HOME VIRAL UNIK

  • Kamis, 26 Februari 2026

Sejarah Kabupaten Solok Selatan Dalam Jalur Rantau Minangkabau

Sejarah Kabupaten Solok Selatan dalam Jalur Rantau Minangkabau

Oleh: Andika Putra Wardana


Sejarah Kabupaten Solok Selatan dalam Jalur Rantau Minangkabau makin sering muncul di pencarian Google. Itu wajar, karena banyak pelajar dan perantau Minangkabau yang ingin tahu bagaimana wilayah selatan Sumatera Barat ini terbentuk dan apa hubungannya dengan tradisi masyarakat Minang yang dikenal dengan budaya merantau. Kabupaten Solok Selatan memang tergolong baru secara administratif, tetapi akar budaya dan sosialnya punya jejak panjang bersama masyarakat Minangkabau.

Perjuangan Menjadi Kabupaten

Solok Selatan resmi berdiri sebagai kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Solok pada awal abad ke-21. Proses panjangnya dimulai jauh sebelumnya pada 1950-an ketika tokoh-tokoh masyarakat mengusulkan terbentuknya wilayah baru yang pada waktu itu disebut Kabupaten Sehilir Batang Hari. Perjuangan itu baru mencapai titik nyata setelah keluarnya Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2003, di mana Solok Selatan diumumkan sebagai salah satu dari 24 kabupaten baru di Indonesia pada 7 Januari 2004. Tiga hari kemudian, 10 Januari 2004, Gubernur Sumatera Barat melantik penjabat bupati pertama, menandai awal jalannya pemerintahan kabupaten ini.

Peristiwa pemekaran ini punya makna bagi banyak orang di daerah selatan Bukit Barisan. Bagi mereka, bukan soal garis batas saja, tetapi wujud pengakuan bahwa wilayah ini membutuhkan tata kelola yang lebih dekat dengan masyarakatnya sendiri. Tokoh-tokoh yang terlibat dalam proses pemekaran, termasuk yang hadir dalam seminar sejarah lokal, menyebut ini sebagai bagian penting dari catatan sejarah setempat.

Solok Selatan dan Jalur Rantau Minangkabau

Solok Selatan memiliki posisi yang berbeda jika dibandingkan dengan kawasan inti adat Minangkabau di Luhak Nan Tigo seperti Tanah Datar, Agam, atau Lima Puluh Kota. Wilayah ini tergolong sebagai bagian dari jalur rantau masyarakat Minang. Tradisi merantau dalam kebudayaan Minangkabau merujuk pada kebiasaan berpindah tempat dari daerah asal ke wilayah lain untuk mencari pengalaman hidup, peluang ekonomi, atau lahan baru, sambil tetap membawa adat dan norma budaya mereka.

Secara etnis, masyarakat di Solok Selatan merupakan keturunan Minangkabau yang menyebar dari kawasan dataran tinggi Sumatera Barat menuju selatan Bukit Barisan. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi juga penanaman nilai dan struktur sosial yang mereka bawa dari daerah asal. Semangat rantau itu kemudian membentuk cara hidup dan struktur sosial komunitas setempat yang berbeda namun masih berakar kuat pada tradisi Minangkabau.

Nagari, Identitas Lokal, dan Budaya Tradisional

Meskipun wilayah kabupaten ini tergolong baru, tradisi nagari masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Nagari bukan sekadar unit administratif, tetapi simbol asal usul, kegiatan sosial, dan aturan adat yang diwariskan turun-temurun. Salah satu contoh dinamika pemekaran nagari di kabupaten ini terlihat di Kecamatan Sangir, di mana Nagari Lubuk Gadang Selatan lahir pada 2007 sebagai respons kebutuhan masyarakat terhadap pengelolaan dana nagari secara mandiri, kemudian berkembang menjadi dua nagari baru untuk membagi fungsi pemerintahan dan pembangunan yang lebih merata di tengah masyarakat.

Bagian lain dari identitas lokal juga bisa dilihat melalui kawasan budaya. Nagari Koto Baru di Kecamatan Sungai Pagu dikenal sebagai zona Saribu Rumah Gadang, perkampungan rumah adat Minangkabau yang masih lestari dan menarik perhatian wisatawan. Rumah-rumah tradisional dengan atap bagonjong itu tersusun rapi di kiri kanan jalan, mencerminkan bagaimana arsitektur dan adat Minangkabau bertahan di wilayah rantau ini, bahkan menyumbang daya tarik budaya yang penting bagi daerahnya.

Ketertarikan masyarakat terhadap sejarah lokal juga terlihat dari upaya pemerintah daerah menata kawasan budaya tersebut. Rencana penataan ulang kawasan Saribu Rumah Gadang termasuk penambahan pentas kesenian dan arena permainan tradisional dimaksudkan untuk menguatkan kesan sebagai perkampungan adat yang tetap hidup, bukan hanya sekadar objek statis.

Dari Masa Lalu ke Masa Kini

Hingga kini, Solok Selatan terdiri dari belasan kecamatan dan puluhan nagari yang masing-masing membawa cerita tentang bagaimana mereka menjadi bagian dari tradisi Minangkabau di garis rantau. Meski struktur pemerintahan modern terus berjalan, hubungan masyarakat dengan adat tetap kuat. Nagari, rumah gadang, dan praktik budaya lainnya tetap hidup dan berkembang dalam kehidupan sehari-hari.

Sejarah Kabupaten Solok Selatan dalam jalur rantau Minangkabau bukan hanya tentang tanggal berdiri sebuah kabupaten. Ini soal bagaimana masyarakat yang berada jauh dari pusat adat tradisional tetap menjaga nilai budaya mereka, mengembangkan tatanan sosial yang relevan dengan kebutuhan zaman, dan meneruskan identitas Minangkabau meski berada di lintasan rantau yang panjang.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Sejarah, Kabupaten Solok Selatan, Jalur Rantau, Minangkabau

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com