HOME OPINI OPINI

  • Minggu, 3 Juni 2018

Hormati Hak Rakyat Yang Menuntut Keadilan

Rinaldi
Rinaldi

HORMATILAH RAKYAT YANG MENUNTUT KEADILAN

Oleh: Rinaldi

Ada suatu kisah yang mungkin bisa jadi pembelajaran bagi kita semua. Suatu saat seorang Raja difitnah oleh rakyatnya sebutlah namanya Fulan dengan berita yang tidak benar. Sang Raja telah berusaha sabar dengan sesabar-sabarnya dan berserah diri kepada Allah SWT. Lalu disuatu waktu sang pemfitnah menyadari kekeliruannya dan dia merasa menyesal serta ingin meminta maaf kepada sanga Raja.

Singkat cerita si Fulan akhirnya ketemu dengan sang Raja. Lalu Fulan minta maaf dan Raja memaafkannya. Namun setelah itu ada permintaan sang Raja yang membuat Fulan heran.

"Saya telah memaafkan kamu Fulan, namun ada satu permintaan saya dan itu tidak berat. Permintaan saya, tolonglah cari sekarung kapas dan bawa kesini" kata Raja.

Si Fulan merasa senang, ternyata permintaan Raja tak berat-berat amat. Lalu dicarilah kapas sekarung dan dibawa kehadapan sang Raja. Sang Raja lalu membawa di Fulan kesebuah menara yang anginnya kencang. Setelah itu disuruhnya Fulan membuka karung berisi kapas dan menebarkannya ditengah angin. Karena angin kencang, dengan cepat kapas bertebaran kemana-mana.

Kemudian Raja meminta kepada si Fulan untuk mengumpulkan lagi kapas tersebut dan memasukkanya ke karung. Tentu saja si Fulan kaget dan mengatakan tidak mungkin.

"Fulan, begitulah fitnah. Menyebarkannya gampang sekali, seperti engkau menebarkan sekarung kapas ditengah angin. Lalu untuk memperbaiki fitnah yang telah engkau tebarkan sama halnya ibarat engkau ingin mengumpulkan kapas yang telah tersebar itu" ucap sang Raja.

Sahabatku semua...

Rasanya tidak ada satupun kita sebagai manusia normal, senang dan bergembira ria menerima dirinya dituduh mencuri (korupsi). Mungkin kita yang dituduh menjadi tidak enak makan, tidak enak tidur bahkan tidak bisa bekerja maksimal. Jujur sajalah, sehebat-hebatnya mental kita sebagai manusia, pasti akan terganggu. Entah kalau rasa dan fikiran kita tidak normal lagi.

Bayangkan, jika kita dituduh mencuri, korupsi tanpa adanya pembelaan langsung dari yang dituduh, maka bisa jadi tuduhan itu menjadi benar. Orang-orang akan menganggap berita yang tersebar tersebut akan jadi benar. Malah ketika yang difitnah melakukan pembelaan mati matian pun belum tentu sebagian orang menerima pembelaan yang dituduhkan itu. Apalagi penyebaran tuduhan tersebut lebih cepat lagi ke mana mana melalui medsos yang mendunia. 

Biasanya kalau tuduhan itu ke pejabat publik, akan menjadi “berita hangat dan sexy” untuk disebarluaskan. Al hasil, tuduhan bisa melekat kepada diri yang dituduh sebagai pencuri tanpa kompromi. Melekatlah cap sebagai pencuri. Wahai, gampang sekali cap dan stempel itu melekat.. 

Adakah sang pemfitnah membayangkan perasaan keluarga yang dituduh? Anak anaknya, istrinya, saudaranya, ponakannya, ayahnya, ibunya, adik dan kakaknya, sahabatnya dan keluarga besarnya-pun menanggung malu. Tidakkah terbayang oleh penuduh bagaimana teman-teman sekolah anak anaknya berkomentar? Rasa malu dan beban mental ini, pernahkan dirasakan oleh anda wahai sang penuduh? Mungkin anda bisa bayangkan sebentar saja bagi yg belum pernah dituduh, agar sedikit bisa merasakan dan memahami keadaan orang jika dituduh seperti itu. Sakit.. ya memang sakit. Kalau sakit hanya pribadi yang dituduh ndak masalah, namun karena melibatkan seluruh keluarga besarnya, disanalah kesakitan dan beban hati itu muncul.

Seiring dengan berjalannya waktu, berita tuduhan tersebut akan menyebar kemana mana tanpa klarifikasi dan pembelaan. Bisa dibayangkan, bagaimana perasaan sang tertuduh pencuri itu ketika bergaul dengan teman-temannya. Sang tertuduh pasti akan salah tingkah dan risih. Yang dituduh merasa setiap orang yang memandangnya penuh dengan tatapan tuduhan pula. Seakan-akan setiap orang yang menatapnya berkata: "kamu maling ya". Padahal belum tentu orang-orang yang menatapnya berkata seperti itu. Seolah-olah seluruh dunia mencemoohkannya, seluruh dunia telah menghakiminya, seluruh dunia telah menuduhnya, seluruh dunia telah mencapnya sebagai "maling".

