- Minggu, 1 Maret 2026
Sejarah Kabupaten Dharmasraya Dan Warisan Malayu Kuno
Sejarah Kabupaten Dharmasraya dan Warisan Malayu Kuno
Oleh: Andika Putra Wardana
Kabupaten Dharmasraya di provinsi Sumatera Barat dikenal sebagai salah satu kabupaten dengan warisan sejarah yang dalam di Nusantara. Bukan sekadar kabupaten baru hasil pemekaran, wilayah ini menyimpan jejak panjang masa lalu sebagai pusat Kerajaan Malayu Kuno yang pernah berdiri dan menjalin hubungan politik dengan kerajaan-kerajaan besar di Asia Tenggara.
Jejak Malayu Kuno di Tanah Dharmasraya
Wilayah yang sekarang menjadi Kabupaten Dharmasraya dahulu adalah pusat sebuah kerajaan kuno bernama Malayu. Nama itu tertulis dalam beberapa prasasti yang ditemukan di daerah sekitar Sungai Batanghari. Prasasti-prasasti ini menunjukkan bahwa Malayu pernah menjadi kekuatan politik dan budaya penting di Sumatra bagian tengah hingga timur pada abad ke-11 hingga ke-14 Masehi. Salah satu bukti paling terkenal adalah Prasasti Padang Roco, yang ditemukan di kompleks percandian Padang Roco, Nagari Siguntur, Kecamatan Sitiung. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Melayu Kuno dan Sanskerta, serta menyebut hadiah arca Amoghapasa dari Raja Singasari di Jawa Timur kepada raja Malayu sebagai tanda hubungan persahabatan antar kerajaan.
Situs-situs sejarah di kawasan ini, seperti Candi Padang Roco dan bekas bangunan bata yang tersebar di Pulau Sawah, menunjukkan bahwa Dharmasraya adalah wilayah yang penting secara politik dan religius pada masa itu. Kompleks candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-13, selaras dengan perkembangan kerajaan Malayu di sepanjang aliran Sungai Batanghari.
Raja yang tercatat memerintah Malayu, seperti Sri Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa, disebut dalam prasasti sebagai penguasa yang menerima hadiah dari Raja Kertanegara dari Singasari. Hadiah berupa Arca Amoghapasa ini kemudian ditempatkan di Dharmasraya sebagai simbol kekuasaan dan hubungan dengan kerajaan lain.
Kabupaten Modern dalam Lintasan Sejarah
Meski memiliki akar sejarah kuno, Kabupaten Dharmasraya adalah entitas administratif yang relatif baru. Kabupatennya resmi dibentuk pada 7 Januari 2004 melalui Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2003 tentang pembentukan daerah, hasil pemekaran dari Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung. Pemerintahan kabupaten dimulai sejak dilantiknya penjabat bupati pada 10 Januari 2004, dan kemudian dipilih kepala daerahnya definitif pada 12 Agustus 2005.
Transformasi wilayah ini tak semata soal administratif. Ia mencerminkan upaya masyarakat dan pemerintah daerah untuk menautkan identitas lokal modernnya dengan akar sejarah yang lebih tua. Nama Dharmasraya sendiri dipilih kembali sebagai identitas daerah karena berkaitan dengan narasi sejarah kerajaan Malayu yang pernah berpengaruh jauh di kawasan ini.
Struktur Sosial Adat dan Kedudukan Lokal
Dalam konteks budaya Minangkabau, Dharmasraya tidak termasuk dalam tiga luhak adat utama di dataran tinggi (seperti Tanah Datar, Agam, atau Lima Puluh Kota), namun tetap bagian dari jaringan sejarah sosial budaya yang lebih luas. Masyarakat lokal menjalankan aturan adat melalui struktur nagari, sebuah unit komunitas adat yang menjadi basis kehidupan sosial masyarakat Minangkabau di berbagai wilayah.
Selain itu, banyak peninggalan budaya lain yang masih hidup dalam tradisi masyarakat, seperti rumah gadang di Pulau Punjung dan ragam kesenian lokal yang mempertahankan nilai-nilai sosial tradisional. Pemerintah juga berupaya menjaga artefak dan situs sejarah melalui museum di Dharmasraya, sebagai ruang edukasi dan pelestarian warisan leluhur Malayu.
Pelestarian Warisan dan Wajah Masa Kini
Jejak peninggalan kerajaan Malayu di Dharmasraya kini menjadi fokus pelestarian budaya dan upaya pengembangan wisata sejarah. Museum Dharmasraya di Pulau Punjung menjadi tempat untuk memamerkan artefak dan dokumen sejarah, sambil menghubungkan generasi muda dengan masa lalu wilayah mereka.
Upaya lain seperti festival budaya yang mengangkat kembali narasi Pamalayu, sebuah ekspedisi sejarah yang menunjukkan hubungan antara kerajaan Malayu dan kerajaan lain di Nusantara. Ditujukan untuk memperkenalkan sejarah lokal kepada publik dan generasi terbaru.
Meski kabupatennya baru berdiri di era reformasi, Sejarah Kabupaten Dharmasraya dan Warisan Malayu Kuno memperlihatkan bagaimana masa lalu yang jauh tetap hidup dalam struktur sosial, budaya, dan kebijakan pemerintahan modern di daerah ini. Ini bukan sekadar cerita lama, tetapi bagian dari cara komunitas memahami asal-usul dan identitas mereka di tengah dinamika zaman.
Editor : melatisan
Tag :Sejarah, Kabupaten Dharmasraya, Warisan, Malayu Kuno
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
KERAMBIT MINANGKABAU DAN SEJARAH SILEK HARIMAU
-
NASKAH KUNO MINANGKABAU YANG MASIH TERSIMPAN DI TENGAH MASYARAKAT
-
BENDA PUSAKA KAUM DAN CERITA DI BALIKNYA DALAM ADAT MINANGKABAU
-
NAGARI TUA DAN SEJARAH PEMBENTUKAN WILAYAH DALAM ADAT MINANGKABAU
-
PANTANGAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI MASYARAKAT MINANGKABAU
-
MELAWAN ARUS ALGORITMA: KETIKA PERS SUMATERA BARAT MEMILIH MENGHARGAI "SUNYI" DI UJUNG NEGERI
-
MAHASISWA KKN UNP 2026 SUSUN 23 PETA UNTUK MENDUKUNG PEMETAAN WILAYAH NAGARI BUNGO TANJUANG
-
MAHASISWA KKN UNP 2026 EDUKASI MASYARAKAT JORONG KAPUAH TENTANG PENCEGAHAN STUNTING MELALUI GIZI SEIMBANG DAN PHBS
-
RME SUDAH DIGUNAKAN, TETAPI APAKAH SUDAH BENAR-BENAR BERMANFAAT?
-
PERAWATAN GIGI ANAK TANPA RASA TAKUT: MENGENAL KEDOKTERAN GIGI MINIMAL INVASIF