- Jumat, 16 Januari 2026
Awas Gagal Paham! Serba-Serbi Kata Awak Dalam Bahasa Minang Yang Punya Dua Wajah
Awas Gagal Paham! Serba-Serbi Kata Awak Dalam Bahasa Minang yang Punya Dua Wajah
Oleh: Andika Putra Wardana
Pernahkah kamu merasa bingung saat mengobrol dengan teman dari Sumatera Barat, lalu tiba-tiba diajak serumah padahal baru kenal? Misalnya saat dia berkata, "Rumah awak di situ," dan kamu langsung berpikir sejak kapan kalian tinggal bersama. Tenang saja, kamu tidak salah dengar dan dia juga tidak sedang halu. Kamu hanya sedang berhadapan dengan salah satu kata paling unik dan "ajaib" dalam kosa kata daerah tersebut.
Penggunaan kata awak dalam bahasa Minang memang sering membuat pendatang garuk-garuk kepala karena sifatnya yang seperti bunglon, satu kata bisa memiliki dua arti yang sangat bertolak belakang tergantung situasi.
Pada dasarnya, kata ini adalah bentuk diplomasi bahasa yang sangat cantik. Di satu sisi, kata "awak" digunakan sebagai kata ganti "Saya" yang paling halus. Orang Minang cenderung menghindari penggunaan kata "Aku" karena terdengar asing, dan sangat pantang menggunakan kata "Aden" kepada orang yang dihormati karena dianggap kasar.
Sebagai jalan tengah, mereka menggunakan "awak" untuk merujuk pada diri sendiri. Filosofinya adalah kerendahan hati, dengan menyebut diri sebagai "awak" (yang berarti badan/tubuh), seseorang sedang menekan egonya agar setara dengan lawan bicara dan tidak terdengar sombong.
Namun, di sisi lain, awak dalam bahasa Minang bisa berubah wujud kembali ke makna Melayu aslinya, yaitu "Kita" atau "Kami". Biasanya ini terjadi saat membicarakan hal-hal yang bersifat kepemilikan bersama atau kebanggaan kolektif, seperti "Kampuang awak" (kampung kita) atau "Adat awak" (adat kita). Di sini, kata tersebut berfungsi sebagai rangkulan persaudaraan, menandakan bahwa tidak ada jarak antara pembicara dan pendengar, semuanya adalah satu kesatuan masyarakat yang kompak.
Lantas, bagaimana cara membedakannya agar tidak salah tafsir? Kuncinya terletak pada kepekaan membaca bahasa tubuh dan konteks obrolan. Jika temanmu bicara sambil menunjuk dadanya sendiri atau bernada sedikit merendah, itu pasti artinya "Saya".
Tapi jika dia bicara dengan tangan terbuka atau membahas isu umum, itu artinya "Kita". Jadi, memahami kata ini bukan sekadar soal kamus, tapi belajar tentang raso (perasaan) dalam budaya Minang yang sangat menjunjung tinggi kesopanan sekaligus kebersamaan.
Editor : melatisan
Tag :Awas, Gagal Paham, Serba-Serbi, Kata Awak, Bahasa Minang, Punya Dua Wajah
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
TERNYATA INI BEDANYA! MENJAWAB PERTANYAAN ABADI MINANG DAN PADANG APAKAH SAMA?
-
BIKIN MERINDING! MENGUAK MAGISNYA ALAT MUSIK TRADISIONAL MINANGKABAU YANG BISA BERBUNYI TANPA PUTUS NAPAS
-
BUKAN SEKADAR DONGENG! TERNYATA NEGERI TERTUA DI MINANGKABAU ADALAH DESA CANTIK DI KAKI GUNUNG MARAPI
-
HATI-HATI KENA PRANK! KENALI ISTILAH BAHASA MINANG BOHONG DARI YANG SEKADAR BUAL LAPAU SAMPAI TIPU MUSLIHAT
-
SIAP-SIAP TEPAR! DERETAN MAKANAN KHAS MINANGKABAU" INI DIJAMIN BIKIN DIETMU GAGAL TOTAL
-
PASAN BURUANG DAN ALAM YANG LUKA: RENUNGAN EKOKRITIK DI TENGAH BENCANA SUMATERA
-
MAHASISWA KKN KEBENCANAAN UNIVERSITAS ANDALAS LAKUKAN PENDATAAN DAMPAK BANJIR DI KAPALO KOTO, PADANG
-
SEDIKIT KEGEMBIRAAN DI TENGAH KECEMASAN, CATATAN HENDRY CH BANGUN
-
MAHASISWA KKN UNIVERSITAS ANDALAS TOBOH GADANG DORONG PERTANIAN BERKELANJUTAN MELALUI PROGRAM RAMAH LINGKUNGAN
-
MAHASISWA KKN UNAND MENGAJAR DI DUA TK TOBOH GADANG, KENALKAN RAGAM HIAS MINANGKABAU DAN JEPANG