HOME SOSIAL BUDAYA KABUPATEN DHARMASRAYA
- Jumat, 7 Juli 2017
Maarak Anak Pisang, Tradisi Menjelang Khitanan Di Dharmasraya
DHARMASRAYA [Miangsatu] - Suku Piliang Nagari Sungai Dareh, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya, dibawah payung Panji Dt Paduko Suanso, di kelompok kaum Jo Bintang "Maarak Anak Pisang/anak pusako dari rumah bako" sebelum dilaksanakan prosesi Kitanan/Sunat Rasul. Hal ini sudah merupakan tradisi secara turun temurun dilaksanakan oleh sebahagian masyarakat Minangkabau, yang saat ini sudah hampir punah.
Prosesi mengantarkan anak dari saudara laki-laki menuju akhil baligh digelar kelompok kaum Jo Bintang dalam Suku Piliang Nagari Sungai Dareh itu, dilaksanakan dengan meriah. Arak-arakan berlangsung dari rumah bako menuju rumah anak pisang/anak pusako tersebut diiringi oleh seluruh kaum bapak, dan kaum ibu.
Tidak ketinggalan dalam arak-arakan itu, salah seorang kaum ibu dari bako membawa "Sisampek," sebelumnya telah dipersiapkan oleh induak bako. Sisampek ini, berbentuk sebuah karangan bunga sangat indah dipandang mata, terbuat dari kalaborasi ketan putih, ketan kuning, dan ketan hitam, diletakan diatas talam, atau disebut juga bintang. Selanjutnya dihiasi dengan makanan ringan beruapa panyiaram, kareh-kareh, dan beragam makanan khas lainnya.
Sementara batangnya terbuat dari bambu, atau batang pisang yang ditancapkan lidi kelapa, dan diujung lidi kelapa tersebut, diikatkan uang kertas mulai dari uang kertas pecahan paling terkecil, hingga uang kertas pecahan paling terbesar. Uang tersebut merupakan pemberian dari induak bako kepada anak pisang/anak pusako yang sedang melakukan kitanan/sunatan.
Bukan sampai disitu saja, selesai acara kitanan saudara laki-laki dari bapak, maupun urang sumando bapak, datang secara bersama lengkap dengan malinnya kerumah anak pisang/anak pusako untuk membacakan doa bersama, bentuk rasa syukur kepada sang maha pencipta. Selesai doa bersama, secara bergantian rombongan saudara bapak, menyalami anak yang sedang kitanan sembari menyelipkan amplop berisikan uang.
Menurut Penghulu Suku Piliang Nagari Sungai Dareh Ahmad Dt Paduko Suanso, didamping M Yazid Jo Bintang, digalakannya tradisi maarak anak pisang/anak pusako manjalang kitanan/sunat rasul ini, dalam rangka memupuk kebersamaan kaum, terutama di kelompok soko Jo Bintang.
Hikmah dari kegiatan ini, membantu meringankan beban sedang dipikul oleh saudara. Dengan kebersamaan itu pula, segala pekerjaan besar akan jadi ringan, sesuai dengan pipatah
" Barek samo dipikua, ringan samo di jinjiang. Saciok bak ayam sadanciang nan bak basi. Sakik disilau Mati Dijanguak. Salah Batimbang Hutang babayie."
Prosesi maarak ini, diberlakukan kepada seluruh anak pisang/anak pusako, dengan tidak membedakan, kaya, dan miskin., Tukuk M Yazid Jo Bintang.
Keragaman budaya dilakoni masyarakat Minangkabau yang menganut garis keturunan matrilineal (garis keturunan ibu) demi mengedepankan kegotong-royongan dalam suatu kaum. Walaupun keturunan keluarga dalam masyarakat Minangkabau terdiri dari tiga macam kesatuan kekerabatan, yakni Sakampuang, Sasuku, dan saparuik, namun tidak bisa di pisahkan.
Dimaksud dengan kekerabatan sakampuang, yaitu seluruh kaum yang berada didalam satu kampung, tidak pandang suku atau keturunan selalu ada pertalian. Sedangkan Sasuku, yaitu kekerabatan yang sukunya sama dalam satu kampung itu. Sedangkan Saparuik, yakni satu keturunan, alias satu nenek.
Adapun dimaksud dengan anak pisang/anak pusako, merupakan anak dari saudara laki-laki ibu, atau anak mamak/paman. Sedangkan induak bako, yaitunya saudara perempuan dari bapak. Sementara Bako, adalah anak dari saudara perempuan bapak. Untuk Sumando yakni suami dari saudara perempuan. Pasumandan, disebut juga hubungan urang sumando dengan keluarga laki-laki istri.
[Syaiful Anif ]
Editor :
Tag :#Khitan #Dharmasraya
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
JANJI POLITIK BANTUAN UNTUK IBU HAMIL PASANGAN ANNISA -LELI MULAI DIREALISASIKAN
-
KORBAN KEBARAKAN DI PULAU PUNJUNG DAPAT BANTUAN DARI PEMKAB DHARMASRAYA DAN BAZNAS
-
BUPATI ANNISA BERKOMITMEN TEGAS DALAM PELESTARIAN ADAT DAN BUDAYA
-
BUPATI DHARMASRAYA ANNISA SUCI RAMADHANI MENDAPAT KEJUTAN DARI PESERTA CFD DI HARI ULANG TAHUN KE-36
-
KETIKA BUPATI ANNISA DIBERI KEJUTAN OLEH WARGA TIUMANG. HARU BIRU BERCAMPUR BAHAGIA MENYELIMUTI JIWA PEMIMPIN HUMBLE ITU
-
DARI PASAR KE TANAH SUCI: KISAH PAK DAS, BURUH ANGKUT BATUSANGKAR YANG MENJEMPUT KEMULIAAN DI KURSI BISNIS GARUDA
-
KOPI MINANG, PERMATA GASTRONOMI YANG LAYAK JADI WAJAH WONDERFUL INDONESIA
-
PERTUMBUHAN EKONOMI SUMBAR MENGUAT DI AWAL 2026
-
HARAPAN DAN REALITAS PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI INDONESIA: ANTARA NARASI KEMAJUAN DAN KRISIS STRUKTURAL
-
KARTINI DI RANTAU: KETIKA SEMANGAT EMANSIPASI BERTEMU FALSAFAH BUNDO KANDUANG