Duhai, alangkah sakitnya beban rasa hati yang seperti ini. Saya sendiripun tak sanggup membayangkan jika terjadi fitnah seperti itu. Lalu, apakah yang menuduh telah menbayangkan kondisi seperti itu? Bagaimana kalau yang menuduh jika suatu saat nanti juga akan dituduh menjadi maling? Sanggupkah dia menerima beban psikologis itu tiap hari? Sanggupkah dia menyurukkan mukanya jika berhadapan dengan sahabat, rekan dan orang lain?

Oleh karena itu, dengan adanya beberapa pemberitaan yang tendensius, subjektif dari salah satu media, langsung menuduh seseorang korupsi yang tanpa data, fakta, bukti dan anehnya hanya dari ucapan seseorang yang tak berdasar, kemudian dikutip dan disebarluaskan tanpa etika dan norma pemberitaan yang benar.  Itulah yang terjadi kini. Tanpa klarifikasi, langsung menjustifikasi melalui judul berita nan bombastis. Judulnya keren, hebat dan sexy. Bangga dia menghantam seseorang dengan judul pemberitaan yang hebat itu. Senang dia, tersenyum-seyum dia melihat orang yang diberitakan kesakitan, menderita. Astaghfirullah. Padahal informasi yang dia dapat hanya dari seseorang dan secara sefihak pula. Merasa hebat benar dia dengan berita nan bombastis itu. Merasa superman pula mereka, karena memberitakan orang penting. 

Ah... begitu rendahnya kebanggaan seperti itu. Saya membayangkan, setelah berita itu menyebar, mereka akan duduk di warung kopi, bercerita dan ketawa terbahak-bahak sambil menyeruput kopi serta memantik sebatang rokok dijemarinya nan zalim membicarakan orang yang mereka beritakan.  Ya zalim, karena melalui jarinya itu dia mengetik untuk membuat sebuah berita. Senang dia dengan kepedihan dan penderitaan orang itu. Bak serasa pahlawan dia, bak superstarlah dia. Bak bintang film dia, bak jadi lakon dia... Wana'uzubillah

Rendah... sungguh rendah moralitas seperti itu. Berbahagia dia diatas penderitaan orang lain. Apatah lagi, itu hanya fitnah belaka.

Lalu disaat yang tertuduh mau bela diri, kok ribut? Apa ndak boleh tertuduh bela diri? 

Duh biyung... 

Yang celakanya lagi, ada orang-orang yang menangguk di air keruh, memanfaatkan moment itu untuk dapat panggung. Biar tambah top pula, maka bergerombolanlah mereka membela sang penuduh. Yang penting melawan dan bela dulu, sebab yang dilawankan orang penting. Bisa tenar pula kita nanti mah...  Wow...

Kemudian asyiknya, sang oknum penuduh bangga dengan kesalahannya dan selalu berlindung dengan hak imunitasnya sebagai wartawan. Tapi biarlah, itu urusan karya jurnalistik, biarlah hal ini diurus oleh dewan pers.

Namun pribadi yang tidak dalam menjalankan profesi wartawan dan memberitakan bukan di media/pers tapi di akun pribadinya, tentu harus bertanggung jawab. Siapa berbuat, dialah yang bertanggung jawab. 

Hidup akan indah bila kita tidak mudah menuduh tanpa dasar dan bekerja secara profesional. Hidup akan aman bila kita ikuti aturan dan norma. Marilah saling menghargai hak kita masing2. Tentu hadirnya hukum untuk melindungi hak rakyatnya perlu dijaga dan perlu ditegakkan demi terwujudnya masyarakat yang tertib dan damai.

Hukum telah mengatur semuanya. Rakyat menuntut keadilan tanpa anarkhis dan tanpa menghakimi sendiri, perlu dihormati. Biarkan proses hukum berjalan. Hormatilah rakyat yang menuntut keadilan, jangan dihambat atau dicitrakan negatif rakyat yang sedang menuntut haknya. 

Anda tidak setuju, bahkan anda membela yang salah atau anda punya beda pendapat. Silahkan! Tapi jangan dibuat cerita pembungkaman dan menyerang kebebasan pers kepada rakyat yang sedang menuntut haknya.

Anda rasakan pula bila sekiranya anda sendiri dituduh mencuri. Bagaimana perasaan dan sikap anda?

Saya doakan anda tidak difitnah, karena saya yakin anda tak akan sanggup. Kena fitnah itu berat kawan,  anda tak akan sanggup.

Percayalah....


Tag :#OpiniKeadilan#

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com