HOME PENDIDIKAN KOTA PADANG

  • Jumat, 24 Desember 2021
PUSAT RISET KEBUDAYAAN MINANGKABAU UNP ADAKAN FGD BANGKITKAN KEBUDAYAAN MINANGKABAU DI ERA DIGITALISASI
Dr. Hasanuddin, M. Si., Datuk Tan Patih, Ketua PSBBSM (kemeja dongker, paling kanan), sebagai Narasumber FGD Pusat Riset Kebudayaan Minangkabau UNP.

Padang (Minangsatu) - Pusat Riset Kebudayaan Minangkabau Universitas Negeri Padang menyelenggarakan diskusi terpumpun (FGD) pada Kamis (23/12), bertempat di  Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNP, Kampus Air Tawar, Padang. 

Diskusi tersebut mengusung tema “Membangkitkan Kebudayaan Minangkabau di Era Digitalisasi”. 

Bertindak sebagai pemandu diskusi adalah sosiolog UNP, Dr. Erianjoni, S.Sos., M.Si. menghadirkan lima orang narasumber, yakni Dr. Hasanuddin, M.Si. Datuk Tan Patih dan Dr. M. Nur, MS (FIB UNAND), M. Taufik, M.Si. (UIN Imam Bonjol Padang), Januaridi, MLS (Dinas Kebudayaan Sumatera Barat), dan Hasanadi, S.S., M.Hum (BPNB Sumatera Barat). 

Dalam hantaran diskusi, Ketua Pusat Riset Kebudayaan Minangkabau UNP, Dr. Rusdi, M.Hum. menyampaikan bahwa pendirian Pusat Riset itu diinisiasi oleh dosen-dosen pengampu mata kuliah Sejarah Minangkabau di FIS UNP. 

Agenda awal pusat riset adalah membuat web, naskah akademik, studi literatur, dan FGD ini. 

Dengan keberadaan Pusat Riset ini, UNP menunjukkan kommitmen untuk memberdayakan seluruh sumber daya yang ada demi pemajuan kebudayaan.

Dr. M. Nur, MS, dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UNAND menyebut bahwa Minangkabau melintasi territorial Sumatera Barat, meliputi sebagian Provinsi Riau, sebagian Jambi, juga sebagian pesisir pantau barat Sumatera Utara dan Aceh, bahkan sampai ke Negeri Sembilan Malaysia. 

Menurutnya, mengkaji Minangkabau bisa dilakukan dari aspek bahasa, politik, religi, kesenian, dan lainnya. 

Demikian pula dari segi sejarah, Minangkabau memiliki potensi luar biasa, karena memiliki situs-situs prasejarah dan surau-surau tua sebagai warisan budaya yang dapat diregistrasi sebagai warisan budaya. 

Gambaran masa kolonial, proses islamisasi yang melahirkan filosofi “adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah (ABS SBK)”, juga tidak kalah penting. 

Termasuk sejarah dalam konteks nasionalisasi, yakni: PDRI, desentralisasi, dinamika nagari, dan aspek lainnya. Semua itu adalah lahan kajian yang dapat dieksplorasi oleh Pusat Riset ini. 

Januarisdi, MLS dari Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat juga menyampaikan sisi-sisi sangat strategis dari kebudayaan Minangkabau. 

Pustakawan Madya UNP itu berilustrasi tentang proses ketertarikan dan transformasi focus perhatian keilmuannya kepada kebudayaan dalam waktu yang singkat. 

Basis keilmuannya adalah bahasa, tetapi dengan dasar itu pula beliau tertarik mendalami Kebudayaan Minangkabau. 

Dalam Bahasa Minangkabau sudah sejak dulu dikenal konsep nan tasurek, nan tasirek dan nan tasuruak. 

Sementara Noam Chomsky dari Institut Teknologi Massachusetts baru merumuskan dua hal dalam Teori Bahasa Generatifnya pada era 1970-an, yaitu surface structure (nan tasurek) dan deep structure (nan tasirek), dan belum ada konsep nan tasuruak dalam teori itu.  

Pemilik kanal DidiTV itu juga menyatakan bahwa Minangkabau adalah komunitas yang paling konsisten dalam Islam. 

Islam masuk ke Minangkabau abad ke-7 dan dalam proses panjang menjalani proses pematangan integrasi, sebagaimana digambarkan tahapannya dalam mamang adat: “adat jo syarak sanda basanda” menjadi “adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah” dan finalnya adalah “syarak mangato adat mamakai”. 

Mengutip statemen Inyiak Canduang, Didi menyampaikan bahwa adat itu ibarat tubuh dan syarak adalah jiwa, maka “adat bapaneh syarak balinduang”. 

Jadi, konsep ABS-SBK itu bukan falsafah tapi sumpah atau bai’ah, simpulnya. Konsep “raso jo pareso” juga mengandung konsep ilahiyah tentang kebenaran. 

