HOME SOSIAL BUDAYA RANTAU
- Jumat, 28 November 2025
Mendengar Suara Dari Akar Rumput: Jumat Curhat Kapolres Rico Fernanda Di Sawa
Konut (Minangsatu) Matahari belum tinggi ketika halaman Mapolsek Sawa mulai dipenuhi warga. Beberapa kepala desa tampak membawa map kecil berisi catatan, tokoh pemuda saling menyalami, sementara suara motor dari jalan lintas Kendari–Morowali sesekali melintas sebagai pengingat bahwa kehidupan terus bergerak cepat di wilayah ini.
Namun di tengah dinamika itu, Polsek Sawa menjadi ruang yang melambat sejenak—ruang untuk bicara, mendengar, dan merumuskan solusi bersama melalui program Jumat Curhat pada (31/10/2025)
Di sinilah AKBP Rico Fernanda, Kapolres Konawe Utara, hadir bukan sebagai figur formal, tetapi sebagai pendengar. Perwira menengah yang pernah menjabat Kasat Reskrim Poltabes Padang Polda Sumbar itu tampak menyapa warga dengan gaya khasnya: ringan, ramah, namun penuh wibawa. Latar belakangnya sebagai alumni SMA 3 Padang angkatan 99, yang tidak pernah jauh dari kultur egaliter dan kepedulian sosial, tampak jelas dalam cara ia berinteraksi.
Sebelum dialog dimulai, perhatian tertuju pada bangunan baru di sudut halaman: Musholla Al-Huda 53.1. Rico memuji inisiatif Kapolsek Sawa dan jajarannya atas berdirinya musholla tersebut, namun ia memberi penekanan yang jauh lebih dalam daripada sekadar apresiasi.
“Ini bukan hanya bangunan fisik. Musholla ini adalah rumah moral bagi anggota Polri—tempat kita kembali pada nilai agama, agar tugas tidak menyimpang, agar kita tidak menyakiti hati masyarakat,” katanya.
Pesan ini membuat suasana hening sejenak. Di banyak tempat, reformasi kultural Polri sering dianggap sulit. Namun di Sawa, upaya itu dimulai dari langkah sederhana: tempat ibadah kecil yang menyatukan spiritualitas dan etika profesional.
Ketika sesi curhat dibuka, warga tidak menunggu lama untuk menyampaikan unek-unek mereka. Seorang kepala desa mengangkat isu kamtibmas di wilayah perbatasan desa. Tokoh masyarakat menyebut konflik lahan yang mulai meruncing. Ada pula kekhawatiran tentang dugaan peredaran narkoba, yang menurut beberapa warga, mulai terasa masuk secara perlahan.
Rico mendengarkan tanpa menyela. Gestur tubuhnya condong ke depan, menunjukkan ketertarikan tulus pada setiap suara.
“Polisi adalah mitra masyarakat. Kalau ada indikasi pelanggaran, segera laporkan. Kami tidak bisa bergerak kalau informasinya tidak lengkap. Sampaikan saja, Polsek Sawa maupun Polres siap menindaklanjuti,” ujarnya kemudian.
Nada itu bukan perintah, melainkan ajakan. Warga pun merasa cukup percaya diri untuk terus berbicara.
Menjadi Polisi yang Dekat, Bukan Sekadar Datang Ketika Ada Masalah. Bagi banyak warga, kehadiran Kapolres bukan hal sepele. Terlebih ketika ia tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga hadir untuk mendengar.
Program Jumat Curhat yang telah berjalan di berbagai kecamatan ini dinilai warga Sawa sebagai ruang yang “tidak membuat takut”. Tak ada meja besar yang menghalangi, tak ada batas antara pejabat dan masyarakat. Hanya kursi-kursi yang disusun melingkar, seperti keluarga besar yang sedang menggelar pertemuan rutin.
Seorang tokoh pemuda bahkan sempat berbisik kepada rekannya:
“Kalau begini, polisi terasa lebih dekat. Tidak seperti yang orang bayangkan di luar sana.” ungkap Syamsudin warga Sawa
Musholla untuk semua, keamanan untuk Semua. Rico kembali menekankan satu hal penting: keterbukaan.
“Musholla ini bukan hanya untuk anggota, tapi untuk masyarakat. Siapa saja boleh singgah beribadah di sini, termasuk pengguna jalan lintas Kendari–Morowali.” ujar Rico Fernanda
Sikap ini menunjukkan bahwa Polsek Sawa bukan hanya kantor pelayanan, tetapi bisa menjadi ruang singgah yang memberi kenyamanan.
Diakhiri Dengan Tawa, Diteruskan Dengan Harapan. Setelah dialog panjang, suasana mencair kembali. Foto bersama, obrolan kecil tentang anak-anak sekolah, bahkan rencana warga untuk kegiatan desa ke depan. Tidak ada jarak.
Jumat Curhat bukan lagi sekadar program. Di tangan sosok seperti AKBP Rico Fernanda—perwira yang memadukan ketegasan reserse dan kehangatan seorang pemimpin lapangan—forum ini menjadi ruang yang memanusiakan hubungan antara polisi dan masyarakat.
Dan ketika kegiatan berakhir, ada satu hal yang dirasakan semua pihak: keamanan bukan hanya tugas kepolisian, tetapi hasil dari hubungan yang saling percaya, yang dibangun perlahan namun pasti—setiap Jumat, di setiap sudut Konawe Utara. (*)
Editor : Benk123
Tag :#kowaneutara
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
FWK PERTAJAM IDEOLOGI KEBANGSAAN MEDIA MASSA
-
RETAIL GATHERING SIG DI PEKANBARU, PT SEMEN PADANG PERKUAT DOMINASI PASAR DAN KEMITRAAN DI RIAU
-
WAKIL KETUA DPRD JABAR MQ ISWARA SAMBUT WARTAWAN TIONGKOK: DORONG INVESTASI NEGERI PANDA DI TANAH PASUNDAN
-
FORUM WARTAWAN KEBANGSAAN DESAK DEPUTI DAN KABIRO PERS ISTANA DICOPOT
-
FORUM WARTAWAN KEBANGSAAN KECAM PENCABUTAN KARTU LIPUTAN REPORTER CNN INDONESIA OLEH BIRO PERS ISTANA
-
PENERAPAN AKUNTANSI MANAJEMEN PADA FURNITURE BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
-
DIMANA MUSEUM KOTA BUKITTINGGI?
-
"ANAK DARO" DIKLAIM KOPI KERINCI JAMBI OLEH ROEMAH KOFFIE, POTENSI PENCAPLOKAN BUDAYA MINANG PICU KONTROVERSI
-
MEMBUMIKAN KOPI MINANG: DARI SEJARAH 1840 HINGGA GERAKAN MENANAM KAUM
-
FWK MEMBISIKKAN KEBANGSAAN DARI DISKUSI-DISKUSI KECIL