- Rabu, 25 Februari 2026
Peran Ulama Minangkabau Dalam Pembaruan Islam Nusantara
Peran Ulama Minangkabau dalam Pembaruan Islam Nusantara
Oleh: Mutia Fadillah
Di nagari-nagari di Sumatera Barat, suara ulama pernah menjadi penentu arah kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat. Jejak peran ulama Minangkabau dalam pembaruan Islam Nusantara menunjukkan kontribusi mereka bukan hanya di ranah lokal, tetapi dalam sejarah intelektual Islam yang lebih luas di kepulauan ini.
Surau-surau di Mandahiling, Ulakan, hingga Padang Panjang pernah menjadi pusat pengajian dan diskusi keagamaan di mana para ulama menyampaikan gagasan yang kemudian berkembang menjadi gerakan pembaruan. Perjalanan pemikiran dan aktivitas mereka menunjukkan bagaimana ulama Minangkabau berperan dalam mentransformasi pendidikan keagamaan, pemikiran Islam, dan cara orang memahami agama dalam konteks budaya Nusantara.
Awal Islamisasi dan Tokoh Pendakwah Klasik
Sejak abad ke-17, Islam berkembang di Minangkabau melalui pendekatan dakwah yang akomodatif terhadap budaya lokal. Salah satu nama awal yang tercatat dalam sejarah adalah Syekh Burhanuddin Ulakan, seorang ulama sufi yang dikenal berhasil memperkenalkan Islam di wilayah ini dengan menyesuaikan ajaran agama dengan kearifan lokal masyarakat Minangkabau. Metode dakwah yang dikenal sebagai da’wah bi al-hikmah (dakwah dengan hikmah) membantu menyinergikan ajaran Islam dengan adat setempat sehingga ajaran agama mudah diterima.
Selain itu, tokoh seperti Ismail al-Khalidi al-Minangkabawi juga menjadi pionir penyebaran tarekat Naqshbandi di Nusantara dan dikenal sebagai sarjana dalam aspek ilmu fiqh dan tasawuf. Jejaknya mencerminkan bagaimana ulama Minangkabau terlibat dalam tradisi spiritual yang lebih luas di dunia Islam.
Kaitan dengan Gerakan Pembaruan Abad ke-19–20
Memasuki abad ke-19 dan awal abad ke-20, ulama Minangkabau terlibat dalam dinamika reformasi pemikiran Islam yang mengikuti gelombang pembaruan global. Salah satu figur penting dalam fase ini adalah Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, yang lahir di Koto Tuo dan kemudian menjadi imam besar Masjidil Haram di Mekah. Sebagai guru dari banyak ulama Nusantara, ia menulis karya-karya dalam bahasa Arab dan Melayu serta mendorong upaya pelurusan praktik hukum waris dan kritik terhadap praktik tarekat yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam.
Dalam konteks Minangkabau itu sendiri, Haji Abdul Karim Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul menjadi salah satu pelopor modernisasi pendidikan Islam. Setelah menuntut ilmu di Mekah, ia kembali ke Minangkabau dan mendirikan surau serta lembaga pendidikan yang kemudian berkembang menjadi madrasah dengan pendekatan pembaruan Islam yang menekankan pemahaman syariat yang lebih sistematik.
Kontribusi pada Pendidikan dan Transformasi Pemikiran
Perubahan orientasi pendidikan Islam di Minangkabau dari sistem tradisional ke model yang lebih terstruktur tidak lepas dari upaya ulama setempat. Surau yang sebelumnya menjadi ruang pengajian informal lambat laun berkembang menjadi lembaga pendidikan Islam yang lebih formal, seperti madrasah dan sekolah agama yang mengajarkan kitab klasik sekaligus keterampilan membaca teks Arab secara sistematik. Perkembangan ini mencerminkan transformasi cara pengajaran agama yang sejalan dengan tuntutan zaman.
Kehadiran ulama seperti Haji Rasul dan murid-muridnya menunjukkan gelombang baru pembaruan yang melibatkan penggabungan tradisi lokal, pendidikan sistematis, dan keterkaitan dengan jaringan intelektual Islam Nusantara yang lebih luas.
Jejak Manuskrip dan Warisan Intelektual
Pemikiran ulama Minangkabau tidak hanya tersimpan dalam cerita lisan dan sejarah lokal, tetapi juga dalam manuskrip-manuskrip keagamaan yang kini menjadi bagian dari warisan literatur Islam Nusantara. Dokumen-dokumen ini membantu merekonstruksi sejarah intelektual ulama Nusantara dan menunjukkan bagaimana tradisi keilmuan mereka berkontribusi pada kajian Islam yang lebih luas.
Meski peran ulama Minangkabau mengalami perubahan fungsi seiring modernisasi pendidikan dan pergeseran struktur sosial, jejak kontribusi mereka tetap terlihat dalam tradisi intelektual Islam di Indonesia. Dari pendekatan dakwah yang akomodatif, pendidikan pembaruan, hingga karya tulis yang melintasi batas lokal, ulama Minangkabau telah memberi warna khas dalam perjalanan Islam Nusantara.
Editor : melatisan
Tag :Peran Ulama, Minangkabau, Pembaruan, Islam, Nusantara
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
MAKNA MUSYAWARAH DI BALAI ADAT MINANGKABAU DALAM TRADISI PENGAMBILAN KEPUTUSAN NAGARI
-
PERBEDAAN KELARASAN KOTO PILIANG DAN BODI CANIAGO DALAM STRUKTUR ADAT MINANGKABAU
-
SISTEM SAKO DAN PUSAKO DALAM ADAT MINANG: FONDASI KEPEMIMPINAN DAN WARISAN KAUM
-
PERAN MAMAK DALAM KELUARGA MATRILINEAL MINANGKABAU: PENJAGA KAUM DAN PEMBIMBING KEMENAKAN
-
FILOSOFI KEPEMIMPINAN DATUK DALAM STRUKTUR ADAT MINANGKABAU
-
RUMAH GADANG MAU DIPUGAR, BANYAK YANG AMBRUK
-
SURAT KEPADA NAHKODA SUMBAR, YANG BAHTERANYA KOYAK DI HANTAM GALODO
-
DUA JALAN KEBIJAKAN KOPI: INDONESIA DAN ETHIOPIA DI PERSIMPANGAN STRATEGI
-
ROSITA MEDINA, BUNDO KANDUANG DI RANTAU PUNYA TANGGUNGJAWAB MORAL
-
MAKNA KETIDAKHADIRAN PRESIDEN DI HPN 2026 BANTEN