- Sabtu, 24 Januari 2026
Pendidikan Di Pelosok: Antara Semangat Dan Keterbatasan Akses
Pendidikan di Pelosok: Antara Semangat dan Keterbatasan Akses
Oleh: Adinda Agnia Salsabila
Persoalan pendidikan di daerah pelosok seperti Nagari Ulang Aling, khususnya Jorong Koto Ranah, bukan terletak pada kurangnya semangat belajar, melainkan pada terbatasnya akses dan dukungan yang tersedia. Kehadiran program pengabdian seperti Mahardika Mengajar menunjukkan bahwa anak-anak di daerah ini memiliki antusiasme dan potensi besar untuk berkembang, asalkan diberi ruang dan kesempatan yang setara.
Selama menjalani pengabdian, saya melihat langsung bagaimana keterbatasan infrastruktur menjadi penghambat utama. Akses jalan yang sulit, minimnya transportasi, serta fasilitas pendidikan yang belum memadai membuat pendidikan seolah menjadi sesuatu yang mahal dan jauh untuk digapai. Kondisi ini tidak jarang memaksa anak-anak berhenti pada jenjang sekolah dasar, bukan karena mereka tidak mampu atau tidak mau belajar, tetapi karena pilihan mereka sangat terbatas. Dalam konteks ini, pendidikan bukan soal kemauan individu semata, melainkan soal keadilan akses.
Ironisnya, di sisi lain, masyarakat Nagari Ulang Aling sebenarnya hidup cukup mandiri dan harmonis. Mereka memiliki etos kerja yang kuat, kearifan lokal yang terjaga, serta solidaritas sosial yang tinggi. Fakta ini memperkuat keyakinan bahwa ketertinggalan wilayah tidak selalu mencerminkan kualitas sumber daya manusianya, tetapi lebih pada belum meratanya pembangunan. Ketika infrastruktur dan fasilitas dasar tidak hadir secara optimal, potensi yang ada pun sulit tumbuh maksimal.
Dampak lanjutan dari kondisi tersebut terlihat pada persoalan sosial, salah satunya praktik pernikahan usia muda. Fenomena ini tidak bisa dipandang semata sebagai pilihan pribadi atau budaya, melainkan sebagai akibat dari sempitnya ruang masa depan. Ketika pendidikan terhenti dan pilihan hidup terbatas, pernikahan kerap dianggap sebagai jalan paling realistis. Ini menunjukkan bahwa pendidikan memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar transfer ilmu—ia menentukan arah hidup sebuah generasi.
Meski begitu, harapan tetap terasa kuat. Anak-anak Ulang Aling memiliki semangat belajar yang tulus dan mimpi yang jujur. Mereka tidak kekurangan motivasi, hanya kekurangan wadah. Inilah potret ketimpangan pendidikan yang paling nyata: potensi yang besar, tetapi kesempatan yang kecil. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka ketertinggalan akan menjadi lingkaran yang sulit diputus.
Oleh karena itu, Nagari Ulang Aling tidak membutuhkan belas kasihan, melainkan perhatian dan kebijakan yang berpihak. Pembangunan infrastruktur, penyediaan sekolah lanjutan, serta dukungan berkelanjutan bagi dunia pendidikan harus menjadi prioritas. Program pengabdian mahasiswa memang penting sebagai pemantik, namun perubahan nyata hanya akan terjadi jika negara dan pemangku kebijakan hadir secara konsisten. Pendidikan yang adil bukan tentang siapa yang paling berjuang, tetapi tentang siapa yang akhirnya diberi kesempatan.
Tag :Pendidikan, Pelosok, Semangat, Keterbatasan Akses
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
PASAN BURUANG DAN ALAM YANG LUKA: RENUNGAN EKOKRITIK DI TENGAH BENCANA SUMATERA
-
SEDIKIT KEGEMBIRAAN DI TENGAH KECEMASAN, CATATAN HENDRY CH BANGUN
-
KOPI SUMATERA BARAT DI BAWAH BAYANG-BAYANG KEBIJAKAN DEFORESTASI UNI EROPA
-
MENANAM POHON, MENUAI KESELAMATAN: KONSERVASI LAHAN KRITIS UNTUK KETAHANAN HIDUP KOMUNITAS.
-
MUSIBAH
-
PENDIDIKAN DI PELOSOK: ANTARA SEMANGAT DAN KETERBATASAN AKSES
-
PASAN BURUANG DAN ALAM YANG LUKA: RENUNGAN EKOKRITIK DI TENGAH BENCANA SUMATERA
-
MAHASISWA KKN KEBENCANAAN UNIVERSITAS ANDALAS LAKUKAN PENDATAAN DAMPAK BANJIR DI KAPALO KOTO, PADANG
-
SEDIKIT KEGEMBIRAAN DI TENGAH KECEMASAN, CATATAN HENDRY CH BANGUN
-
MAHASISWA KKN UNIVERSITAS ANDALAS TOBOH GADANG DORONG PERTANIAN BERKELANJUTAN MELALUI PROGRAM RAMAH LINGKUNGAN