- Rabu, 25 Februari 2026
Pemikiran Pendidikan Rasuna Said, Emansipasi Perempuan Dari Ranah Minang Ke Nasional
Pemikiran Pendidikan Rasuna Said, Emansipasi Perempuan dari Ranah Minang ke Nasional
Oleh: Mutia Fadillah
Di Nagari Panyinggahan, Maninjau, suara perempuan lantang berbicara tentang pendidikan dan hak kaum perempuan sudah terdengar sejak awal abad ke-20. Pemikiran pendidikan Rasuna Said berkembang dari pengalaman pribadi di bangku sekolah hingga lahirnya gagasan tentang pendidikan sebagai alat pembebasan dan kesetaraan bagi perempuan di tengah masyarakat kolonial Indonesia.
Rasuna Said lahir pada 14 September 1910 dalam keluarga yang peduli ilmu dan agama. Sejak muda ia telah mengenyam pendidikan agama di pesantren dan kemudian melanjutkan ke sekolah khusus perempuan di Padang Panjang. Di sinilah benih pemikirannya tentang pendidikan mulai tumbuh, tidak hanya sebagai kunci kecerdasan, tetapi sebagai sarana pergerakan sosial yang lebih luas.
Latar Pendidikan dan Kesadaran Emansipasi
Lingkungan pendidikan yang ditempuh Rasuna Said menjadi titik awal pemikiran pendidikan yang progresif. Ia belajar di pesantren Ar-Rasyidiyah sebagai satu-satunya santri perempuan, kemudian melanjutkan ke Diniyah School Putri di Padang Panjang, sebuah lembaga pendidikan modern bagi wanita pada masa itu. Pengalaman berada di sekolah dengan sedikit akses bagi perempuan membuka kesadarannya akan ketidaksetaraan pendidikan bagi kaum perempuan pribumi.
Tak hanya menyerap materi pelajaran, Rasuna Said kemudian mengajar di almamaternya sendiri. Dalam perannya sebagai guru, ia tidak hanya menyampaikan pelajaran agama atau akademik, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa pendidikan harus menjadi alat pembuka kesadaran sosial bagi perempuan, bukan semata soal keterampilan tradisional. Di sinilah pemikirannya mengenai pendidikan sebagai basis emansipasi mulai terjalin.
Pendidikan sebagai Jalan Kesetaraan dan Aktivisme
Karena pandangannya yang progresif tentang pendidikan tidak bisa dipisahkan dari perubahan sosial, Rasuna kemudian memilih keluar dari sekolah formal dan mendirikan lembaga pendidikan sendiri. Melalui perguruan putri dan kursus yang ia dirikan, pendidikan bagi perempuan diarahkan untuk lebih dari sekadar membaca dan menghitung, ia menekankan pemahaman sosial, kesadaran politik, serta keterlibatan kaum perempuan dalam isu-isu pergerakan nasional.
Tulisan-tulisannya di media pergerakan dan peran aktifnya dalam organisasi seperti Persatuan Muslim Indonesia juga memuat kritik tajam terhadap ketidaksetaraan, termasuk akses pendidikan yang timpang antara laki-laki dan perempuan. Dalam konteks itu, pendidikan bagi perempuan menurut Rasuna Said bukan hanya soal kemampuan akademik, tetapi juga keterlibatan dalam perjuangan kemerdekaan dan pembentukan masyarakat yang adil.
Warisan Pemikiran Pendidikan
Pemikiran pendidikan Rasuna Said tetap relevan hingga era modern. Ia mengajukan pandangan bahwa pendidikan adalah alat untuk mencerdaskan umat dan menghapus ketimpangan gender, bukan sekadar tugas mengajar di kelas. Melalui perguruan yang ia dirikan, surat kabar dan pidato-pidatonya, Rasuna menempatkan pendidikan sebagai fondasi emansipasi perempuan dan alat perubahan sosial yang fundamental. Warisan pemikirannya ini terus menjadi rujukan penting dalam kajian sejarah pendidikan dan gerakan perempuan di Indonesia.
Penekanan Rasuna pada pendidikan sebagai jalan pembebasan menunjukkan bahwa di tengah kolonialisme dan struktur sosial yang membatasi, pendidikan bisa menjadi senjata bagi kaum tertindas untuk menggapai kebebasan dan kesetaraan.
Editor : melatisan
Tag :Pemikiran, Pendidikan, Rasuna Said, Emansipasi, Perempuan, Ranah Minang, Nasional
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
MAKNA MUSYAWARAH DI BALAI ADAT MINANGKABAU DALAM TRADISI PENGAMBILAN KEPUTUSAN NAGARI
-
PERBEDAAN KELARASAN KOTO PILIANG DAN BODI CANIAGO DALAM STRUKTUR ADAT MINANGKABAU
-
SISTEM SAKO DAN PUSAKO DALAM ADAT MINANG: FONDASI KEPEMIMPINAN DAN WARISAN KAUM
-
PERAN MAMAK DALAM KELUARGA MATRILINEAL MINANGKABAU: PENJAGA KAUM DAN PEMBIMBING KEMENAKAN
-
FILOSOFI KEPEMIMPINAN DATUK DALAM STRUKTUR ADAT MINANGKABAU
-
RUMAH GADANG MAU DIPUGAR, BANYAK YANG AMBRUK
-
SURAT KEPADA NAHKODA SUMBAR, YANG BAHTERANYA KOYAK DI HANTAM GALODO
-
DUA JALAN KEBIJAKAN KOPI: INDONESIA DAN ETHIOPIA DI PERSIMPANGAN STRATEGI
-
ROSITA MEDINA, BUNDO KANDUANG DI RANTAU PUNYA TANGGUNGJAWAB MORAL
-
MAKNA KETIDAKHADIRAN PRESIDEN DI HPN 2026 BANTEN