- Rabu, 4 Maret 2026
Peran Datuak Katumanggungan Dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang Dalam Sejarah Adat Minangkabau
Peran Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang dalam Sejarah Adat Minangkabau
Oleh: Ari Yuliasril
Nama Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang selalu muncul ketika orang Minang berbicara soal asal-usul adat. Di berbagai nagari di Sumatera Barat, kisah dua tokoh ini masih dituturkan dalam tambo dan menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat. Mereka dikenal sebagai perumus sistem adat Minangkabau yang kemudian berkembang menjadi dua kelarasan besar.
Dalam Tambo Minangkabau, kedua tokoh ini disebut sebagai pemimpin awal yang menyusun aturan hidup masyarakat setelah masa pemerintahan awal di ranah Minang. Peran mereka bukan sekadar tokoh cerita, tetapi melekat dalam struktur adat yang masih dipakai hingga sekarang.
Dua Tokoh, Dua Sistem Adat
Dalam tambo, Datuak Katumanggungan dikenal sebagai tokoh yang melahirkan sistem adat yang kemudian disebut Kelarasan Koto Piliang. Sistem ini digambarkan memiliki struktur kepemimpinan yang bertingkat, dengan pola yang tegas dalam susunan penghulu dan pengambilan keputusan adat.
Sementara itu, Datuak Parpatiah Nan Sabatang melahirkan Kelarasan Bodi Caniago. Dalam tambo, kelarasan ini dikenal dengan sistem yang lebih musyawarah dan menempatkan keputusan berdasarkan mufakat bersama. Kedua sistem ini berkembang di nagari-nagari Minangkabau dan menjadi dasar pembagian struktur adat hingga kini.
Perbedaan prinsip antara keduanya sering diringkas dalam ungkapan adat yang menyebut Koto Piliang sebagai sistem “berjenjang naik bertangga turun”, sedangkan Bodi Caniago dikenal dengan pola musyawarah yang lebih setara.
Jejak dalam Struktur Sosial Minangkabau
Peran Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang tidak berhenti pada pembentukan dua kelarasan. Dalam tambo juga diceritakan bagaimana aturan tentang penghulu, pembagian suku, serta tata cara bermusyawarah dirumuskan pada masa mereka. Sistem ini kemudian menjadi dasar dalam kehidupan sosial Minangkabau, termasuk dalam penetapan gelar datuak dan pengaturan hubungan antarsuku.
Struktur adat yang dibangun oleh dua tokoh ini berjalan berdampingan. Di sejumlah nagari, kedua kelarasan bisa ditemukan dalam satu wilayah, meski masing-masing tetap mempertahankan prinsip dasarnya. Keberadaan dua sistem ini memperlihatkan bahwa sejak awal, adat Minangkabau sudah mengenal perbedaan pendekatan dalam mengatur masyarakat.
Warisan yang Masih Dipegang
Hingga sekarang, nama Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang tetap disebut dalam berbagai pidato adat dan pembukaan musyawarah. Kisah mereka diajarkan kembali lewat tambo dan tradisi lisan sebagai bagian dari identitas Minangkabau.
Peran Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang bukan hanya catatan masa lalu. Sistem yang mereka rumuskan masih menjadi rujukan dalam struktur adat nagari hari ini. Dari musyawarah penghulu hingga penetapan keputusan adat, jejak dua tokoh ini tetap terasa dalam kehidupan masyarakat Minang.
Editor : melatisan
Tag :Peran, Datuak Katumanggungan, Datuak Parpatiah Nan Sabatang, Sejarah Adat Minangkabau
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
KUCIANG LALOK DALAM RAGAM HIAS TRADISIONAL MINANGKABAU
-
BASAPA DI ULAKAN TAPAKIS MENYATUKAN ZIARAH, SEJARAH ISLAM, DAN TRADISI MINANGKABAU
-
MANDOA TURUN KA SAWAH DI SIJUNJUNG MENGIRINGI PERSIAPAN MUSIM TANAM
-
SALUANG PAUAH DAN CIRI KHAS ALAT MUSIKNYA
-
MAANTA LIMAU DAN TRADISI BERBAGI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT MINANGKABAU
-
BAREH RANDANG PAYAKUMBUH PUNYA RASA MANIS DAN BERBEDA DARI RENDANG DAGING
-
KATUPEK GULAI PAKU, SAJIAN KHAS PESISIR MINANGKABAU DENGAN KUAH SANTAN DAN PAKIS
-
HUTAN DILEGALKAN UNTUK DITEBANG: PARADOKS DEFORESTASI DAN KLAIM PENYERAP EMISI
-
DENGAN OLAHRAGA KITA BERSATU, CATATAN HENDRY CH BANGUN (FWK)
-
PEMBERIAN NAMA JALAN