- Jumat, 15 November 2024
Delapan Macam Sumando Di Minangkabau
Delapan Macam Sumando di Minangkabau
Oleh: Andika Putra Wardana
Dalam budaya Minangkabau, peran seorang sumando (menantu laki-laki) memiliki posisi penting dan beragam. Seorang sumando idealnya mampu menjaga keharmonisan rumah tangga dan menghormati keluarga istrinya. Namun, terdapat berbagai tipe sumando dengan karakteristik yang berbeda, baik positif maupun negatif. Berikut ini adalah beberapa tipe sumando yang dikenal dalam budaya Minangkabau.
1.Sumando Ayam Gadang atau Sumando Buruang Puyuah
Sumando ini diibaratkan seperti ayam besar atau burung puyuh. Ia hanya menjalankan peran sebagai ayah biologis tanpa memenuhi tanggung jawab lainnya sebagai suami dan ayah yang seharusnya peduli. Sumando jenis ini tidak mencari nafkah atau peduli pada kesejahteraan anak dan istrinya, sehingga dianggap tidak memiliki tanggung jawab yang sebenarnya.
2. Sumando Langau Hijau
Langau hijau adalah simbol dari ketidakpedulian terhadap kebersihan dan keteraturan. Sumando ini tidak menjaga kebersihan diri atau lingkungannya, serta berperilaku sembarangan layaknya lalat hijau yang hinggap dan bertelur di tempat kotor, lalu pergi begitu saja. Ia sering meninggalkan istrinya tanpa jaminan, bahkan di saat istrinya sedang hamil. Tipe sumando ini juga dikenal sebagai orang yang tidak memiliki pegangan hidup yang jelas dan sering mencari istri baru.
3. Sumando Kacang Miang
Miang dalam bahasa Minangkabau berarti gatal. Sumando tipe ini membuat orang-orang di sekitarnya merasa tidak nyaman atau terganggu. Sifatnya suka menghasut, memfitnah, dan menjadi penyebab kericuhan di lingkungan tempat tinggalnya. Seperti kacang miang yang menimbulkan gatal, sumando ini menimbulkan keresahan di masyarakat dan kerap menjadi biang masalah.
4. Sumando Lapiak Buruak
Lapiak berarti tikar, dan buruak berarti buruk atau tidak berguna. Sumando lapiak buruak adalah pria yang enggan keluar rumah untuk bekerja atau membantu ekonomi keluarga. Ia tidak memiliki inisiatif untuk mencari nafkah melalui bercocok tanam, berdagang, atau usaha lainnya. Dalam pandangan masyarakat Minangkabau, sumando seperti ini dianggap tidak memenuhi peran yang seharusnya.
5. Sumando Kutu Dapua
Sumando jenis ini lebih banyak menghabiskan waktu melakukan pekerjaan rumah seperti memasak dan mencuci piring, yang biasanya dilakukan oleh kaum perempuan dalam budaya Minangkabau. Tipe ini dianggap kurang ideal, karena tanggung jawab utama sumando seharusnya adalah mencari nafkah di luar rumah untuk kesejahteraan keluarga.
6. Sumando Apak Paja
Sumando apak paja adalah sumando yang hanya diambil sebagai simbol keturunan saja. Ia tidak peduli pada kondisi ekonomi rumah istrinya, bahkan sering mendapatkan harta atau uang dari pihak keluarga istri. Ia dianggap sebagai sumando yang tidak mandiri dan bergantung pada keluarga istrinya dalam aspek materi.
7. Sumando Niniak Mamak
Tipe ini adalah contoh sumando yang ideal dan dihormati. Sumando niniak mamak adalah sosok yang penuh tanggung jawab, sopan, dan berperilaku baik. Ia menjadi teladan bagi keluarga istrinya dan selalu siap membantu. Tipe ini mencerminkan karakter sumando yang diinginkan dalam budaya Minangkabau, yaitu menjaga keharmonisan dan menghormati pihak keluarga istri.
8. Sumando Gadang Malendo
Sumando ini memiliki sikap yang bisa merusak tatanan keluarga Minangkabau. Ia merasa sebagai kepala keluarga besar, mengabaikan peran mamak dan kemenakan yang sebenarnya memiliki posisi penting dalam keluarga Minang. Sumando jenis ini dianggap melanggar adat, karena ia berusaha memimpin dan mengambil alih peran keluarga perempuan dalam acara-acara tertentu, yang bisa menimbulkan konflik.
Tag :#Sumando #Minangkabau
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
KOPI MINANG, PERMATA GASTRONOMI YANG LAYAK JADI WAJAH WONDERFUL INDONESIA
-
PERTUMBUHAN EKONOMI SUMBAR MENGUAT DI AWAL 2026
-
HARAPAN DAN REALITAS PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI INDONESIA: ANTARA NARASI KEMAJUAN DAN KRISIS STRUKTURAL
-
MEMPERCEPAT PEMULIAAN UNTUK MASA DEPAN KOPI SUMATERA BARAT YANG BERKELANJUTAN
-
FENOMENA BARU KAWASAN WISATA ALAHAN PANJANG YANG MERISAUKAN
-
DARI PASAR KE TANAH SUCI: KISAH PAK DAS, BURUH ANGKUT BATUSANGKAR YANG MENJEMPUT KEMULIAAN DI KURSI BISNIS GARUDA
-
KOPI MINANG, PERMATA GASTRONOMI YANG LAYAK JADI WAJAH WONDERFUL INDONESIA
-
PERTUMBUHAN EKONOMI SUMBAR MENGUAT DI AWAL 2026
-
HARAPAN DAN REALITAS PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI INDONESIA: ANTARA NARASI KEMAJUAN DAN KRISIS STRUKTURAL
-
KARTINI DI RANTAU: KETIKA SEMANGAT EMANSIPASI BERTEMU FALSAFAH BUNDO KANDUANG