Menanggapi gerakan nasional literasi, ternyata inti konseptual literasi itu telah ada dalam kebudayaan Minangkabau. Semua itu adalah unsur kebudayaan Minangkabau yang potensial pula sebagai daya tarik wisata, katanya.

Narasumber dari UIN Imam Bonjol, M. Taufik, M.Si. menyoroti interrelasi Kebudayaan Minangkabau dengan Islam.  
Minangkabau, menurutnya, adalah cara hidup sekaligus dunia ide yang holistic dan komprehensif. Pertanyaan yang tidak habis-habisnya adalah mengapa Islam diterima di Minangkabau. 

Makrokosmos Minangkabau tentang kebenaran mentransformasikan konsep “alue jo patuik” menjadi “bana badiri sandirinyo”. 

Karena kebenaran bukan milik perorangan atau kelompok tertentu, maka di Minangkabau dibenarkan adanya oposisi, sesuai dengan pituah “lawan guru jo kaji-lawan mamak jo pituah”. 

Pola pilihan okupasi Orang Minangkabau juga khas, sehingga riset-riset bisa menjawab mengapa tidak banyak jenderal Bintang Empat dari Orang Minangkabau, mengapa sulitr mencari pembantu, dan banyak fenomena lainnya. 

Demikian pula tentang perubahan, adat Minangkabau memiliki konsep yang khas tentang itu, sehingga ada adat yang dapat berubah dan ada adat yang tidak boleh berubah yang disebut mereka sebagai “adat nan sabana adat”. 

Statement “Orang Minangkabau harus Islam” adalah soal konsensus bukan masalah hak asasi atau lainnya. Bahkan, begitu istimewa dan komprehensifnya Minangkabau itu, sampai-sampai M. Taufik berpikir “Apakah Minangabau itu setara dengan sebuah agama (agama al ardh)?” 

Catatan akhir dosen Fakultas Syariah itu adalah indikasi penyebaran ajaran Islam yang berterima di Minangkabau adalah yang menggunakan pendekatan tradisional seperti dilakukan Inyiak Canduang dan ulama lainnya. 

Ulama-ulama tersebut mampu menjelaskan posisi matrilineal, harta pusaka, larangan kawin sesuku, dan lainnya. 

Hasanadi, M. Hum. dari Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat mendukung berdirinya Pusat Riset Kebudayaan Minangkabau UNP itu. 

Menurutnya, hal itu sejalan dengan Tupoksi BPNB Sumatera Barat, yaitu melakukan kajian, pendokumentasian, inventarisasi, dan kegiatan bertajuk even internalisasi nilai budaya dan kesejarahan di tiga wilayah kerjanya, yakni: Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. 

Saat ini BPNB sedang mematangkan kesiapan berdirinya Pusat Data dan Informasi Matrilinial dan akan membuka peluang kerja sama riset, perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan kebudayaan sesuai dengan paradigm Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang  Pemajuan Kebudayaan. 

Hasanadi yang merupakan alumni Sastra Minangkabau UNAND itu menambahkan adanya 10 objek pemajuan kebudayaan, yakni: tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, pengetahuan trafisional, permainan tradidional, seni, bahasa dan ritus. “Kesemua itu adalah lokus riset Pusat Riset Kebudayaan Minangkabau,” katanya.

Narasumber terakhir adalah Dr. Hasanuddin Dt. Tan Patih. Ketua PSBBSM (Perkumpulan Sarjana Budaya Bahasa Sastra Minangkabau) dari UNAND itu mengajak agar Pusat Riset Kebudayaan Minangkabau UNP ini menggalang kolaborasi sinergis multipihak. 

Di samping itu, Pusat Riset itu perlu melakukan studi kebutuhan pemangku kepentingan. Sebab, eksistensi Pusat Riset ini akan dirasakan perannya oleh masyarakat Minangkabau apabila mampu menjawab berbagai tantangan dan membantu menyelesaikan kompleksitas masalah masyarakat yang actual ada. 

Isu-isu yang penting saat ini adalah kembali ke system pemerintahan nagari yang indigenos, pendidikan muatan local, dan kepariwisataan berbasis budaya. Sekaitan dengan itu, riset-riset mesti diarahkan dengan target output dan outcomes yang terukur.

Kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga siang hari itu diikuti dengan cermat oleh Pengurus Pusat Riset Kebudayaan Minangkabau, yang terdiri atas Dr. Rusdi, M.Hum, (Ketua), Drs. Etmihardi, M.Hum., Hendra Naldi, S. S., M.Hum., Muhammad Hidayat, M.Si. Rengga Satria, M.Ag., Firza, M.Pd., dan Uun Liona, M.Pd. 

Sebagai kata akhir, Sekretaris Pusat Riset Kebudayaan Minangkabau Hendra Naldi berharap agar seluruh narasumber bersedia berkolaborasi lebih jauh.*


Wartawan : CWH
Editor : Benk123

Tag :#unp