HOME SOSIAL BUDAYA KOTA BUKITINGGI

  • Sabtu, 19 September 2026

Ade Rezki Dorong Penguatan TPK, Tekankan Peran Keluarga Cegah Stunting

Ade Reski Pratama dengan Kader TPK( Foto: Minangsatu)
Ade Reski Pratama dengan Kader TPK( Foto: Minangsatu)

Bukittinggi (Minangsatu) - Anggota Komisi IX DPR RI Ade Rezki Pratama mendorong penguatan peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) dalam mendukung pembangunan keluarga dan percepatan penurunan stunting di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Dorongan tersebut disampaikan Ade Rezki saat sosialisasi program nasional Bangga Kencana bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di Gulai Bancah, Bukittinggi, Sabtu (19/09/2026).

Ade Rezki mengatakan TPK yang terdiri atas kader PKK dan kader keluarga berencana memiliki peran penting dalam mendampingi masyarakat di tingkat keluarga.

"Tugas kader dan tim bersama masyarakat bernilai ibadah. Cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak bisa diraih tanpa usaha keras kita bersama, khususnya dalam penekanan prevalensi dan memerangi stunting," kata Ade.

Ia mengapresiasi dukungan berbagai unsur dalam pelaksanaan program pembangunan keluarga, mulai dari Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), TNI-Polri hingga tokoh masyarakat.

Menurutnya, kolaborasi tersebut diperlukan untuk mendukung program nasional dalam mewujudkan masyarakat yang berkualitas, bahagia dan sejahtera.

Ade juga menyebut dukungan anggaran untuk Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga terus diperkuat.

"Kami dari DPR RI telah mengupayakan dengan penambahan anggaran Kemendukbangga. Ada kenaikan Rp432 miliar hingga di 2027 menjadi Rp4 triliun. Tentunya dana pendampingan TPK bisa lebih baik ke depannya," ujarnya.

Penguatan Keluarga Jadi Perhatian

Ade mengatakan pelaksanaan program Bangga Kencana perlu dimulai dari penguatan keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat.

Ia menyinggung tingginya angka perceraian yang menurutnya menjadi salah satu indikator adanya tekanan terhadap stabilitas rumah tangga.

"Pada 2025 ada sekitar 400 ribu kasus perceraian. Ini menunjukkan stabilitas rumah tangga sedang mendapat tekanan," katanya.

Menurut Ade, perselisihan dalam rumah tangga dapat dipicu berbagai persoalan, termasuk hadirnya pihak ketiga maupun kekerasan dalam rumah tangga. Kondisi tersebut, katanya, turut berdampak terhadap anak.

"Apalagi anak-anak yang masih butuh perhatian orang tua. Ketika mereka akhirnya dititipkan ke kerabat, tentu perhatian yang diberikan tidak akan maksimal untuk menunjang masa depan mereka," ujarnya.

Ia menegaskan Program Bangga Kencana merupakan bagian dari kerangka pembangunan manusia yang menempatkan masyarakat sebagai subjek sekaligus objek pembangunan.

"Orientasinya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan generasi masa depan," kata Ade.

Bukittinggi Catat Prevalensi Stunting 16,8 Persen

Kepala Perwakilan BKKBN Sumatera Barat Mardalena Wati Yulia mengatakan prevalensi stunting di Kota Bukittinggi pada 2024 tercatat turun menjadi 16,8 persen.

Meski demikian, ia mengingatkan risiko peningkatan kasus tetap perlu diwaspadai melalui upaya pencegahan dan pendampingan berkelanjutan.

Menurut Mardalena, pencegahan stunting dapat dilakukan melalui pemenuhan gizi seimbang bagi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif, pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang tepat, imunisasi, menjaga kebersihan serta pemantauan secara rutin.

Dalam pelaksanaannya, TPK memiliki peran penting dalam memastikan intervensi dan bantuan makanan bergizi diberikan kepada keluarga sasaran.

"TPK memiliki kemampuan untuk mengenali kondisi masyarakat secara langsung," kata Mardalena. (*)


Wartawan : Asril Dt Pangulu Batuah
Editor : Benk123

Tag :#bukittinggi

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com