HOME ITECH NASIONAL

  • Sabtu, 25 April 2026

Nokia Bangkit: Transformasi Dahsyat Dari Ponsel Ke Infrastruktur AI

Nokia Bangkit, Transformasi Dahsyat dari Ponsel ke Infrastruktur AI
Nokia Bangkit, Transformasi Dahsyat dari Ponsel ke Infrastruktur AI

Nokia Bangkit: Transformasi Dahsyat dari Ponsel ke Infrastruktur AI

Minangsatu - Nokia bangkit sebagai salah satu perusahaan teknologi yang kembali menjadi perhatian pasar global. Setelah lama dikenal sebagai raksasa ponsel masa lalu, Nokia kini menempati posisi penting dalam infrastruktur transmisi optik yang mendukung kecerdasan buatan, komputasi awan, mobil otonom, dan robotika.

Kebangkitan ini terlihat dari kinerja saham Nokia yang diperkirakan naik lebih dari 60% pada tahun 2026. Kapitalisasi pasarnya juga disebut telah melampaui 600 miliar dolar AS. Capaian tersebut menjadi sinyal kuat bahwa pasar mulai melihat Nokia bukan lagi sebagai perusahaan ponsel lama, melainkan sebagai pemain utama dalam jaringan data masa depan.

Nokia Bangkit Lewat Jaringan Optik

Kunci perubahan Nokia berada pada teknologi transmisi optik. Teknologi ini berperan penting dalam memindahkan data dalam jumlah sangat besar dengan kecepatan tinggi. Kebutuhan tersebut semakin besar karena perkembangan AI membutuhkan jaringan yang mampu bekerja cepat, stabil, dan hemat energi.

Dibandingkan teknologi jaringan biasa, transmisi optik memiliki bandwidth lebih luas, latensi lebih rendah, dan konsumsi daya lebih kecil pada jarak yang sama. Faktor ini membuatnya sangat dibutuhkan oleh pusat data, penyedia layanan cloud, dan perusahaan yang mengembangkan sistem AI berskala besar.

Nokia saat ini disebut sebagai pemasok peralatan optik terbesar kedua di dunia setelah Huawei. Di teknologi serat optik XGS-PON generasi baru, Nokia bahkan memimpin pasar global dengan pangsa 35%.

CEO Nokia menyatakan bahwa sembilan dari sepuluh penyedia layanan cloud terbesar di Amerika Utara telah menggunakan teknologi perusahaan tersebut. Pada 2025, segmen jaringan optik Nokia diproyeksikan tumbuh 19%. Pelanggan AI dan cloud juga menyumbang 14% pendapatan divisi infrastruktur jaringan Nokia.

Investasi Nvidia Jadi Sinyal Besar

Momentum Nokia semakin kuat setelah Nvidia mengumumkan investasi 1 miliar dolar AS di Nokia. Investasi itu ditujukan untuk pengembangan AI-RAN dan percepatan transisi menuju 6G.

CEO Nvidia, Jensen Huang, menyebut industri telekomunikasi sebagai pasar senilai 3 triliun dolar AS. Pernyataan ini menunjukkan bahwa jaringan telekomunikasi akan menjadi bagian penting dalam pertumbuhan AI.

Bagi Nvidia, kekuatan pemrosesan saja tidak cukup. Jika jaringan memiliki latensi tinggi, daya komputasi yang mahal bisa terbuang sia-sia. Karena itu, jaringan optik dan infrastruktur telekomunikasi modern menjadi semakin penting.

Transformasi Panjang Sejak 2013

Perubahan Nokia tidak terjadi secara tiba-tiba. Pada 2013, Nokia menjual bisnis ponselnya ke Microsoft. Banyak pihak saat itu menganggap Nokia sudah kehilangan masa depan.

Namun, pada tahun yang sama, Nokia mengambil langkah penting dengan membeli seluruh saham Siemens di Nokia Siemens Networks senilai 1,9 miliar dolar AS. Keputusan ini menjadi fondasi Nokia baru yang fokus pada jaringan dan infrastruktur.

Pada 2016, Nokia mengakuisisi Alcatel-Lucent senilai 18,26 miliar dolar AS. Akuisisi ini membuat Nokia menguasai teknologi transmisi optik milik perusahaan tersebut.

Kemudian pada 2024, Nokia mengakuisisi Infinera senilai 2,3 miliar dolar AS. Langkah ini memperkuat posisi Nokia sebagai penyedia peralatan jaringan optik terbesar kedua di dunia.

Paten 5G Jadi Sumber Keuntungan

Selain menjual perangkat jaringan, Nokia juga memperoleh keuntungan dari paten teknologi. Perusahaan ini memiliki 7.287 paten terkait 5G, jumlah yang menempatkannya di jajaran atas bersama Huawei, Qualcomm, dan LG.

Dalam periode 2020 hingga 2025, segmen paten Nokia diperkirakan menyumbang keuntungan tahunan antara 0,7 miliar hingga 1,4 miliar dolar AS. Kontribusi tersebut mencakup lebih dari 30% total keuntungan grup.

Bisnis paten ini penting karena memberikan pendapatan yang relatif stabil. Artinya, Nokia tidak hanya bergantung pada penjualan perangkat jaringan, tetapi juga pada hak kekayaan intelektual yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Tantangan Nokia Belum Selesai

Meski prospeknya membaik, Nokia masih menghadapi tantangan besar. Segmen telekomunikasi seluler tradisionalnya menyusut setelah puncak pembangunan jaringan 5G.

Pada 2025, pendapatan Nokia diproyeksikan mencapai 22 miliar dolar AS dengan laba bersih 760 juta dolar AS. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan puncak pendapatan 29,5 miliar dolar AS pada 2022.

Persaingan di sektor optik juga semakin ketat. Huawei tetap menjadi pesaing utama, sementara perusahaan lain terus memperkuat teknologi jaringan mereka.

Namun, Nokia memiliki modal penting berupa pengalaman panjang, portofolio paten besar, dan posisi kuat dalam jaringan optik. Setelah 13 tahun transformasi, Nokia kini berada di jalur yang lebih relevan dengan kebutuhan teknologi masa depan.

Kebangkitan Nokia menunjukkan bahwa perusahaan lama tetap bisa bertahan jika mampu mengubah arah bisnis. Dari produsen ponsel legendaris, Nokia kini menjadi bagian penting dari infrastruktur AI global.


Wartawan : ads
Editor : boing

Tag :Nokia, Nokia bangkit, saham Nokia, AI, komputasi awan, jaringan optik, 6G, Nvidia, teknologi 5G, infrastruktur digital, cloud computing, transformasi Nokia, tahun 2026

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com