HOME WEBTORIAL PROVINSI SUMATERA BARAT


  • Senin, 26 Agustus 2019
Konsep Tiga A Dukung Pengembangan Geowisata

Padang (Minangsatu) –  Konsep tiga A (aksesibilitas, amenitas dan atraksi) adalah pendukung bagi dikunjunginya sebuah objek wisata. Namun, pada akhirnya dunia pelancongan akan mencari sesuatu yang khas, yang tidak dipunyai destinasi lainnya.

Karena Sumatera Barat (Sumbar) memprioritaskan pembangunan kepariwisataan, lantaran memiliki panorama alam yang cantik dan objek wisata lainnya yang lengkap, maka tugas Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar serta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Pemerintah Kota (Pemko) tinggal lagi bagaimana mengelola beragam panorama itu sehingga mendatangkan kemaslahatan bagi masyarakat.

Kemaslahatan itu akan terwujud manakala banyak pelancong yang datang ke Sumbar—yang terletak di pesisir barat bagian tengah pulau Sumatera itu, dengan dataran rendah di sepanjang pesisir, dan dataran tinggi vulkanik pada jajaran Bukit Barisan, dengan laut serta belasan danau dan ratusan sungai, juga bentang alam dengan hutan-hutan yang menyimpan keanekaragaman hayati.

Berkah kebumian, di mana Sumbar mempunyai kekayaan geologi (kebumian) yang beragam, menambah alternatif objek wisata di Ranah Minang. Selain danau-danau yang terbentuk oleh peristiwa geologi, terdapat sejumlah gunung api, yang tersebar di seantero kabupaten/kota di Sumbar. Ada Gunung Kerinci di Solok Selatan (sebagian masuk kawasan Provinsi Jambi), Gunung Talang di Kabupaten Solok, serta triarga (tiga gunung) yang sudah sangat terkenal; Merapi, Singgalang dan Tandikek.

Maka, pengembangan geowisata menjadi sebuah keniscayaan. Yaitu pariwisata yang memanfaatkan seluruh aspek geologi dengan ruang lingkup bentang alam, batuan, mineral, fosil, dan proses geologi (termasuk sejarah kebumian).

Kepala Dinas Pariwisata Sumbar Oni Yulfian, dalam buku Geowisata Sumatera Barat mengatakan destinasi geowisata dapat berupa bebatuan, gunung berapi, danau, sumber air panas, sungai, dan lain-lain. “Saat ini teridentifikasi sepuluh kawasan geopark, atau taman bumi di Sumbar,” ujar Oni Yulfian.

Sepuluh geopark itu adalah Ngarai Sianok, Danau Maninjau, Kars Tarusan Kamang, Lembah Harau, Danau Singkarak, Bekas Tambang Sawahlunto, Danau Kembar, Solok Selatan, Silokek, dan Mentawai. “Tiga diantaranya sudah ditetapkan menjadi Geopark Nasional, yakni Geopark Sawahlunto, Geopark Silokek Sijunjung dan Geopark Ngarai Sianok-Maninjau,” tutur Oni Yulfian.

Berbeda dengan jenis pariwisata lainnya, geowisata merupakan pariwisata berkelanjutan dan bersifat konservasi berkaitan dengan jenis-jenis sumber daya alam suatu wilayah dalam rangka mengembangkan wawasan dan pemahaman proses fenomena yang terjadi di alam.

Kenampakan geologi pada permukaan bumi berbeda-beda dengan ciri khasnya masing-masing. Rangkaian bentang alam yang indah dan unik terbentuk dari proses geologi yang menghasilkan bentukan seperti gunungapi aktif, perbukitan, danau tektonik, danau vulkanik, pantai, batuan karang, bentuk tekstrur dan struktur batuan yang beragam-ragam, dan gua-gua kars dengan ornamen kalsit berupa stalagtit dan stalagmit, adalah objek geowisata yang terhampar di senatero kabupaten/kota di Sumbar.

