- Sabtu, 5 April 2025
Renungan Syawal 1446 H: H. Syafrizen, SH Ingatkan Umat Islam Untuk Tidak Tinggalkan Shalat
Padang, (Minangsatu) – Memasuki bulan Syawal 1446 H, tokoh masyarakat sekaligus Datuk Rang Batuah, H. Syafrizen, SH, menyampaikan pesan renungan kepada umat Islam untuk senantiasa menjaga ibadah shalat. Ia menegaskan bahwa seburuk apapun kondisi seseorang, jangan pernah meninggalkan shalat. Sebaliknya, sebaik apapun akhlaknya, tetap tidak cukup jika tidak mendirikan shalat.
“Senakal apapun kita, jangan tinggalkan shalat. Sebaik apapun kita, jangan sampai tidak shalat,” ujar Syafrizen, mengawali pesannya.
Ia mengingatkan bahwa umat Islam, terutama yang masih terbatas dalam pemahaman agama (ummi), perlu lebih waspada dalam mengikuti kajian spiritual seperti tarekat dan tasawuf. Menurutnya, meskipun tujuan utamanya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT hingga mencapai tingkat ma'rifatullah, namun harus tetap berada dalam koridor syariat Islam.
Hati-Hati dengan Paham Menyesatkan dalam Kajian Tasawuf
H. Syafrizen mengingatkan adanya oknum atau kelompok kajian tasawuf yang menyimpang. Mereka menganggap bahwa shalat dengan rukuk dan sujud hanyalah bentuk penyembahan kosong, sehingga cukup diganti dengan dzikir saja. Paham seperti ini, kata dia, sangat berbahaya dan menyimpang dari ajaran Islam.
“Jangan sampai hanya karena merasa sudah ma'rifatullah, kita merasa cukup dengan berdzikir saja tanpa shalat,” tambahnya.
Shalat Adalah Tiang Agama yang Tidak Bisa Diganti
Mengutip hadits Rasulullah SAW, ia mengajak umat Islam meneladani cara shalat Nabi Muhammad yang lengkap dengan berdiri, rukuk, dan sujud. Bahkan disebutkan dalam riwayat shahih, kaki Rasulullah sampai bengkak karena lamanya berdiri dalam shalat malam.
“Dirikanlah shalat untuk mengingat Allah (‘wa aqimis shal?ta lidhikr?’), bukan hanya sekadar dzikir yang dianggap sudah mewakili shalat,” tegasnya.
Peringatan terhadap Aliran yang Menyimpang
Ia juga menyebut beberapa aliran dari wilayah Jawa yang awalnya mengajarkan tasawuf secara baik, namun kemudian berkembang ke arah kebatinan dan bahkan praktik perdukunan. Aliran tersebut telah menyimpang dari Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan berpotensi mengarah ke kesyirikan atau bahkan kekufuran jika tidak segera ditinggalkan.
“Kalau sudah tidak lagi mau ke masjid, tidak shalat Jumat, tidak mau haji dan umrah, itu jelas menyimpang,” tegas Syafrizen.
Ajak Segera Bertaubat dan Kembali ke Jalan Syariat
Bagi siapa pun yang terlanjur mengikuti aliran tersebut, H. Syafrizen mengajak untuk segera bertaubat dengan taubatan nasuha. Ia menekankan pentingnya memilih guru agama dan referensi yang benar, berlandaskan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW.
“Belajarlah agama dari guru dan ulama yang mengikuti contoh Rasulullah SAW, bukan yang menyimpang,” katanya.
Dzikir dan Shalat Harus Sejalan, Bukan Saling Menggantikan
Ia menutup renungan Syawal ini dengan ajakan untuk tetap melaksanakan shalat lima waktu secara sempurna, kemudian dilanjutkan dengan dzikir sebagai bentuk mengingat Allah. Bukan sebaliknya, menjadikan dzikir sebagai pengganti shalat.
“Shalatlah sebagaimana Nabi Muhammad shalat. Lakukan berdiri, rukuk, dan sujud. Setelah itu, silakan berdzikir. Inilah bentuk ibadah yang utuh dan sesuai tuntunan Rasulullah SAW,” pungkasnya.
Semoga renungan ini menjadi pengingat dan pelindung umat Islam dari paham-paham yang menyimpang, serta meneguhkan semangat dalam menjalankan ibadah sesuai syariat Islam. (*)
Editor : Benk123
Tag :#syafrizen
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
WISUDA TAHFIZ AR RISALAH, SEKDAPROV SUMBAR SOROTI PENTINGNYA KESEIMBANGAN ILMU DAN AKHLAK
-
PT SEMEN PADANG LEPAS 20 CALON JEMAAH HAJI KARYAWAN DAN PENSIUNAN TAHUN 2026
-
MENANTI BERTAHUN-TAHUN, RUDY RINALDY BERANGKAT HAJI DENGAN DOA DAN HARAPAN UNTUK SANG IBUNDA
-
PERKUAT LAYANAN HAJI, BANK NAGARI LEPAS 1.119 JEMAAH CALON HAJI TAHUN 2026
-
DARI TAKBIR KE PERADABAN: MAKNA IDULFITRI DI PLAZA PT SEMEN PADANG
-
DARI PASAR KE TANAH SUCI: KISAH PAK DAS, BURUH ANGKUT BATUSANGKAR YANG MENJEMPUT KEMULIAAN DI KURSI BISNIS GARUDA
-
KOPI MINANG, PERMATA GASTRONOMI YANG LAYAK JADI WAJAH WONDERFUL INDONESIA
-
PERTUMBUHAN EKONOMI SUMBAR MENGUAT DI AWAL 2026
-
HARAPAN DAN REALITAS PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI INDONESIA: ANTARA NARASI KEMAJUAN DAN KRISIS STRUKTURAL
-
KARTINI DI RANTAU: KETIKA SEMANGAT EMANSIPASI BERTEMU FALSAFAH BUNDO KANDUANG