HOME VIRAL UNIK

  • Rabu, 25 Februari 2026

Jejak Intelektual Minangkabau Di Timur Tengah: Dari Surau Ke Kampus Al-Azhar

Jejak Intelektual Minangkabau di Timur Tengah: Dari Surau ke Kampus Al-Azhar

Oleh: Avina Amanda


Di sejumlah surau tua di Sumatera Barat, nama-nama ulama yang pernah belajar di Mekkah dan Kairo masih disebut dalam pengajian. Tradisi itu bukan tanpa alasan. Jejak Intelektual Minangkabau di Timur Tengah tercatat kuat dalam sejarah pendidikan Islam di ranah ini, terutama sejak akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20, ketika banyak pelajar Minang menuntut ilmu di Haramain dan Mesir.

Mobilitas keilmuan itu melahirkan pembaruan pemikiran, lembaga pendidikan modern, serta jaringan ulama yang menghubungkan Minangkabau dengan pusat-pusat studi Islam dunia.

Mahmud Yunus dan Pembaruan Pendidikan

Salah satu tokoh penting dalam Jejak Intelektual Minangkabau di Timur Tengah adalah Mahmud Yunus. Lahir di Sungayang, Tanah Datar, ia melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar di Kairo pada 1920-an. Di sana, ia mendalami ilmu agama sekaligus menyerap gagasan pembaruan pendidikan Islam.

Sekembalinya ke tanah air, Mahmud Yunus terlibat aktif dalam pengembangan kurikulum madrasah dan pendidikan agama yang lebih sistematis. Ia juga dikenal sebagai penulis buku pelajaran agama yang dipakai luas di sekolah-sekolah dan madrasah di Indonesia. Catatan sejarah pendidikan nasional menempatkannya sebagai salah satu perintis integrasi sistem pendidikan agama dan pendidikan umum.

Rahmah El Yunusiyah dan Pengakuan dari Al-Azhar

Jejak intelektual itu juga terlihat pada kiprah Rahmah El Yunusiyah. Pendiri Diniyah Puteri Padang Panjang ini tidak hanya membangun lembaga pendidikan perempuan, tetapi juga menjalin hubungan akademik dengan Timur Tengah.

Pada 1957, Rahmah menerima gelar kehormatan dari Universitas Al-Azhar di Kairo atas kontribusinya dalam pendidikan Islam bagi perempuan. Pengakuan tersebut menjadi catatan penting dalam sejarah hubungan intelektual Minangkabau dengan Timur Tengah, sekaligus menunjukkan bahwa gagasan pendidikan dari ranah mendapat perhatian di pusat studi Islam dunia.

Buya Hamka dan Pengaruh Keilmuan Haramain

Nama Hamka juga tak dapat dilepaskan dari Jejak Intelektual Minangkabau di Timur Tengah. Pada usia muda, Hamka merantau ke Mekkah untuk memperdalam ilmu agama. Pengalaman intelektualnya di sana memengaruhi cara pandangnya terhadap pembaruan Islam dan dakwah.

Karya tafsirnya, Tafsir Al-Azhar, menjadi salah satu rujukan penting di Indonesia dan Asia Tenggara. Jejaring ulama yang terbentuk melalui studi di Haramain turut memperkuat arus pertukaran gagasan antara Minangkabau dan Timur Tengah pada abad ke-20.

Tradisi Merantau Ilmu yang Berkelanjutan

Jejak Intelektual Minangkabau di Timur Tengah tidak berhenti pada satu generasi. Sejak abad ke-19, pelajar Minang tercatat belajar di Mekkah, Madinah, hingga Kairo, lalu kembali mendirikan surau, madrasah, dan sekolah modern di kampung halaman. Pola ini memperlihatkan kesinambungan antara tradisi merantau dan semangat menuntut ilmu.

Dokumen sejarah pendidikan Islam di Sumatera Barat menunjukkan bahwa jaringan keilmuan itu berperan besar dalam lahirnya pembaruan pemikiran, sistem madrasah modern, serta tumbuhnya tradisi literasi agama di ranah Minang. Hingga kini, hubungan akademik dengan Timur Tengah tetap menjadi bagian dari perjalanan panjang intelektual Minangkabau, menghubungkan surau-surau di nagari dengan pusat studi Islam dunia.


Wartawan : Avina Amanda
Editor : melatisan

Tag :Jejak Intelektual, Minangkabau, Timur Tengah, Surau, Kampus Al-Azhar

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com