- Sabtu, 11 April 2026
Jejak Rantau Lintas Pulau: Mengupas Asal Usul Nama Kampung Nias Padang
Jejak Rantau Lintas Pulau: Mengupas Asal Usul Nama Kampung Nias Padang
Oleh: Andika Putra Wardana
Melewati kawasan pusat Kota Padang yang padat, kita akan menemukan sebuah daerah permukiman yang sudah lama akrab di telinga warga setempat dengan sebutan Kampung Nias. Keberadaan wilayah yang letaknya tidak terlalu jauh dari garis pantai ini bukanlah sebuah kebetulan tata kota belaka, melainkan bukti nyata dari ramainya perlintasan manusia di pesisir barat Sumatera pada masa lampau. Di balik hiruk-pikuk aktivitas niaga kota hari ini, asal usul nama Kampung Nias Padang menyimpan riwayat panjang tentang perjalanan para perantau lintas pulau yang akhirnya memilih menetap dan melebur bersama masyarakat Minangkabau.
Bermula dari Ramainya Bandar Pelabuhan
Kedatangan masyarakat dari Pulau Nias ke daratan pesisir Sumatera Barat punya kaitan erat dengan sibuknya aktivitas ekonomi pada abad ke-17 hingga abad ke-19. Saat itu, Muara Padang sedang naik daun menjadi salah satu pelabuhan utama yang dikelola oleh pemerintah kolonial Belanda dan kongsi dagang VOC. Pesatnya pembangunan infrastruktur pelabuhan dan perputaran ekonomi komoditas memicu tingginya kebutuhan akan tenaga kerja tambahan. Dari situlah kelompok masyarakat Nias mulai berdatangan melintasi samudra, baik atas kemauan sendiri untuk mengadu nasib maupun dibawa oleh sistem kerja kolonial pada masa tersebut. Mereka banyak mengambil peran penting sebagai pekerja kasar, buruh angkut, hingga perajin pembuat atap rumbia yang sangat dibutuhkan untuk pembangunan rumah-rumah warga saat itu.
Setelah bertahun-tahun mencari nafkah di lingkungan bandar pelabuhan, para pekerja ini tidak lantas kembali ke pulau asalnya. Banyak dari mereka yang pelan-pelan memutuskan untuk menetap dan membangun permukiman permanen bersama keluarganya. Pada fase awal, mereka banyak bermukim di kawasan yang menempel dengan pinggir pantai seperti Purus. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya populasi, pemerintah kolonial pada abad ke-19 mulai mengelompokkan wilayah permukiman berbasis etnis untuk memudahkan administrasi kependudukan perkotaan.
Pengelompokan inilah yang kemudian melahirkan sebuah kawasan permukiman sentral yang secara resmi maupun lisan dinamakan sebagai Kampung Nias, sebuah penanda identitas abadi dari mana penghuni mayoritas kawasan tersebut berasal.
Menyerap Adat dan Meninggalkan Jejak Bahasa
Hal yang paling menarik dari perjalanan panjang komunitas ini adalah bagaimana mereka berhasil beradaptasi dengan sangat luwes di tanah Minang. Meskipun memiliki akar tradisi yang sangat berbeda, interaksi sosial yang erat membuat masyarakat keturunan Nias di Padang menyerap banyak nilai-nilai lokal. Mereka tidak hanya fasih berbicara menggunakan dialek Minang pesisir, tapi juga mengadopsi tatanan sosial khas Minangkabau seperti kehadiran figur niniak mamak di dalam struktur perkauman mereka di tanah rantau.
Di sisi lain, meski sudah sangat membaur, perantau ini tetap meninggalkan warisan identitas aslinya yang masih awet di peta Kota Padang lewat penamaan beberapa daerah. Kalau kita telusuri secara bahasa, ada kawasan di Padang yang namanya justru dipinjam dari bahasa Nias, seperti daerah Hiligoo yang berarti bukit lalang, atau kawasan Banuaran yang bermakna kampung mereka.
Keberadaan kawasan permukiman ini seolah menjadi monumen hidup yang mengingatkan kita semua akan karakter inklusif kota ini. Padang sejak ratusan tahun lalu tidak hanya dibangun oleh satu entitas tunggal, melainkan tumbuh dinamis berkat keringat dan kerukunan berbagai etnis perantau yang menjadikan kota ini sebagai rumah kedua yang nyaman.
Editor : melatisan
Tag :Jejak Rantau, Lintas Pulau, Mengupas, Asal Usul, Nama Kampung Nias, Padang
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
MAKNA SIMBOLIK SUNTIANG DALAM PERKAWINAN MINANGKABAU
-
ANAK PISANG DAN HUBUNGAN KEKERABATAN DALAM ADAT MINANGKABAU
-
MALAKOK, TRADISI PENDATANG MENJADI BAGIAN DARI SUKU DI MINANGKABAU
-
TANAH ULAYAT DAN KONFLIK KEPEMILIKAN DI NAGARI MINANGKABAU
-
SEJARAH GELAR DATUK DAN PROSES PEWARISANNYA DALAM ADAT MINANGKABAU
-
MAHASISWA KKN UNP 2026 SUSUN 23 PETA UNTUK MENDUKUNG PEMETAAN WILAYAH NAGARI BUNGO TANJUANG
-
MAHASISWA KKN UNP 2026 EDUKASI MASYARAKAT JORONG KAPUAH TENTANG PENCEGAHAN STUNTING MELALUI GIZI SEIMBANG DAN PHBS
-
RME SUDAH DIGUNAKAN, TETAPI APAKAH SUDAH BENAR-BENAR BERMANFAAT?
-
PERAWATAN GIGI ANAK TANPA RASA TAKUT: MENGENAL KEDOKTERAN GIGI MINIMAL INVASIF
-
MAHASISWA KKN REGULER II UNAND DEMONSTRASIKAN PEMBUATAN PUPUK BOKASHI BERSAMA KWT KORONG KOTO PANJANG