sebagai sunnatullah tertulis itu,  orang Minang membaca tada dan kearifan alam sebagai sunatullah tidak tertulis. Timbullah filosofi ke-3 yakni ATJG (Alam Takambang Jadi Guru). 

Alam itu bagi orang Minang adalah guru yang tetap berubah,  sedangkan Qur'an disebut Minang surek tak pernah hilang. Kukuhlah orang Minang itu di samping punya filsafat Islam, punya filsafat alam (kauniyah, kosmologi). Alam mencirikan orang Minang. Dengar orang  kampung kita,  meski tak sekolah tinggi, tapi dalam satu tahun setidaknya lahir juga kosa jata alamnya sebut Rusli Marzuki Saria. Itu fakta. Kita orang aKademik ini,  yang paling khawatir hilangnya adat,  kapan kita melahirkan kosa kata baru,  paling kita,  seperti isyilah ??? ???? (qila wa qala (dikatakan, lalu mengatakan, kutip mengutip, kadang lupa pula sebut sumbenya). 

Orang piawai di kampung itu,  kaya kosa kata alam. Bahasa orang Minang bahasa alam, dengar petata/ pepatah dan petiti, penuh dengan kosa kata alam. Kita yang tak punya bahasa alam,  ada ungkapan yang tak enak,  tak orang Minang kalau bahasanya tidak alam,   bahasa 12 pas,  ungkapan misal: tak mangarati den bahaso ang do,  tapi orang Minang mengatakan,  balum tarang bak nyo kabuik (masih bakabuik, kabut), lalu dijawabnya: tarangkan lah bak nyo kabuik!. Kalau bahasa 12 pas begitu, ndak Minang sejati namanya,  tak paham Minang, numpang lahir dan minum makan di Minang. Keras amat,  ungkapan orang Minang ini. 

Artinya orang Minang piawai membaca tanda dan kearifan alam. Karenanya orang Minang sejati,   optimis,  selama orang Minang ini pandai membaca surek/ Qur'an dan mengamalkannya dalam berbagai konteks kehidupan dan atau juga selama orang Minang pandai membaca tanda dan kearifan alam sebagai guru, selama itu pula adat Minang tetap ada dan dipakai, terpakai. 

Hal yang fundamental bagi orang Minang,  Adat nan ka dipakai,  agama nan ka ditumpang. 
Benar Dr. HAHA (ayah HAMKA)  dalam bukunya Pertimbangan Adat (1923), apa yang disebut adat Minang?  ?????? ???????? ?? ??? ??? ?? ??? ?????? ???? ??? ?????? ??? (al'adat al-mu'tabarah,   makana laha fi zamanin nubuwwah,  failla fala i' tibarun laha,  adat itu yang kuat/dipakai,  sudah ada norm sejak masa kenabian/ dari Adam as sampai Muhammad SAW,  karenanya jadikanlah adat itu pedoman). Akhirnya dipahami adat nan disandi Islam ini, pakaian Islami life style kita orang Minang.


Tag :#adatMinangkabau #IslamiLifeStyle