HOME OPINI OPINI


  • Senin, 25 Februari 2019
Puisi Neno Warisman Kebablasan
AG Sutan Mantari

"Jangan, jangan Engkau tinggalkan kami 

dan menangkan kami
Karena jika Engkau tidak menangkan
Kami khawatir ya Allah
Kami khawatir ya Allah
Tak ada lagi yang menyembah-Mu"

Begitulah bait puisi Neno Warisman pada Munajat 212 yang diadakan kemarin di Monas Jakarta... 

Redaksi Puisi itu sebenarnya adalah Do'a Nabi ketika Perang Badar berkecamuk... Antara 300 pasukan kaum muslimin dengan 1000 pasukan kafir Quraisy...

Kenapa Nabi mengucapkan do'a yang sedemikian "melankolis"??? kalau memang 300 orang itu adalah kekuatan penuh yang dimiliki oleh Rasulullah di awal-awal Islam... kalau yang 300 ini kalah perang dan sebagian besarnya meninggal dunia, maka perjalanan Muhammad untuk menyebarkan Islam akan semakin berat. Pertama, karena para Kabilah Arab akan melihat bahwa Muhammad telah ditinggalkan oleh "TUHAN" nya... sehingga dengan kekalahan itu, para kabilah di Semenanjung Arabia akan semakin menjauhi dakwah Nabi... 

Jika yang kemudian terjadi di Perang Badar adalah meninggalnya Rasulullah di pedang kafir Quraisy, maka para Sahabat Nabi akan kebinggungan seperti yang menimpa Para Murid Jesus... Sementara, ketika itu RISALAH ISLAM masih sedikit yang diturunkan Allah... Al Qur'an belum utuh... Apabila Nabi Muhammad telah meninggal duluan dan hanya meninggalkan beberapa orang Sahabat saja yang tentunya akan terus diburu oleh Kaum Kafir Quraisy dan aliansinya, maka nasib Islam bisa sama seperti nasib agama Nasrani... 

Murid Jesus yang harus hidup dari satu tempat persembunyian ke tempat yang aman lainnya untuk menghindari kejaran dari pasukan Romawi dan YAHUDI... Sambil terus berdakwah dan menyampaikan pesan Jesus kepada masyarakat dengan cara sembunyi-sembunyi... Hingga sampai akhirnya sebagian penerus Risalah Jesus harus melakukan KOMPROMI TEOLOGIS dengan KAISAR ROMAWI kala itu yang memang memiliki rasa simpati kepada ajaran ISA... Kompromi Teologis itu adalah melakukan afirmasi dan pemasukan nilai-nilai teologis Romawi dalam ajaran NASRANI sehingga dengan itu NASRANI dijadikan sebagai AGAMA NEGARA ROMAWI... 

Jika Muhammad meninggal di Perang Badar, maka redaksi "Tidak akan ada yang lagi yang menyembahMU" mendapatkan landasan historis dan logis karena Muhammad dipersiapkan Tuhan sebagai Rasul Terakhir... Dan jika Rasul terakhir juga meninggal di ujung pedang Musuh, maka siapa lagi yang akan menyembah Tuhan???

Mencermati kontestasi pilpres kali ini, maka sesungguhnya yang terjadi lebih mirip kepada PERANG SHIFFIN... Yaitu, perang antara Ali Bin Abi Thalib, sosok sepupu Nabi sekaligus menantu Nabi Muhammad dengan Muawiyah, seorang pemimpin Quraisy yang belakangan masuk Islam tetapi kemudian karena pengaruh kuasanya yang kuat di kalangan orang-orang Quraisy ia memiliki andil besar dalam memperkuat penyebaran Islam di Jazirah Arabia.. 

Yang berdiri di belakang Ali adalah para sahabat Utama Nabi.. Para alumni perang Badar, perang Uhud, para Penghafal Al Qur'an dan orang-orang yang darinya Hadist diriwayatkan.. Dan yang berdiri di belakang Muamiyah juga demikian halnya... 

Persis seperti yang terjadi hari ini... Yang berdiri di belakang Prabowo adalah ustadz-ustadz alumni Madinah... Kemudian yang berdiri di belakang Jokowi adalah kiyai-kiyai lulusan Al Azhar... Yang berdiri di barisan Prabowo adalah santri penghafal Al Qur'an, maka demikian juga barisan Jokowi... 

Jika demikian hal-nya, PERANG DO'A DI LANGIT terjadi di antara orang Sholeh dan tokoh-tokoh yang selama ini berkhidmat kepada Islam...

Do'a siapa yang kemudian akan DIKABULKAN oleh TUHAN??? 

Pada Perang Shiffin, kelompok Ali kalah... Bahkan Ali sendiri meninggal dunia karena terbunuh... Beberapa tahun kemudian giliran anak Ali yaitu Hussein yang terbunuh di tanah Karbala... Yang berarti, terputuslah garis keturunan Nabi dari jalur Fatimah...  

