- Sabtu, 11 April 2026
Menelusuri Sejarah Kampung Keling Padang: Jejak Saudagar India Di Tepian Batang Arau
Menelusuri Sejarah Kampung Keling Padang: Jejak Saudagar India di Tepian Batang Arau
Oleh: Andika Putra Wardana
Jalan-jalan ke kawasan Kota Tua Padang di sekitar Pasa Batipuh, kita akan disuguhi deretan bangunan tua peninggalan masa kolonial yang masih berdiri rapat. Di antara bangunan komersial tersebut, ada satu kawasan yang sejak dulu sangat identik dengan komunitas warga keturunan India, lengkap dengan sebuah masjid bercat hijau putih yang coraknya sangat khas. Keberadaan permukiman ini bukan sekadar pelengkap tata ruang tata kota, melainkan wujud nyata dari panjangnya sejarah Kampung Keling Padang sebagai salah satu pusat perniagaan pesisir masa lampau.
Datang Bersama Angin Perniagaan dan Kapal Asing
Jejak awal kedatangan etnis India ke tanah pesisir Minangkabau punya kaitan yang sangat erat dengan sibuknya aktivitas pelabuhan Muara Padang pada abad ke-19. Catatan sejarah merekam kalau kelompok masyarakat dari wilayah Tamil dan Gujarat ini awalnya datang menumpang kapal-kapal dagang dari luar negeri, termasuk ikut bersama rombongan tentara Inggris yang sempat menancapkan pengaruhnya di pesisir barat Sumatera. Tujuan mereka amat jelas, yaitu ikut memutar roda ekonomi lewat perdagangan kain, rempah, dan berbagai komoditas bernilai tinggi lainnya.
Seiring berjalannya waktu, para pendatang yang awalnya hanya singgah ini mulai membangun permukiman permanen di kawasan Pasa Gadang yang posisinya sangat strategis karena dekat dengan tepian Sungai Batang Arau. Masyarakat lokal Minangkabau kemudian lebih sering menjuluki kawasan permukiman baru ini dengan sebutan Kampung Keling. Panggilan ini disematkan secara lisan merujuk pada warna kulit warga keturunan India tersebut yang cenderung gelap. Meski panggilannya terkesan menyoroti fisik ras tertentu, interaksi sosial antara pendatang dan warga lokal justru berjalan sangat cair, damai, dan saling menguntungkan secara ekonomi.
Masjid Muhammadan Sebagai Jantung Komunitas
Membahas kawasan ini rasanya tidak akan lengkap kalau kita mengabaikan ikon utamanya, yaitu Masjid Muhammadan. Berdiri sekitar tahun 1843, rumah ibadah ini menjadi simbol paling menonjol dari eksistensi etnis India di Kota Padang. Kalau kita amati dari pinggir jalan, gaya arsitektur Mughal yang kental dengan fasad berlapis ornamen hijau langsung membedakannya dari masjid-masjid beratap gonjong ala Minangkabau di daerah lain.
Fakta sejarah yang menarik dari masjid ini justru terletak pada racikan bahan material awalnya. Sebelum diperkokoh menggunakan semen pada awal abad ke-20, bangunan masjid tertua kedua di Padang ini konon direkatkan hanya menggunakan campuran bahan alami seperti kapur, pasir, gula, dan putih telur. Sampai detik ini, Masjid Muhammadan tidak sekadar berfungsi sebagai tempat sujud lima waktu, tapi juga menjelma menjadi titik kumpul komunal warga keturunan India untuk merawat tali silaturahmi dan menjaga sisa-sisa tradisi leluhur mereka di tanah perantauan.
Merawat Tradisi Serak Gulo dalam Asimilasi
Laju zaman rupanya sukses membuat warga di kampung ini beradaptasi dengan sangat luwes di tengah masyarakat lokal. Secara garis keturunan, mereka memang merupakan orang Asia Selatan, tapi untuk urusan pergaulan sehari-hari nyaris tidak ada bedanya dengan orang Minang pada umumnya. Mereka sangat fasih berbicara dalam bahasa Minang, paham tata krama setempat, dan melebur seutuhnya menjadi bagian dari denyut nadi pergaulan Kota Padang.
Namun, di tengah asimilasi budaya yang kental tersebut, ada satu tradisi otentik yang masih dijaga dengan sangat meriah hingga sekarang, yaitu Serak Gulo. Tradisi membagikan gula pasir yang dibungkus kain kecil dari atas atap bangunan masjid ini selalu berhasil mengundang kerumunan warga lintas etnis. Ritual tahunan ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur atas rezeki yang didapat sekaligus momen untuk mengenang wafatnya seorang ulama besar dari Nagore, India, yakni Shaul Hamid. Lewat keriaan rebutan gula inilah, etnis India di Padang sukses memperlihatkan cara merawat akar budaya leluhurnya tanpa harus membatasi diri dari warga sekitarnya.
Jejak panjang perkampungan ini memberikan warna tersendiri bagi sejarah perkembangan kota. Kawasan di belakang Pondok dan Pasa Batipuh ini seolah menjadi etalase hidup yang membuktikan bahwa sejak zaman kapal layar berjaya, Padang sudah terbuka menjadi rumah persinggahan yang hangat bagi siapa saja.
Bagi yang penasaran ingin melihat lebih dekat arsitektur bergaya Mughal serta suasana nyata di sekitar bangunan bersejarah ini, Masjid Muhammadan Merupakan Salah Satu Masjid Tertua Di Kota Padang bisa memberikan gambaran suasana pelestarian cagar budaya tersebut.
Editor : melatisan
Tag :Menelusuri Sejarah, Kampung Keling, Padang, Jejak, Saudagar, India , Tepian Batang Arau
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
MENELUSURI SEJARAH KAWASAN PURUS PADANG DAN JEJAK PERANTAU DI BALIK GULUNGAN OMBAK
-
MENELISIK JEJAK SEJARAH DAN ALASAN KENAPA DINAMAKAN GUNUNG PANGILUN DI PADANG
-
JEJAK RANTAU LINTAS PULAU: MENGUPAS ASAL USUL NAMA KAMPUNG NIAS PADANG
-
SEJARAH IDENTITAS MINANGKABAU DALAM PERSPEKTIF BUDAYA DAN WILAYAH
-
MENJAGA AKAR DI TENGAH ARUS ZAMAN: TANTANGAN PELESTARIAN BUDAYA MINANGKABAU DI ERA GLOBALISASI
-
IKATAN MAHASISWA TIGO LURAH (IKMTL) GELAR FESTIVAL SENI OLAHRAGA TIGO LURAH 2026, BERTEMA "RASO KA KAMPUANG, KARYA UNTUAK NAGARI"
-
FENOMENA BARU KAWASAN WISATA ALAHAN PANJANG YANG MERISAUKAN
-
LMJ BERBAGI: SEDERHANA, TETAPI PENUH MAKNA
-
SUJUD DI AMBANG LAILATUL QADAR: MENJEMPUT DAMAI DI TANAH HARAM BERSAMA SIANOK TOUR DALAM BAYANG KETEGANGAN DUNIA
-
RUMAH GADANG MAU DIPUGAR, BANYAK YANG AMBRUK