HOME VIRAL UNIK

  • Minggu, 10 Mei 2026

Membedah Sejarah Berdarah Lahirnya Makna Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah

Membedah Sejarah Berdarah Lahirnya Makna Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah

Oleh: Andika Putra Wardana


Banyak filosofi dan pedoman hidup yang mengakar kuat di tengah masyarakat Sumatera Barat. Salah satunya adalah makna adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah, sebuah aturan baku yang memadukan kebiasaan tradisi lokal dengan ajaran agama Islam.

Aturan adat ini dirancang dan diselenggarakan untuk memastikan seluruh sendi pergaulan warga desa berjalan lurus dan selaras dengan tuntunan kitab suci. Pedoman hidup ini secara resmi dipegang teguh oleh masyarakat nagari sebagai kesepakatan damai usai berakhirnya perang saudara yang menguras darah dan harta pada abad ke-19.

Jejak Pertumpahan Darah Kaum Adat dan Ulama

Menyatukan dua aturan besar ini di masa lalu rupanya memakan harga yang sangat mahal. Pada rentang tahun 1803 hingga 1838, wilayah pedalaman hancur berantakan akibat meletusnya Perang Padri. Kelompok pemuka agama berpakaian putih yang tergabung dalam barisan Harimau Nan Salapan bentrok hebat dengan para pemangku adat.

Pemicunya sangat jelas, para ulama ingin membersihkan kampung dari kebiasaan buruk sebagian warga saat itu yang masih lekat dengan arena judi sabung ayam, menghisap candu, dan menenggak minuman keras. Konflik saudara ini awalnya murni urusan memperbaiki tata krama warga di tingkat desa, sebelum akhirnya berubah arah menjadi perang besar melawan pasukan militer kolonial Belanda.

Pihak penjajah dari Batavia saat itu sengaja ikut campur mendukung pihak adat dengan niat tersembunyi. Mereka ingin menunggangi konflik murni demi menguasai dan memonopoli jalur perdagangan kopi yang sedang naik daun di kawasan pegunungan.

Kesepakatan Damai di Puncak Pato

Kesadaran untuk menghentikan saling serang akhirnya muncul ketika kedua kelompok ini sama-sama tersudut dan kampung halaman mereka hancur dibombardir meriam Belanda. Para pemimpin adat berpakaian hitam dan barisan ulama akhirnya menyingkirkan gengsi mereka lalu memutuskan duduk melingkar di Puncak Pato.

Lokasi perundingan bersejarah ini berada di titik tertinggi perbukitan Bukit Marapalam, Kabupaten Tanah Datar.
Di atas bukit yang dikelilingi rimbunnya hutan inilah mereka merumuskan Sumpah Sati Bukik Marapalam, sebuah perjanjian damai yang menjadi pondasi kuat lahirnya makna adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah.

Rumusan ini mengetok palu bahwa segala macam aturan dan kebiasaan adat di kampung wajib tunduk pada hukum syariat Islam, dan syariat Islam itu sendiri bersumber mutlak dari teks Al-Qur'an. Mulai detik itu, tidak ada lagi celah untuk saling menjatuhkan karena posisi kedua aturan ini sudah dikunci rapat dan diikat sumpah darah.

Menyaring Tradisi Lama Lewat Aturan Baru

Kesepakatan besar ini langsung merombak total wajah keseharian orang kampung. Tradisi masa lalu yang terang-terangan melanggar ajaran agama langsung diharamkan dan disapu bersih dari pergaulan warga desa.

Uniknya, para ulama saat itu sangat cerdas dan tidak membabi buta menghapus semua tata cara budaya lokal. Aturan garis keturunan yang ditarik dari pihak ibu atau sistem matrilineal tetap dibiarkan hidup dan dilindungi ketat.

Posisi kaum perempuan sebagai pemegang kunci rumah gadang warisan peninggalan nenek moyang juga tidak diganggu gugat sama sekali. Para ulama sepakat membiarkan aturan harta pusaka tinggi ini terus berjalan karena niat aslinya dinilai sangat mulia dan sejalan dengan agama.

Aturan pengelolaan sawah dan ladang warisan ini dipertahankan murni sebagai jaminan perlindungan ekonomi bagi kaum ibu, agar mereka tidak terlantar kelaparan saat suami meninggal dunia atau pergi merantau jauh. Membaca kembali lembaran sejarah perdamaian berdarah ini menyadarkan kita bahwa orang masa lalu sangat rasional menekan ego masing-masing demi menyelamatkan keturunannya.

Makna adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah membuktikan bahwa ajaran agama yang datang dari luar dan kebiasaan asli buatan leluhur tidak selalu harus bermusuhan atau saling membunuh. Kesepakatan di atas bukit Kabupaten Tanah Datar itu terus diwariskan dan dihormati sampai hari ini karena warganya sadar betul akan satu hal.

Kemajuan dan ketenangan sebuah nagari hanya bisa tercapai kalau pemimpin agama dan tokoh adatnya mau menurunkan ego, lalu duduk sejajar minum kopi bersama memikirkan keselamatan warganya.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Membedah, Sejarah Berdarah Lahirnya, Makna Adat, Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com