HOME RANCAK KABUPATEN AGAM

  • Jumat, 4 September 2026

'Mambangkik Batang Tarandam': Kisah Da Ujang, Penjaga Sekolah Yang Antarkan Anaknya Jadi Prajurit TNI

Alfis dan Keluarga (Foto : Istimewa)
Alfis dan Keluarga (Foto : Istimewa)

'Mambangkik Batang Tarandam': Kisah Da Ujang, Penjaga Sekolah yang Antarkan Anaknya Jadi Prajurit TNI

Baso (Minangsatu) Di balik pagar besi dan riuh rendah aktivitas siswa SMKN 1 Baso, Kabupaten Agam, ada sepasang mata yang berkaca-kaca menahan haru. Adalah Arisman (41), atau yang lebih akrab disapa Da Ujang. Selama sebelas tahun terakhir, harinya dihabiskan untuk memastikan sekolah tetap bersih, aman, dan nyaman. 

Namun siapa sangka, dari tangan dingin seorang penjaga sekolah berpenghasilan pas-pasan ini, lahir seorang abdi negara.

Da Ujang dan istrinya, Riza Afriyanti (40)—yang akrab dipanggil Ni Mija—baru saja memecahkan mitos tentang 'privilese'. Keterbatasan ekonomi yang kerap menjadi momok bagi anak-anak pinggiran untuk meraih mimpi besar, berhasil mereka runtuhkan.  Anak sulung mereka, Alfis Muhammad Nur, resmi dinyatakan lolos seleksi TNI Angkatan Darat.

Kini, alumni MAN Kubang Putiah itu sedang menempuh pendidikan militer di Medan Sumatera Utara. Ia tengah menunaikan misi mulia yang dalam pepatah Minang disebut 'mambangkik batang tarandam'—mengangkat kembali martabat keluarganya.

Taruhan Harga Diri dan Air Mata

Saat ditemui di kompleks SMKN 1 Baso pada Rabu (02/09/2026), Da Ujang masih tampak tak percaya dengan mukjizat yang menghampiri keluarganya. Suaranya bergetar saat mengenang kembali perjuangan berdarah-darah mengawal sang putra.

"Rasanya seperti mimpi, Pak. Kami ini siapa? Untuk keperluan sehari-hari saja boleh dibilang pas-pasan. Tapi saat anak saya bilang mau ikut tes TNI, saya buang semua keraguan. Saya tidak peduli kondisi saya seperti apa. Melihat keuletan dan kegigihan Afis, saya sadar diri, saya harus bertaruh segalanya untuk dia," kenang Da Ujang dengan mata berkaca-kaca.

Perjuangan itu tidak mudah. Seleksi TNI membutuhkan fisik, mental, dan tentu saja biaya operasional yang tidak sedikit untuk mondar-mandir selama tahapan tes. Di sinilah cinta seorang ayah diuji. Demi sang anak, Da Ujang melipat rapi gengsi dan harga dirinya.

"Dengan keyakinan itulah saya berani pinjam sana-sini untuk kebutuhan Alfis selama seleksi. Saya rela menahan malu, asalkan cita-cita anak saya tidak berhenti di tengah jalan," tegasnya.

Beruntung, ketulusan Da Ujang mengetuk hati orang-orang di sekitarnya. Majelis guru di SMKN 1 Baso mengulurkan tangan, memberikan dukungan moral dan material yang tak terhingga.

Tangis Bahagia di Bulan Juni

Segala lelah, peluh, dan utang yang menumpuk terbayar lunas pada Jumat, 12 Juni 2026. Hari itu, nama Alfis Muhammad Nur tertera dalam daftar mereka yang lulus seleksi.

"Saat Alfis dinyatakan lulus, saya tidak bisa berkata-kata lagi. Lidah saya kelu karena terlalu bahagia. Di titik itulah saya semakin yakin, jika Allah sudah berkehendak dan kita mau berusaha, tidak ada yang tidak mungkin," ucapnya penuh rasa syukur.

Meski anaknya kini selangkah lagi memakai seragam doreng kebanggaan, Da Ujang tak ingin Alfis tinggi hati. Bagi pria paruh baya ini, kelulusan tersebut bukanlah akhir, melainkan gerbang awal dari pengabdian yang sesungguhnya kepada bangsa.

"Pesan saya untuk Alfis, jadilah abdi negara yang jujur dan bertanggung jawab. Jadilah anak nagari yang santun kepada masyarakat, dan tetap menjadi kakak yang pelindung bagi adik-adikmu. Semoga Allah selalu menjagamu, Nak," harap Da Ujang penuh doa.

Kembali ke Rutinitas, Memeluk Rasa Syukur

Setelah badai air mata bahagia itu mereda, kehidupan di sudut SMKN 1 Baso kembali berjalan seperti biasa. Da Ujang tetap setia dengan sapu dan seragam kerjanya membersihkan sekolah. Ni Mija pun tetap tersenyum ramah menyapa siswa yang berbelanja di kantin kecilnya.

Secara kasat mata, tidak ada yang berubah dari rutinitas pasutri ini. Namun, di dalam dada mereka, ada rasa bangga yang bergemuruh. Langkah kaki Alfis sebagai prajurit TNI AD memang baru saja dimulai, tetapi dari sebuah bilik sederhana di lingkungan sekolah, doa dan air mata orang tuanya telah berhasil mengantarkan ia terbang tinggi menggapai cakrawala.


Wartawan : Arif Munandar
Editor : melatisan

Tag :'Mambangkik, Batang Tarandam, Kisah Da Ujang, Penjaga Sekolah, yang Antarkan, Anaknya, Jadi Prajurit TNI

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com