- Sabtu, 11 April 2026
Menelusuri Sejarah Kawasan Purus Padang Dan Jejak Perantau Di Balik Gulungan Ombak
Menelusuri Sejarah Kawasan Purus Padang dan Jejak Perantau di Balik Gulungan Ombak
Oleh: Andika Putra Wardana
Nongkrong sore di pinggir Pantai Purus sambil jajan langkitang sudah jadi rutinitas harian warga Padang. Jalanan pesisir ini hampir tidak pernah sepi, apalagi saat matahari mulai turun di ufuk barat. Tapi di balik keriuhan wisata laut ini, sejarah kawasan Purus Padang menyimpan rentetan cerita masa lalu yang panjang. Usut punya usut, nama lokasi favorit warga kota ini ternyata sama sekali tidak berakar dari kosa kata bahasa Minangkabau.
Gulungan Ombak yang Melipat Perahu
Kalau kita iseng mencari arti kata "puruih" dalam perbendaharaan kata orang Minang, maknanya pasti tidak akan ketemu. Nama kawasan pesisir ini sebenarnya diserap dari bahasa Nias, yakni dari kata difurui ita atau furui. Berbagai catatan sejarah lisan menyebutkan kalau kata tersebut punya arti dilipatnya kita atau tergulung.
Dulu, perantau dari Pulau Nias yang datang menaiki perahu kayu sering kali harus bertaruh nyawa berhadapan dengan ombak besar saat mau bersandar di pesisir ini. Gulungan ombak khas pesisir barat Sumatera itu sering membalikkan atau melipat perahu nelayan mereka. Dari seringnya kejadian perahu yang tergulung ombak itulah, kata furui lambat laun menempel di lidah warga lokal dan bergeser penyebutannya menjadi Purus atau Puruih.
Kantong Permukiman Lintas Pulau
Sejarah kawasan Purus Padang juga merekam fakta bahwa wilayah pinggir laut ini dulunya adalah salah satu kantong permukiman paling padat bagi perantau Nias. Sama seperti wilayah Kampung Nias di pusat kota, daerah ini menjadi titik kumpul masyarakat pelaut yang mencoba peruntungan baru di daratan Sumatera Barat.
Mereka datang jauh melintasi samudra, bertahan hidup sebagai nelayan, dan perlahan membangun permukiman permanen di tepi pantai. Di sela-sela padatnya permukiman warga Purus hari ini, sisa-sisa makam tua dari komunitas awal Nias tersebut kabarnya masih ada. Bukti fisik ini seolah mengkonfirmasi kalau kawasan ini dulunya menjadi panggung utama interaksi dan perjuangan perantau beda pulau yang akhirnya membaur erat dengan masyarakat lokal.
Bersalin Rupa Jadi Etalase Kota
Perputaran zaman sukses mengubah wajah perkampungan nelayan tua ini menjadi jauh lebih modern. Kawasan yang dulunya identik dengan permukiman padat dan kerasnya kehidupan laut kini sudah ditata rapi oleh pemerintah kota. Purus hari ini sukses naik kelas menjadi salah satu etalase wisata paling sibuk yang jadi kebanggaan Kota Padang.
Deretan penjual jagung bakar, kafe tenda, sampai kemegahan monumen Merpati Perdamaian kini mendominasi wajah kawasan pesisir tersebut. Walaupun bentuk fisiknya sudah dipoles sedemikian rupa jadi pusat kuliner yang nyaman, nama Puruih bakal tetap bertahan menjadi pengingat masa lalu. Sebuah catatan yang memberi tahu kita kalau pesisir Padang sejak dulu selalu lapang dada menyambut siapa saja yang datang, termasuk mereka yang dulu merapat dengan perahu kecil di tengah hantaman ombak besar.
Editor : melatisan
Tag :Menelusuri, Sejarah, Kawasan Purus, Padang, Jejak Perantau, Balik Gulungan Ombak
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
BATOMBE
-
RABAB PASISIA, MUSIK TRADISIONAL YANG MENJADI IDENTITAS MASYARAKAT PESISIR SELATAN MINANGKABAU
-
AQIQAH DI MINANGKABAU
-
MENENUN KEMBALI KAIN YANG RAPUH: SINERGI SYARA’ DAN ADAT DI JANTUNG MINANGKABAU
-
TRADISI NAIAK SIRIAH DI NAGARI LABUAH GUNUANG
-
DARI SUNGAI BATANGHARI KE RANTAI LOGISTIK NASIONAL, PTP NONPETIKEMAS JAMBI MENJAGA ARUS DISTRIBUSI DAN MENGGERAKKAN EKONOMI
-
MERATAPI SEMEN PADANG FC, MERAYAKAN ANAK-ANAK MINANG DI PANGGUNG NASIONAL
-
DARI PASAR KE TANAH SUCI: KISAH PAK DAS, BURUH ANGKUT BATUSANGKAR YANG MENJEMPUT KEMULIAAN DI KURSI BISNIS GARUDA
-
KOPI MINANG, PERMATA GASTRONOMI YANG LAYAK JADI WAJAH WONDERFUL INDONESIA
-
PERTUMBUHAN EKONOMI SUMBAR MENGUAT DI AWAL 2026