- Kamis, 2 April 2026
Menelusuri Sejarah Tradisi Tabuik Di Pariaman Dan Maknanya Hari Ini
Menelusuri Sejarah Tradisi Tabuik di Pariaman dan Maknanya Hari Ini
Oleh: Andika Putra Wardana
Pantai Gandoriah selalu tumpah ruah oleh lautan manusia setiap kali perayaan Tabuik digelar. Ratusan ribu orang rela berdesakan di pesisir Pariaman ini demi melihat langsung prosesi pembuangan menara hias setinggi belasan meter itu ke laut lepas. Fenomena tahunan ini bukan sekadar pesta rakyat biasa, melainkan cara warga merawat sejarah tradisi Tabuik di Pariaman dan maknanya yang sudah mengakar sejak ratusan tahun lalu.
Jejak Pasukan Tamil di Pesisir Barat
Asal-usul perayaan megah ini sebenarnya punya akar yang lumayan jauh dari tanah Minang. Berbagai catatan sejarah menyebutkan kalau tradisi ini awalnya dibawa oleh pasukan Muslim Tamil dari India yang tergabung dalam tentara Inggris. Waktu itu, sekitar awal abad ke-19, mereka sempat bermarkas di Bengkulu sebelum akhirnya sebagian menyebar sampai ke pesisir Pariaman. Di tanah baru inilah mereka perlahan mengenalkan ritual peringatan Asyura yang pada akhirnya berbaur dengan kearifan lokal setempat.
Simbol Penghormatan dan Duka Cita
Kalau kita bedah lebih dalam, makna inti dari perayaan ini berangkat dari sebuah peristiwa duka. Rangkaian prosesi Tabuik merupakan bentuk penghormatan sekaligus peringatan atas gugurnya cucu Nabi Muhammad SAW, yaitu Hasan dan Husein, dalam tragedi Padang Karbala. Wujud menara Tabuik yang menjulang tinggi dengan patung kuda bersayap berkepala manusia di bagian bawahnya itu adalah simbolisasi dari Buraq. Mahluk mitologi inilah yang diyakini membawa jasad Husein terbang ke langit. Jadi, di balik kemeriahan tabuhan tambua tasa yang bikin merinding penonton, ada nilai duka cita mendalam yang sedang dirawat ingatannya.
Rangkaian Panjang yang Melibatkan Warga
Bikin satu bangunan Tabuik itu bukan pekerjaan semalam jadi. Prosesnya panjang dan butuh tenaga banyak orang, biasanya memakan waktu sampai sepuluh hari di bulan Muharram. Semuanya dimulai dari ritual maambiak tanah yang sakral, lanjut ke prosesi menebang batang pisang, maarak jari-jari, sampai akhirnya masuk ke hari puncak perayaan. Di hari puncak itulah dua Tabuik utama, yaitu Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang, disatukan atau dinaikkan pangkatnya sebelum diarak keliling kota dan diakhiri dengan pelepasan ke laut lepas. Rentetan acara ini otomatis bikin ikatan sosial antarwarga Pariaman makin solid karena mereka harus bergotong royong siang malam.
Sekarang, Tabuik memang sudah banyak bergeser fungsinya menjadi daya tarik wisata andalan Sumatera Barat. Tapi, esensi utamanya tidak pernah benar-benar hilang ditelan zaman. Tradisi ini jadi bukti nyata bagaimana masyarakat pesisir Pariaman bisa meramu sejarah dari luar dengan budaya lokal, lalu menjaganya tetap hidup menjadi identitas kota yang membanggakan.
Editor : melatisan
Tag :Menelusuri Sejarah, Tradisi Tabuik, Pariaman, Maknanya Hari Ini
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
RUMAH GADANG YANG DITINGGALKAN PERANTAU DAN NASIB RUMAH PUSAKA DI MINANGKABAU
-
PANTANGAN ANAK KAMANAKAN DALAM ADAT MINANGKABAU YANG MULAI JARANG DIKETAHUI GENERASI MUDA
-
GELAR DATUK DALAM ADAT MINANGKABAU DAN PERSOALAN PEWARIS YANG TINGGAL DI RANTAU
-
MAMBANTAI ADAT DAN PEMBAGIAN DAGING DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT MINANGKABAU
-
BATAGAK PANGULU DAN PERJALANAN SESEORANG SEBELUM MENYANDANG GELAR PANGULU
-
MAHASISWA KKN UNP 2026 SUSUN 23 PETA UNTUK MENDUKUNG PEMETAAN WILAYAH NAGARI BUNGO TANJUANG
-
MAHASISWA KKN UNP 2026 EDUKASI MASYARAKAT JORONG KAPUAH TENTANG PENCEGAHAN STUNTING MELALUI GIZI SEIMBANG DAN PHBS
-
RME SUDAH DIGUNAKAN, TETAPI APAKAH SUDAH BENAR-BENAR BERMANFAAT?
-
PERAWATAN GIGI ANAK TANPA RASA TAKUT: MENGENAL KEDOKTERAN GIGI MINIMAL INVASIF
-
MAHASISWA KKN REGULER II UNAND DEMONSTRASIKAN PEMBUATAN PUPUK BOKASHI BERSAMA KWT KORONG KOTO PANJANG