HOME PERISTIWA KABUPATEN AGAM

  • Sabtu, 28 Maret 2026

Kabar Duka, Budayawan Minangkabau Yus Datuak Parpatiah Meninggal Dunia

Yus Datuak Parpatiah (foto: istimewa)
Yus Datuak Parpatiah (foto: istimewa)

Kabar Duka, Budayawan Minangkabau Yus Datuak Parpatiah Meninggal Dunia

Tanjuang Raya (Minangsatu)
- Kabar duka datang dari ranah minang. Minangkabau kehilangan sosok budayawan kharismatik asal Agam, Yus Datuak Parpatiah. Tokoh budaya yang populer lewat monolog nasehat adat tersebut dilaporkan meninggal dunia.

Info diterima redaksi Minangsatu dari berbagai grup WA baik grup WA budaya maupumn literasi.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Telah berpulang kerahmatullah urang tuo, sesepuh kito, Maestro Minangkabau, Tokoh Adat Alam Minangkabau, Angku Yus Datuak Parpatiah Guguak Angku Yusbir, di Rumah Tuo Suku Sikumbang, Jorong Nagari, Kanagarian Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sabtu, 28 Maret 2026, pukul 16.30 WIB," tulis Rudi Yudistira seperti dikutip dari Grup WA Zona Literasi Sumbar.

"Semoga amal ibadah beliau diterima disisi Allah dan ditempatkan yang terbaik. Diampuni segala dosa-dosanya dan diterima amal ibadahnya. Aamiin Yaa Rabbal Aalamin...," harapnya.

Jenazah almarhum akan dikebumikan esok, Minggu (29/03/2026) di dekat Masjid Syekh Amrullah, Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam.

Profil Ringkas

Yusbir "Yus" Datuak Parpatiah (lahir 7 April 1939) adalah budayawan Minangkabau. Ia terkenal dalam upaya pelestarian budaya Minangkabau lewat karyanya dalam bentuk kaset pada dekade 80-an hingga 90-an. Yus Datuak Parpatiah terlahir dengan nama Yusbir dari pasangan Abdul Jalil dan Syafiyah di Nagari Sungai Batang, Agam, Sumatera Barat.

Masa kecilnya dihabiskan di kampung halaman, dengan menamatkan SD pada 1955 dan SMP pada 1958. Ia mengenyam melanjutkan pendidikan SMA di Tanjung Balai Asahan, dan tamat pada 1961.

Yus merantau ke berbagai daerah, hingga akhirnya sampai di Jakarta pada 1976. Ia menjadi panungkek (wakil pemimpin) dengan gelar adat Datuak Rajo Mangkuto mulai tahun 1965. Setelah menikah, ia diangkat menjadi pangulu (pemimpin suku) suku Caniago dengan gelar Datuak Parpatiah pada tahun 1970.

Yusbir menulis drama awalnya hanya untuk mengisi waktu luang. Ia mengajak karyawan konveksi miliknya untuk berlatih drama bersama. Para karyawan inilah yang nanti menjadi cikal bakal kelompok seni Grup Balerong yang dipimpinnya hingga saat ini.

Kenalan Yus asal Jambi, Haji Jhon, mengajak untuk merekam drama miliknya. Di saat itu, dunia rekaman di Sumatera Barat memang hidup meski banyak diisi pop Minang.

Globe Record di Jakarta menjadi dapur rekaman pertama yang merekam drama miliknya dengan bayaran sebesar Rp1 juta pada Januari 1980.

Awal 2000-an, ia lebih banyak merekam monolog. Rekamannya membahas berbagai masalah dan solusi dari ketentuan adat. Bahasa sederhana yang dipergunakan tetapi sarat makna disukai banyak orang di Sumatera Barat.

Karya-karya dari Datuak Parpatiah antara lain, "Di Simpang Duo", "Maniti Buiah" dan "Kasiah Tak Sampai" yang berbentuk drama. "Rapek Mancik" dan "Bakaruak Arang" yang merupakan karya komedi. "Pitaruah Ayah", "Baringin Bonsai", "Diskusi Adat", "Panitahan Baralek", "Kepribadian Minang" serta "Pitaruah Pangulu" yang berbentuk petuah adat dan juga dua film yang diproduksi TVRI.

Mulai 1980 hingga dekade 90-an, karya-karya tersebut beredar dalam bentuk kaset. Puluhan hingga ratusan ribu kaset tiap karya Yus Datuak Parpatiah menyebar ke berbagai pelosok Ranah Minang. Selain itu juga ke komunitas orang Minang di seluruh Indonesia dan berbagai negara.


Wartawan : Redaksi
Editor : melatisan

Tag :Kabar Duka, Budayawan Minangkabau, Yus Datuak Parpatiah, Meninggal Dunia

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com