Objek-objek tersebut bisa dimaksimalkan, tidak hanya sekedar untuk dilihat saja (geo-sightseeing), tetapi juga dapat menjadi aktivitas wisata yang dipandu oleh ahli untuk menceritakan kejadian terbentuknya objek tersebut (geo-interpretation). Bisa pula sebagai arena untuk olahraga (geo-sport), melakukan program konservasi terhadap potensi kebumian dalam edukasi dan pelestarian (geo-conservation), dan menciptakan volunteer (relawan) untuk mendalami kebumian dan memberdayakan masyarakat untuk turut aktif merawat dan memaksimalkan hasil untuk peningkatan kesejahteraan mereka (geo-volunteer).

Aktivitas pelancongan geowisata ini sejalan pula dengan manfaat yang bisa diperoleh. Selain menyejahterakan masyarakat di sekitar destinasi dan terbukanya lapangan pekerjaan, pengembangan geowisata ini juga dapat mendorong masyarakat lokal untuk memelihara dan mengembangkan objek tersebut.

Mamfaat lainnya adalah mewujudkan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan berbasis kearifan lokal, mendorong pengunjung untuk menghargai objek geowisata, dan memberikan kesan dan pengalaman khusus yang berbeda dibandingkan dengan kegiatan pelancongan lainnya.

Kendati kekayaan kebumian (geologi) di Sumbar juga membuat Ranah Minang rawan bencana lantaran berada pada jalur Sesar Besar Sumatera (The Great Sumatera Fault) dan Megathrust yang tepat di antara pertemuan dua lempeng benua yang besar (lempeng Eurasia dan Indo-Australia), namun keunikan rupa kebumiannya adalah berkah yang harus dimaksimalkan.

Maka, sesuai yang diarahkan Dinas Pariwisata Sumbar, kawasan-kawasan yang telah mendapat status sebagai Geopark Nasional harus melakukan langkah-langkah dan upaya untuk penataan kawasan geoparknya termasuk pemberdayaan masyarakatnya. Jika kawasan yang sudah mendapatkan status Geopark Nasional tidak menindaklanjuti dengan pelaksanaan program dan kegiatan yang menunjang kawasan geopark itu sendiri, maka status geopark bisa saja dicabut. Oleh karena itu perlu terus dilakukan pendampingan Pemerintah Provinsi kepada masing-masing.

“Langkah-langkah nyata itu antara lain dengan mewujudkan konsep Tiga A pada objek yang ada. Bagaimana akses ke objek lancar. Bagaimana amenitas cukup. Dan harus ada atraksi yang rutin dan terjadwal dengan jelas,” tutur Sekretaris Dinas Pariwisata Sumbar Taufik Ramadan.

Terkait aksesibiltas dan amenitas, Taufik Ramadan mengatakan pihaknya selalu mengkoordinasikan dengan kabupaten/kota terkait. “Tentu kita harus berbagi peran. Karena untuk kelancaran akses diperlukan jalan yang mulus dan memadai. Itu kan butuh anggaran yang cukup besar. Harus jelas, siapa yang membangun jalan itu? Jika statusnya jalan provinsi, maka tentu Pemprov yang membangun. Begitu pula jika jalan itu adalah jalan kabupaten/kota,” tutur Taufik Ramadan.

Begitu pula amenitas atau fasilitas-fasilitas pendukung di luar akomodasi. “Ini lebih banyak peran pemerintah setempat. Bagaimana di situ ada rumah makan atau restoran yang layak. Tokok cenderamata. Serta sarana pendukung pariwisata lainnya, seperti fasilitas umum. Ini kan harus jelas siapa yang mesti membangunnya. Harus berbagi tugas antara pusat, provinsi dan kabupaten/kota,” pungkasnya.

Taufik Ramadan yakin, dalam pengembangan geowisata di Sumbar, apalagi pada tahun 2019 ini beberapa kawasan geopark lainnya yang berpotensi sebagai warisan geologi juga akan diusulkan sebagai Geopark Nasional, perlu kerjasa sama dan sama-sama bekerja antara provinsi dan kabupaten/kota. Terutama dalam melaksanakan dan mencukupi akses, amenitas dan atraksi.

“Untuk atraksi, kita bisa libatkan masyarakat setempat, para seniman dan budayawan, serta sekolah-sekolah,” tukuknya.


Wartawan : ing
Editor : boing

Tag :#Geowisata#Sumatera barat