Kenapa Allah menakdirkan kemenangan Muawiyah yang notabene baru masuk Islam belakangan. Kenapa Allah tidak mengirimkan Malaikat untuk menyelamatkan Ali, untuk menjaga jiwa Hussein??? Kenapa Allah tidak berpihak kepada keturunan Nabi sehingga Islam tetap disebarkan oleh sosok-sosok mulia dari keturunan Fatimah?? 

Pada titik ini tentu KITA HANYA BISA MENCOBA MENCARI HIKMAH kenapa keturunan Rasulullah dari Jalur Fatimah dimana Hasan dan Hussein adalah cucu yang paling disayangi Nabi harus meregang nyawa oleh kelompok Muawiyah dan Keturunannya...

Namun yang pasti, Perang Shiffin telah meninggalkan luka dan dendam mendalam di antara kaum muslimin... Dari tradegi inilah kemudian firqah-firqah besar Islam muncul... terutama pembelahan Sunni dan Syiah... 

Termasuk dendam dari keturunan paman Rasulullah yaitu Ibnu Abbas yang kemudian dengan segala kemampuan dan kekuatan berusaha menumbangkan Dinasti yang dibangun oleh Muawiyah - Dinasti Umayyah" untuk kemudian digantikan oleh Dinasti Abbasiyah..

Saya pribadi sangat menyayangkan PERANG DO'A dan PERANG AGAMA masih terus saja dielaborasi dan dipertontonkan baik oleh kubu Prabowo maupun Kubu Jokowi... 

Dari sisi Pak Prabowo sendiri sebenarnya beliau adalah seorang yang berpemahaman pluralis dan hidup dalam keluarga yang pluralis... Pak Prabowo selalu menyempatkan diri dalam perayaan Natal keluarga besarnya yang memang adalah keluarga perpaduan Islam dan Nasrani... Narasi yang lebih banyak dipakai oleh Pak Prabowo bukanlah kata-kata Jihad tetapi soal PATRIOTISME seorang Prajurit dan KEMANDIRIAN BANGSA yang juga lahir dari keberadaan beliau sebagai seorang NASIONALIS... Apakah Prabowo bisa dikatakan sebagai MUSLIM YANG TAAT dengan indikator tidak meninggalkan sholat 5 waktu?? Saya serahkan kepada orang-orang dekat Prabowo yang menjawabnya..

Bang Sandi sendiri meskipun disebut-sebut dalam berbagai testimoni adalah sosok yang taat dan rajin puasa Senin Kamis, sebenarnya lebih banyak memakai narasi Ekonomi dalam setiap kampanye-kampanyenya... Bang Sandi sendiri tidak bisa melepaskan kesuksesannya dari sosok Mas Edwin keturunan Tiongha pewaris kerajaaan bisnis Astra Grup... Bisnis Bang Sandi terutama di bidang jasa konsultasi keuangan dan investasi bisa kita kritisi soal ke-SYAR'I-annya... 

Saya lebih setuju jika parameter yang kita gunakan dalam kontestasi Pilpres adalah soal kemampuan masing-masing calon untuk membereskan berbagai persoalan yang ada di Indonesia...

Kriteria utama seorang Presiden dan Wakil Presiden adalah kemampuan dan pemahaman tentang tugas seorang kepala negara dan kepala pemerintahan serta akses hubungan yang kuat dalam pergaulan internasional... Bagimana ia menjadi manajer yang dengan segala skill dan intelektual yang ia miliki meniadi PENGAMBIL KEPUTUSAN bukan malah terombang ambing dalam ketidakpastian sehingga ia sendiri dikalahkan oleh pembantu-pembantunya. 

masalah kita hari ini adalah soal kemampuan negara untuk membesarkan pendapatan negara sehingga bisa melakukan akselerasi pembangunan infrastruktur, mengalokasi budget yang benar-benar memadai untuk membayar gaji PNS dan TNI-POLRI, perangkat desa, guru-guru honorer, bidan desa dan dokter di daerah terpencil dengan standar yang lebih tinggi dari hari ini, menyiapkan dana riset, pendidikan dan kesehatan yang benar-benar mencukupi untuk proses tranformasi Indonesia menjadi negara Maju dan mengantarkan kampus-kampus Indonesia di posisi rangking 100 besar dunia... 

persoalan kita saat ini adalah soal nilai impor yang mengalahkan jumlah ekspor, hutang negara yang terus membengkak karena perolehan pajak tidak mampu menutupi ambisi dan nafsu untuk membangun infrastruktur, deindustrialisasi semakin massif sehingga barang-barang kebutuhan kita didominasi oleh produk-produk luar negeri...

Agama bisa menjadi spirit rohani seorang pemimpin untuk melakukan sebuah perubahan di sebuah negara selama nilai-nilai agama memang dijadikan sebagai panduan dalam proses-proses pengambilan kebijakan pemerintahan.... 

Namun jika do'a hanya dijadikan sebagai legitimasi tanpa sebuah ketundukkan penuh kepada syariat Tuhan, jika ayat alquran hanya disebar di ruang-ruang debat dan ninil dalam ranah implementasi, bagaimana ceritanya PINTU LANGIT AKAN DIBUKA???
(Anggun Gunawan, alumni Filsafat UGM)


Tag :Opini Anggun Gunawan